Dulu, Ketika Gus Dur dilengserkan dari jabatannya sebagai presiden, saya berangkat ke Jakarta dengan membawa banyak ketapel dan batu kerikil yang sudah diberi mantra-mantra khusus. Saya langsung bergabung dengan pasukan berani mati yang ada di DPR, banyak orang saat itu berkumpul terlihat ganas dengan membawa pedang dan samurai terhunus menunggu intruksi.
Di lain hari saya bergabung dengan masa yang berkonsentrasi di depan istana. Saya berbincang bincang dengan salah satu aktifis kiri saat itu, rencananya masa akan tetap tinggal di istana bersama Gus Dur sampai titik darah penghabisan.
Namun nyatanya tidak demikian, masa yang berkumpul di istana disuruh pulang dan tidak boleh melakukan tindak kekerasan. Pada esok harinya Gus Dur keluar dari istana disambut dengan gema sholawat dan oleh berbagai ragam etnis dengan tanpa meninggalkan korban nyawa satupun.
Saya tetap yakin bahwa pelengseran itu adalah inkonstitusional, dalam term agama disebut bughot dan wajib diperangi, namun saya yakin pula Gus Dur sangat Cinta NKRI, punya kaidah dar’ul mafasid muqoddamun ala jalbil masholih dan yang lebih penting dari politik adalah kemanusiaan.
Dan kini saya dipertontonkan oleh banyaknya orang yang jihad siap mati bela Prabowo atas kekalahan Prabowo dalam Pilpres. Beda sekali dengan konteks siap mati untuk bela Gus Dur. saya yakin bahwa dalam konteks ini bukanlah jihad sebagaimana yang dipahami dalam Islam sehingga jika mati tidak disebut mati syahid. Namun sebaliknya dari narasi narasi dan tindakan-tindakan yang ada nampak jelas mereka dikategotikan musuh negara, Namun syukurlah, Prabowo-Sandi mau meredam situasi dan mau mengambil jalan konstitusional. Walau tidak sedalam Gus Dur dalam kaidah kaidah keislamanya namun saya masih yakin dan berharap Prabowo-Sandi punya rasa patriot, Cinta NKRI dan nasionalisme.
Yang menarik dari setiap proses transisi kepemimpinan dari lengsernya Suharto dan Gus Dur serta Pilpres sekarang ini adalah peran Amin Rais. Keyakinanku hingga hari ini bahwa Amin Rais adalah orang yang tidak bisa dipercaya dan berbahaya.
Oleh: Basyir Fadlullah, Santri Gus Dur 06








