Kiai Ali Maksum

Mimpi KH Ali Maksum tentang Keistimewaan KH Asyhari Marzuqi

Posted on

Salah satu putra Mbah Kiai Marzuqi Giriloyo adalah KH Asyhari Marzuqi. Asyhari muda mengabiskan masa mudanya di Krapyak dan Baghdad Irak. Semasa di Krapyak, Asyhari muda sangat tekun dalam belajar di bawah asuhan KH Ali Maksum dan KH Zainal Abidin Munawwir. Waktu ngaji di Krapyak tidak pendek, sepanjang 15 tahun, mulai tahun 1955-1970.

Sejak di Krapyak, Asyhari muda dikenal kutu buku. Kegemarannya dalam membaca buku luar biasa, apalagi ditopang perpustakaan Kiai Ali Maksum yang sangat sangat berlimpah buku, baik buku klasik maupun buku modern. Asyhari muda tak pernah menyia-nyiakan waktunya untuk terus ngaji, baca, dan muthola’ah kitab.

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

Ketekunannya membaca buku ini yang mengantarkan Marzuqi muda begitu luas bacaannya ketika di Baghdad. Buku apa saja yang menarik perhatiannya terus dilahap sampai habis. Bahkan gajinya ketika kerja di KBRI Baghdad dihabiskan untuk beli buku. Ketika pulang ke Indonesia, Asyhari muda membawa ribuan judul buku.

Keluasaan ilmunya inilah, salah satunya, yang mengantarkan Kiai Asyhari Marzuqi menjadi sosok ulama’ berpengaruh pada jamannya. Tahun 1992, Kiai Asyhari menjadi Rais Syuriah PWNU DIY menggantikan mertuanya, KH Nawawi Abdul Aziz.

Bagaimana Kiai Asyhari menggapai puncak keulamaannya sampai di level itu semua?

Baca Juga >  Prof Dawam, NU dan Gajinya Gus Dur

Ternyata, suatu hari Kiai Ali Maksum pernah menyampaikan sebuah cerita ihwal sebuah mimpi. Saat itu, Kiai Ali bermimpi tentang bak mandi (kolah) Pesantren Krapyak dikuras habis seorang santri bernama Asyhari. Sampai airnya habis, tak menyisakan sedikitpun.

“Mimpi Kiai Ali Maksum bisa ditafsirkan beragam. Tetapi Kiai Asyhari memang orang yang sangat tekun dalam membaca buku. Lihat saja perpustakaannya yang penuh dengan buku,” tegas Kiai Ahmad Zabidi Marzuqi, adik Kiai Asyhari, dalam perbincangan dengan Bangkit (12/03).

“Setiap ceramah di suatu tempat, Kiai Asyhari pasti berbeda tema dan pokok bahasannya. Beliau tidak mau ceramah dengan tema yang sama. Makanya, sebelum ceramah Kiai Asyhari selalu membaca kitab. Dari bacaan itulah, Kiai Asyhari kemudian menyampaikannya kepada masyarakat,” lanjut Kiai Ahmad Zabidi yang saat ini menjadi Pengasuh Pesantren Ar-Romly Giriloyo.

“Semangat membaca Kiai Asyhari ini yang harus jadi teladan santri. Itulah prinsip dalam belajar, selalu tekun baca dan ngaji kepada guru,” pungkas Kiai Ahmad Zabidi. (md)