Syarat Bolehnya Menjual Kulit Hewan Kurban

Syarat Bolehnya Menjual Kulit Hewan Kurban

Posted on

Syarat Bolehnya Menjual Kulit Hewan Kurban.

Setiap tahun menjelang Idul Adha, pertanyaan mengenai hukum menjual kulit hewan kurban selalu muncul. Sebagian masyarakat juga masih banyak yang masih bingung tentang perlakuan terhadap kulit hewan kurban. Ada sebagian panitia kurban yang langsung menjual kulit hewan kurban, bahkan kepala dan kaki hewan kurban juga dijualnya. Setelah dijual, ada yang kemudian membelikan daging sapi di pasar lalu dibagikan kepada masyarakat.

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

Ada pula yang hasil penjualan kulit, kepala dan kaki hewan kurban tersebut digunakan untuk ongkos penyembelihan, misal untuk upah penyembelihnya, pengelet dan panitia lain yang ikut membantu dalam proses penyembelihan dan pembagian daging kurban. Bahkan ada pula yang hasil penjualan kulit, kepala dan kaki hewan kurban itu dibelikan hewan kurban lagi untuk kurban tahun berikutnya. Ada pula yang memanfaatkan hasil penjualan kulit, kepala dan kaki hewan kurban untuk pembelian sarana prasarana masjid, bahkan ada pula yang menggunakannya untuk membeli seragam kaos untuk panitia tahun berikutnya, dan masih banyak lagi cara memperlakukan kulit hewan kurban.

Itu adalah fenomena yang ada di masyarakat. Masalah kurban adalah masalah syariat. Oleh karenanya, penyelenggaraan kurban hendaknya didasarkan pada syariat yang benar. Jika tidak maka penyembelihan hewan kurban yang dilakukannya tidak akan bernilai kurban atau tidak sah.

Salah satu tujuan berkurban adalah untuk memberi makan orang yang sengsara dan fakir. Namun demikian, pada jaman sekarang, orang yang sengsara dan fakir juga banyak yang enggan untuk memasak kulit dan kaki hewan kurban karena sudah memperoleh daging yang cukup dan mudah cara memasaknya. Untuk memasak kulit hewan kurban butuh penanganan yang tidak mudah. Sedangkan kepala sapi misalnya, jika diberikan kepada salah satu orang faqir, kadang-kadang menimbulkan kecemburuan sosial. Sehingga panitia ada yang merasa kesulitan dalam menangani masalah ini. Dalam artikel ini akan dijelaskan hukum menjual kulit (termasuk kepala dan kaki hewan kurban).

Secara umum, ada dua pendapat tentang penjualan kulit, kepala dan kaki hewan kurban, yaitu:

  1. Haram

Berdasarkan Alquran Surat Al-Hajj: 28, salah satu tujuan berkurban adalah untuk dimakan Sahib al-Qurban (orang yang berkurban) dan untuk memberi makan orang-orang yang sengsara dan fakir. Allah berfirman:

فَكُلُوا۟ مِنْهَا وَأَطْعِمُوا۟ ٱلْبَآئِسَ ٱلْفَقِيرَ

“… Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir.”

Sesuai pula dengan hadis riwayat Ahmad yang dikutip dalam tafsir Ibnu Katsir secara tegas melarang menjual kulit hewan kurban.

عن قتادة ابن النعمان في حديث الأضاحي: “فكلوا وتصدقوا، واستمتعوا بجلودها، ولا تبيعوها”

Dari Qatadah bin al-Nu’man dalam hadis tentang penyembelihan kurban disebutkan “Makanlah, sedekahkan, dan bernikmat-nikmatlah dengan kulitnya dan janganlah kamu jual”. (Tafsir Ibnu Katsir, Juz 5, Hlm. 430)

Senada dengan hadis di atas, Imam Ahmad juga meriwayatkan hadis yang lain sebagai berikut:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَامَ فِي حَجٍّ فَقَالَ إِنِّي كُنْتُ أَمَرْتُكُمْ أَنْ لَا تَأْكُلُوا الْأَضَاحِيَّ فَوْقَ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ لِتَسَعَكُمْ وَإِنِّي أُحِلُّهُ لَكُمْ فَكُلُوا مِنْهُ مَا شِئْتُمْ قَالَ وَلَا تَبِيعُوا لُحُومَ الْهَدْيِ وَالْأَضَاحِيِّ فَكُلُوا وَتَصَدَّقُوا وَاسْتَمْتِعُوا بِجُلُودِهَا وَإِنْ أُطْعِمْتُمْ مِنْ لُحُومِهَا شَيْئًا فَكُلُوهُ إِنْ شِئْتُمْ

