Bangkitmedia.com, Yogyakarta — PW Muslimat NU DIY menggelar Seminar Penguatan Aswaja An Nahdliyah, Minggu (26/04) di Auditorium Al Azhar Yogyakarta Worlds School (AYWS). Kegiatan ini diikuti sekitar 160 peserta dengan suasana formal mengenakan seragam hijau Muslimat. Dengan mengusung spirit, “Muslimat NU di Era Digital: Menguatkan Aswaja An Nahdliyah untuk Kemajuan Peradaban”, seminar ini menjadi bagian pamungkas dari rangkaian kegiatan Harlah ke-80 Muslimat NU DIY yang digelar sejak Maret hingga April.
Acara dibuka dengan sambutan ketua panitia, Prof Dr Sriharini, yang menegaskan kembali bahwa kegiatan Harlah Muslimat ini diarahkan agar “responsif, inspiratif, dan berdampak nyata” setelah 11 rangkaian kegiatan sebelumnya meliputi santunan anak yatim, bantuan lansia, pelatihan paralegal, halal bi halal, lomba paduan suara, senam, hingga bazar.
Tak lupa, Ketua PW Muslimat NU DIY, Hj. Fatma Amilia, menyoroti tantangan era digital yang dihadapi organisasi. Menurutnya, kemampuan memfilter menjadi penting di tengah arus informasi yang terus berkembang. Maka hajat itu tercermin dalam tema seminar hari ini demi menjadikan Aswaja An Nahdliyah sebagai laku keseharian dan spirit organisasi. “Kita hadir menjadi rahmatan lil alamin, tidak ditakuti, tapi membawa rahmat,” ujarnya.

Sesi yang ditunggu-tunggu, keynote speaking oleh Dra. Hj. Safira Machrusah–Duta Besar RI untuk Aljazair (2016-2020), sekaligus Wasekjen PBNU hubungan luar negeri–menekankan peran perempuan dalam ruang digital dan ekonomi. Ia menyebut perempuan sudah menjadi penggerak vital dalam berbagai sektor. “Ruang digital adalah milik kita, potensi yang telah Allah berikan pada kita,” ujarnya.
Ia juga menjabarkan urgensi mengkaji aswaja sebagai cara berpikir, bersikap, dan cara bertindak. Hal ini setidaknya termaktub dalam maqalah, al muhafadzah ‘alal qadimish shalih (memelihara tradisi lama yang baik), dan al akhdu bil jadidil ashlah (mengambil hal baru yang lebih baik), tegasnya.
Sebagai seseorang yang banyak bergelut dengan isu-isu geopolitik pada masanya, Ibu Rosa–orang biasa menyebutnya– tak lupa menyinggung tantangan dunia kontemporer bagi keberlangsungan hidup masyarakat di Indonesia, “Gejolak di Timur Tengah dan Ukraina itu ternyata memiliki keterkaitan dengan ‘isi dompet’ kita. Semua biaya tambahan, pada akhirnya dibebankan kepada kita sebagai konsumen (tanpa kita sadari).” Ia menambahkan, “Hal ini tentu tidak lain sebab pengaruh informasi media, dan cara berpikir dan ‘muamalah’ manusia yang secara tidak sadar terpengaruh oleh algoritma media sosial dan platform digital.” Lalu, siapakah dibalik kata ‘konsumen’ tersebut?
Hal ini terjawab dengan data yang dikemukakan oleh Badan Pusat Statistik (2024), yang mengatakan bahwa 64,5% UMKM di Indonesia dikelola oleh perempuan, dan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet (2025) yang mengatakan bahwa 78,57% perempuan di Indonesia sudah menggunakan internet yang mengindikasikan bahwa perempuan merupakan subjek yang berpotensi terpapar oleh fluktuasi algoritma media sosial. Sedangkan konten media sosial bukan hanya seputar ekonomi, namun juga kompleks meliputi isu intoleransi, radikalisme, dan terorisme.
Narasumber pertama, Ketua PWNU DIY Dr. KH. Ahmad Zuhdi Muhdlor, fokus menyoroti pemahaman Aswaja dari sisi metodologi. Ia menegaskan bahwa Aswaja tidak hanya dipahami sebagai ajaran atau mindset, tetapi sebagai cara dalam memperoleh dan menggunakan ilmu. “Cara memperoleh ilmu, serta cara menggunakannya itu bagian dari ilmu,” katanya.
Dalam nuansa politik hari ini, umat Islam mengalami polarisasi dalam kelompok-kelompok yang saling bertentangan. Tak jarang diantara mereka juga saling menyalahkan satu sama lain, terutama dalam klaim islaf-nya. Maka secara teknikal, orang-orang NU memiliki kepercayaan pada konsep berkah dan sanad, sebab ia berkaitan dengan ‘bagaimana cara’ mendapatkan ilmu. Ia juga menjelaskan alasan penggunaan mazhab yang merujuk pada kapasitas ulama terdahulu yang mumpuni, tidak semata-mata taklid buta. Tentang hal ini, Kyai Zuhdi banyak menyinggung pergeseran cara ber-aswaja dari qauli ke manhaji.
Sementara itu, Wakil Direktur Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Tg. Ahmad Rofiq, Ph.D., sebagai narasumber kedua, mengangkat isu tantangan digital yang dihadapi masyarakat. Ia menyampaikan bahwa produksi konten keislaman di ruang digital sangat beragam, dari yang keras hingga yang santun. Ia mengutip temuan riset tahun 2017 terkait pola konsumsi bacaan di kalangan anak-anak. “Ada buku yang tersedia, tidak semua dibaca, tidak semua dipahami, tapi bisa diterima sebagai ideologi,” jelasnya.
Ia juga menyinggung link hasil pencarian di internet yang dapat secara langsung mengarahkan pengguna pada jejaring kelompok radikal (baca: label Islamic State), khususnya kelompok yang menyasar perempuan dan anak-anak. Dalam sesi tanya jawab, peserta menyoroti penyebaran paham yang mulai menjangkau usia sekolah. Pertanyaan datang dari kalangan guru yang menanyakan latar belakang fenomena tersebut serta cara menyampaikan pemahaman yang tepat kepada siswa.
Tg. Rofiq menutup penyampaiannya dengan sebuah refleksi menyoal ‘kepemimpinan’ Nahdlatul Ulama, ia mengemukakan dua macam kepemimpinan: relasional authority dan positional authority. Sedangkan kepemimpinan kita bersifat relasional authority (pilihan pengurus) bukan positional authority. Ini merupakan tantangan paling ‘gede’ dalam tubuh NU. Tentu keadaan ini juga dipengaruhi oleh dunia digital yang mengkonstruksi cara kita memilih pemimpin menjadi tidak lagi ketat. Tg. Rofiq menegaskan, ia tidak hendak memberikan jawaban yang pakem, ini hanyalah sebuah refleksi persoalan.
Lebih dari rangkaian kegiatan, seminar ini memperlihatkan satu hal yang sedang dihadapi bersama: perubahan cara masyarakat menerima pengetahuan. Di tengah arus digital, ruang belajar tidak lagi terbatas, sementara kemampuan menyaring menjadi kebutuhan yang semakin mendesak. (Hana Rusmalia)








