Para Kritikus yang Ketinggalan Zaman

Posted on

Sekarang kita hidup di zaman yang berbeda dari zaman sebelumnya. Para aktivis atau intelektual yang dulu dikenal kritis terlihat lelah mematutkan diri. Sedemikian rupa mereka ingin terlihat tetap kritis, tetapi yang mencolok di depan mata adalah pandangan-pandangan yang justru miris dan ironis.

Misalnya satu di antara mereka menyamakan demo emak-emak pendukung Prabowo dengan Suara Ibu Peduli yang tampil gagah pada 1998. Ada juga yang menilai pembatasan akses medsos dua-tiga hari kemarin sebagai pemberangusan kebebasan yang tidak termaafkan. Di samping itu beberapa menyebut tindakan aparat kepolisian menghalau para perusuh di depan Bawaslu kemarin sebagai tindakan represif sebagaimana dulu Orde Baru melakukannya terhadap para demonstran.

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

Mereka yang berpandangan demikian adalah kritikus yang terpandang–setidaknya mereka merasa demikian. Mereka pintar pada masanya, tetapi jelas sekali telah ketinggalan zaman. Mereka memperjuangkan demokrasi dan HAM, namun anehnya merasa tidak yakin kedua norma tersebut bisa sungguh dihadirkan.

Baca Juga >  China Cabut Status Lockdown, AS Positif 43.925 Jiwa dan 547 Jiwa Meninggal

Akibatnya mereka tidak pernah melihat kemenangan Jokowi sebagai kemenangan demokrasi. Pikiran mereka terlalu rumit, sehingga tidak mampu mengakui adanya perubahan besar di negeri ini. Mereka selalu melihat ada udang di balik batu, seolah Jokowi hanyalah pion yang dimainkan oleh kekuatan-kekuatan raksasa yang itu-itu saja.

Mungkin mereka seperti itu karena merasa suaranya tidak didengarkan. Padahal mereka adalah orang-orang yang kenyang dengan pengetahuan dan pengalaman. Harusnya, sekali lagi mungkin, bangsa ini ikut saja pandangan-pandangan mereka yang seluas samudera.

Masalahnya zaman telah berubah cepat, bahkan terlalu cepat. Para kritikus itu sesungguhnya masih bengong: kita hidup di zaman apa sih? Bagaimana bisa rakyat bergerak sejauh ini sementara mereka sendiri masih cuma ngopi-ngopi di Cikini, Menteng, dan Gondangdia dari dulu hingga sekarang?

Oleh: Amin Mudzakir, peneliti LIPI.