gus baha' ngaji

Ngaji Gus Baha’: Tidak Ada Syarat Ikhlas dalam Menjalankan Maksiat

Posted on

Kalau orang menjalankan ta’at amal kebaikan, maka syaratnya ia harus ikhlas. Kalau menjalankaan ketaatan seperti sholat, atau sedekah yang diterima itukan dilipatgandakan 10 kali lipat, tapi syaratnya banyak, diantaranya halal, ikhlas, tidak ada kebutuhan yang mendesak.

Demikian salah satu contoh yang disampaikan Gus Baha’ dalam salah satu ngajinya. Untuk menjalani kebaikan, syarat ikhlas itu paling utama.

“Misalkan anak saya dirawat di rumah sakit dan membutuhkan biaya, tetapi malah uang saya malah saya pakai sedekah ke orang lain, itu kan tidak diridoi Allah. Jadi orang kok sedekah tapi lupa anak. Jadi sangat banyak syaratnya agar kebaikan diterima Allah,” tegas Gus Baha’.

Ini berbeda dengan kemaksiatan. Tanpa harus ikhlas, tetap saja dihitung sebagai maksiat.

“Tapi kalau maksiat tidak ada syaratnya langsung diterima. Jadi kesalahan dan kebaikan, potensi paling kuat diterima adalah kesalahan kerena tanpa syarat. Misalkan mencuri tapi tidak ikhlas ya tetap dicatat sebagai kesalahan.Maka dari itu kita harus hati-hati karena 1 kesalahan langsung diterima tanpa syarat,” tutur Gus Baha’.

“Misalnya lagi nikah, nikah itu mengikat. Mengikat itu banyak syaratnya, diantaranya: wali dari perempuan, dua saksi, ijab dan qobul. Karena mengikat itu sulit jadi harus banyak syarat. Tapi untuk cerai, kamu di kamar menceraikan langsung sah meskipun tanpa saksi,” lanjutnya.

Ketaatan kepada Allah itu Tidak Boleh Ditawar

Gus Baha’ juga menegaskan bahwa kalau ada perintah dari Allah, kita ya harus langsung sami’ na wa ato’na.

“Suatu ketika dalam peristiwa turunnya salah satu ayat dalam surat Al Baqoroh. Dalam ayat tersebut menjelaskan bahwa setiap keburukan yang terlintas dalam hati akan dihisab oleh Allah. Ketika Rasulullah menyampaikan ayat tersebut pada para sahabat,diantara sahabat ada yang protes.

“Ya Rasul, jika kami diperintahkan untuk jihad, kami siap, sholat siap, apa saja siap. Tapi kalau keburukan yang hanya terlintas di hati saja akan dihisab sebagai keburukan, kita tidak akan mampu ya Rasul.” protes para sahabat.

Baca Juga >  Ngaji Ushul Fiqh Bersama KH Afifuddin Muhajir (2)

“Quluu sami’na wa ato’na, jadi mampu atau tidak harus sami’na wa ato’na.” jawab Rasul.

Rasul menjelaskan agar umatnya tidak seperti bani Israil. Jika diberi perintah yang tidak logis langsung protes dengan berkata, “Ya Allah kenapa harus ini, kan bisa yang lain yang lebih mudah”. Seolah-olah lebih hebat dari Allah.

Kisah Gus Baha’ membuat para santri jadi paham dalam mencerna penjelasan suatu ayat. Selanjutnya, Gus Baha’ menegaskan kisah itu dalam uraian yang sangat menyejukkan

“Nah ternyata apa, akhirnya Allah malah membatalkan ayat tersebut dengan ayat selanjutnya bahwa Allah tidak akan membebani hamba-Nya dengan sesuatu yang di luar kemampuan seorang hamba,” tegas Gus Baha’.

Gus Baha’ kembali membuat tamsil, bahwa ketika kita diperintahkan naik ke bulan, maka katakan siap saja. Ini karena iman bahwa Allah mampu menaikkan kita ke bulan. Allah hanya menginginkan kita berkata “siap” bukan soal mampu atau tidak.

“Kalau kita protes dan berkata “apa mungkin ya Allah” berarti kita menghina Allah,” tegas Gus Baha’.

“Dalam kisah lain, Allah akan mengutus manusia sebagai wakil Allah di bumi untuk mengelolanya. Mendengar itu malaikat awam langsung protes, kenapa manusia yang selalu maksiat yang diberi tugas? Kenapa bukan malaikat saja yang selalu taat kepada Allah?,” kata Gus Baha’.

“Allah lebih tahu dari apa yang disangkakan para malaikat. Intinya kita hanya perlu taat pada setiap apa yang diperintahkan Allah tanpa harus tahu terlebih dahulu alasan atau hikmah di balik perintah tersebut,” pungkas Gus Baha’. (Abu Umar/Bangkitmedia.com)