Bahwasannya Nabi Muhamad SAW. pernah berpidato pada saat melaksanakan ibadah haji, maka beliau bersabda, “Sesungguhnya saya pernah memerintahkan kepadamu supaya tidak memakan daging kurban melebihi tiga hari supaya dapat memberikan keluasan kepada orang yang tidak berkecukupan, namun sekarang saya telah menghalalkan bagimu, maka makanlah darinya sesuai kehendak kamu. Nabi SAW. juga bersabda, “Janganlah kamu menjual daging denda haji dan daging kurban, makanlah, sadaqahkan, dan gunakanlah bersenang-senang kulitnya. Jika diberi makan dari dagingnya, maka makanlah jika kamu menghendaki”. (Musnad Ahmad, Juz 26, Hlm. 148)

Hadits di atas menunjukkan bahwa menjual kulit hewan kurban itu dilarang, terutama adalah bagi orang yang berkurban atau panitia kurban yang menjual kulit hewan kurban untuk dimiliki sendiri atau untuk ongkos biaya kurban, baik biaya penyembelihan maupun untuk membeli alat-alat yang dibutuhkan, seperti tambang, plastik, spanduk, sewa deklit dan kursi, dll. Hal ini dikuatkan pula dengan pendapat Imam Nawawi. Menurutnya, menjual daging, kulit, tanduk dan bulu hewan kurban adalah haram. Pendapat tersebut logis, karena tujuan berkurban adalah untuk memberi makan orang yang sengsara dan fakir, sehingga kurang tepat kalau kulit hewan kurban itu dijual.

Baca Juga >  Ciri-ciri Haji Mabrur dan Penjelasannya

Perlu diperhatikan bahwa salah satu kesunahan berkurban adalah menyembelihnya sendiri jika mampu. Dalam kondisi seperti ini, Sahib al-Qurban diharamkan menjual kulit maupun dagingnya, bahkan kepala dan kaki hewan kurban, baik hasil penjualan itu dimiliki sendiri maupun untuk upah orang-orang yang terlibat dalam membantu proses berkurban dari awal hingga selesainya proses pembagian hewan kurban.

  1. Halal/mubah

Menjual kulit maupun dagingnya, bahkan kepala dan kaki hewan kurban bisa menjadi halal berdasarkan salah satu pendapat dalam tafsir Ibnu Katsir:

ومن العلماء من رخص [في ذلك] (2) ، ومنهم من قال: يقاسم الفقراء ثمنها، والله أعلم.

Sebagian ulama ada yang menganggap rukhsah (kemurahan) yang demikian itu (menjual kulit hewan kurban), sebagian yang lain berpendapat bahwa kulit hewan kurban itu dibagikan pada fuqara’ dengan harganya (hasil penjualan kulit hewan kurban). (Tafsir ibnu Katsir, juz 5, hlm. 430)

Menurut hemat penulis, bahwa menjual kulit hewan, daging, tulang, kaki, kepala, jerohan itu halal dengan syarat sudah diserahkan kepada seseorang (fakir atau miskin) lalu yang bersangkutan menjualnya karena telah menjadi milik pribadi secara sah. Dalam kondisi sekarang, banyak Sahib al-Qurban menitipkan hewan kurbannya kepada panitia atau seorang tokoh, maka menjual kulit hewan kurban tidak boleh dilakukan oleh panitia atau seseorang yang telah diserahi oleh Sahib al-Qurban untuk menyembelih dan membagikan hewan kurbannya kepada orang-orang yang berhak menerimanya. Namun demikian, jika ada seseorang yang telah menerima bagian dari daging, kulit, kaki, kepala, atau tulang hewan kurban lalu ia menjualnya, maka yang demikian ini hukumnya halal.

Solusi; bagi panitia kurban sebaiknya membagi kulit, kaki, atau kepala hewan kurban kepada faqir dan miskin. Setelah menjadi milik faqir dan miskin, maka ia halal menjualnya. Masalah uang hasil penjualan kulit, kaki, atau kepala hewan kurban boleh dimiliki secara pribadi atau kemudian diinfakkan untuk kepentian umat, misal untuk membeli karpet masjid, untuk membeli alat-alat dan perangkat kurban, dll. Sebaiknya panitia kurban menetapkan biaya penyembelihan dengan biaya yang tidak memberatkan masyarakat daripada menjual kulit hewan kurban lalu menggunakannya sebagai ongkos penyembelihan. Wallu a’lam.

Penulis: Dr. KH. Munjahid, M.Ag., Dekan Fakultas Tarbiyah IIQ An-Nur Yogyakarta.