Bangkitmedia.com, SLEMAN – Ada cerita menarik disampaikan KH Abdul Qoyyum Mansur (Pengasuh Ponpes An-Nur Lasem Rembang Jawa Tengah) saat menyampaikan Mau’idhoh Hasanah pada Halal Bi Halal Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Daerah Istimewa Yogyakarta di Pondok Pesantren Ar-Robithoh Krapyak Lor Wedomartani Ngemplak Sleman, Minggu (25/04/2026). Pada kesempatan ini Kyai Qoyyum bercerita salat diimami seorang pedagang daging.
Ceritanya, waktu itu Kyai Qoyyum dan KH Humaidi (kakak sepupunya yang juga kakak kandung KH Bahauddin Nursalim atau Gus Baha’ akan menunaikan Shalat Maghrib. Seperti halnya para kyai pada umumnya, keduanya tidak berebut menjadi imam, sebaliknya justru saling mempersilahkan menjadi imam. Meski diminta menjadi imam beberapa kali, Kyai Qoyyum tetap tidak mau karena KH Humaidi statusnya lebih tua.
Kemudian tiba-tiba ada pedagang daging lewat. Oleh Kyai Qoyyum penjual daging tersebut ditawari menjadi imam. “Mbah, purun ngimami Shalat Maghrib,” tanya Kyai Qoyyum kepada pedagang daging tersebut. Jawabannya ternyata mengejutkan “Mau”.
Akhirnya terjadilah Shalat Maghrib berjamaah dengan imam pedagang daging sedang makmumnya dua Kyai besar. Tentu saja makmum meski seorang kyai harus mengikuti imam meski hanya seorang pedagang daging. Termasuk ketika imam tersebut hanya Shalat Maghrib dua raka’at. Meski demikian, kata Kyai Qoyyum, bahwa Kyai Humaidi tidak kuat menahan tawanya, sehingga di akhir Shalat tertawa terpingkal-pingkal.
Sang imam yang penjual daging itupun bertanya “Nopo wonten ingkang salah. Wau Shalat Maghrib kulo qoshor,” katanya polos tanpa menyadari bahwa Shalat Maghrib tidak boleh diqoshor
Dari cerita ini bisa diperoleh pelajaran, bahwa bahwa berebut menjadi imam itu tidak boleh, tetapi ketika saling menghindar, saling tidak mau, juga jangan sampai lantas jatuh kepada orang yang salah atau bukan ahlinya.
“Jadi harus dipegang ahlinya. Bukan hanya ahli organisasi saja, tetapi tipe orang yang sudah stabil, karena mmbawa gerbong besar. Sebab ada yang baik tidak stabil, tapi ada yang buruk istiqomah dalam buruknya. Itu malah repot,” katanya. (*)








