Bangkitmedia.com, BANTUL – Menyambut datangnya bulan suci Ramadan, umat Islam diajak untuk melakukan persiapan yang matang, tak hanya secara fisik tetapi juga spiritual.
Hal itu disampaikan KH Edy Musoffa SAg MHI dalam tausiyahnya pada acara Mujahadah dan Pengajian Rutin di Masjid Nawwal Muttaqin, Daraman, Srimartani, Piyungan, Bantul, Sabtu (14/2/2026).
Dalam mukadimahnya, KH Edy mengingatkan bahwa menyambut Ramadan harus disertai rasa gembira dan kesiapan yang sungguh-sungguh. “Marhaban ya Ramadan, bukan sekadar ucapan, tetapi wujud kelapangan hati dan kebahagiaan menyongsong bulan mulia,” ujarnya.
Ia mengilustrasikan pentingnya persiapan dengan analogi seorang petinju profesional.
“Petinju Indonesia Krisjon saja untuk mempersiapkan beberapa ronde di ring tinju membutuhkan waktu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun untuk menjadi juara di kelasnya. Apalagi kita yang akan memasuki gerbang kemuliaan Ramadan,” ucapnya di hadapan para dewan guru, komite madrasah, dan wali santri MI Sananul Ula.
Menurutnya, setidaknya ada empat hal yang perlu diperhatikan dalam menyambut Ramadan. Pertama, Tahsinusy-Syiyam atau memperbaiki kualitas puasa. Puasa tidak cukup hanya menggugurkan kewajiban, tetapi harus dimaknai dengan kesadaran hati agar bernilai dan mengantarkan pada derajat takwa.
Kedua, menjaga salat lima waktu berjamaah di masjid atau musala. Ramadan harus menjadi momentum memperbaiki kualitas salat dengan menghadirkan mahabbah (cinta) kepada Allah SWT. Dengan cinta, salat akan terasa lebih khusyuk, tenang, dan tidak tergesa-gesa.
KH Edy mengutip firman Allah SWT dalam Surah Al-Fath ayat 4,“Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin untuk menambah keimanan atas keimanan mereka…”
Ayat tersebut menegaskan, bahwa ketenangan (sakinah) menjadi buah dari keimanan yang terus ditingkatkan melalui ibadah yang berkualitas.
Ketiga, akrab dengan Alquran. Ia mendorong jamaah untuk menjadikan Ramadan sebagai momentum intensif membaca Alquran. Membaca satu huruf dinilai sepuluh kebaikan, terlebih di bulan Ramadan yang penuh keberkahan.
Ia menganjurkan target satu juz per hari, yang dapat dicicil seperempat juz setiap selesai salat, sehingga diharapkan dapat khatam 30 juz selama Ramadan.
Keempat, memperbanyak sedekah sesuai kemampuan masing-masing. Ramadan menjadi waktu terbaik untuk berbagi, termasuk berpartisipasi dalam penyediaan makanan berbuka puasa.
“Pahalanya sama seperti orang yang berpuasa,” jelasnya.
Pada akhir tausiyah, KH Edy menegaskan pentingnya memaksimalkan momentum Ramadan. “Kalau bukan di bulan Ramadan, di bulan apa lagi kita bisa berpuasa dengan baik, salat dengan khusyuk, mengkhatamkan Alquran, dan bersedekah untuk yang membutuhkan?” tuturnya.
Pengajian rutin tersebut berlangsung khidmat dan menjadi penguat spiritual bagi para peserta dalam menyambut Ramadan yang tinggal menghitung hari. (*)








