Watak Nahdlatul Ulama

Merumuskan Hubungan Ideologi Nasional dan Agama

Posted on

1. Majalah Aula
Tulisan di atas bersumber dari Majalah Aula, No. 5 Tahun VII, Mei 1985. Berawal dari sebuah ceramah yang ditranskrip-diedit dan kemudian disajikan kepada publik. Majalah ini, sebagaimana juga Tabloid Warta, seringkali mentranskrip ceramah Gus Dur dan kemudian diterbitkan.

Untuk melacak ceramah-ceramah Gus Dur, salah satunya dapat ditelusuri melalui dua penerbitan publikasi ini, Aula dan Warta, meskipun tentu tidak secara keseluruhan. Sementrara publikasi di media-media lain, seringkali memang berasal langsung dari tulisan-tulisan Gus Dur. Saya sendiri menyimpan Tabloid Warta yang mengoleksi ceramah-ceramah Gus Dur dan kemudia ditranskrip; disamping bundel Majalah Aula, meskipun tidak semua edisi.

Info Peluang Usaha Depot Air Minum Isi Ulang by INVIRO

Majalah Aula dikelola oleh PWNU Jawa Timur dengan SK PWNU Jatim No. 183/PW/Kpts./XII/78 tanggal 9-12-1978; dan Tabloid Warta dikelola oleh PBNU pada zaman Gus Dur, dengan penasehat KH.M. Ilyas Ruhiat dan KH. Abdurrahman Wahid sendiri. Cak Anam atau Khoirul Anam, menjadi Ketua Pengarah.

Tabloid Warta kemudian tidak terbit lagi, sedangkan Majalah Aula sampai sekarang masih terus terbit, dan menjadi salah satu dari alat publikasi yang dimiliki Jam`iyah NU.

Saya sengaja memilih tulisan di atas, dan memberikan penjelasan-penjelasannya, yang dalam tradisi kitab kuning disebut sebagai syarah, untuk dapat diambil faedah, dalam rangka mengenang Gus Dur; di samping saya masih terus merapikan dalam tulisan lain, tentang mereka yang mengalami ro’yu fil manâm dengan Gus Dur, yang sebagian sudah saya tulis.

Sebab, menurut saya, tulisan yang dimuat di Majalah Aula ini dapat menjembatani mereka yang anti Negara nasional dari kalangan muslim; dan pada saat yang sama dapat juga mengkritik mereka yang terlalu menekankan hanya dengan merujuk pada ilmu-ilmu sosial, ketika membicarakan Gus Dur.

Dengan berharap ridho Alloh dan memohon bantuan-Nya untuk memperoleh kemudahan dalam berbagai kesulitan yang ada, dan sholawat-salam kepada Kanjeng Nabi Muhammad, serta mengharap barokah dari para wali-wali Alloh, semoga penjelasan atas tulisan Gus Dur yang dimuat di Majalah Aula ini dapat memberikan manfaat bagi diri saya sendiri, dan untuk orang lain yang membacanya. Wallôhul Musta`ân.

2.Islam dan Watak Eklektiknya

Gus Dur memulai tulisannya, begini: “Di dalam kesejarahan umat Islam, ada suatu tradisi yang perlu kita warisi dan terus kita kembangkan. Tradisi ini telah berkembang berabad-abad lamanya, yaitu: watak penyerapannya yang tinggi atau yang sering disebut orang sebagai ekletik.”

Penjelasan

Kata “eklektik”, dalam KBBI diartikan sebagai “bersifat memilih yang terbaik dari berbagai sumber (tentang orang, gaya, dan metode). Gus Dur memaknai ekletik sebagai watak tradisi umat Islam dengan “watak penyerapannya yang tinggi”. Maksudnya, penyerapan kaum muslimin terhadapat situasi, kondisi dan perkembangan kemajuan sejarah, tanpa kehilangan jatidiri sebagai umat Islam, sangat kuat dan tidak boleh diremehkan, untuk menciptakan kehidupan yang selaras dengan tradisi dan kemajuan.

“Kemampuan menyerap” itu akhirnya mempengaruhi terhadap ekspresi dan corak umat Islam itu sendiri, yang hal ini akan menghasilkan tradisi-tradisi Islam di belahan dunia. Dalam tulisan yang lain di buku Membaca Sejarah Nusantara: Membaca 25 Sejarah Kolom Gus Dur (Yogyakarta: LKiS, 2010), Gus Dur menyebut ini dengan perlunya kajian kewilayahan di dalam ekspresi beragama umat Islam. Dalam konteks di Nusantara, hal ini kemudian melahirkan pandangan perlunya melihat, meneliti, mengkaji, dan menemukan tradisi Islam Nusantara yang telah dipraktikkan oleh umat Islam di wilayah ini.

Kata “eklektik” itu, dalam bagian tulisan lain, disebut dengan “kosmopolitan”, yang dimaknai oleh Gus Dur sebagai kemampuan Umat Islam untuk menyerap yang terbaik secara dinamis. Hal ini seperti tampak dalam kata-kata Gus Dur, di bagian selanjutnya di tulisan ini pula, yang disebutkan begini: “Sikap hidup seperti Imam Hanafi, Imam Syafi’i merupakan satu contoh dari sikap yang ekletik (kemampuan daya serap yang tinggi), kosmopolitan, kata orang sekarang.”

Jadi, watak ekletik itu, oleh Gus Dur disamakan dengan kosmopolitan. Sementara arti kata “kosmopolitan” itu sendiri menurut KBBI adalah “mempunyai wawasan dan pengetahuan yang luas”; terjadi dari orang-orang atau unsur-unsur yang berasal dari berbagai bagian dunia.” Hal ini, menegaskan kaitannya dengan Islam, perlunya memiliki wawasan yang luas dalam membicarakan dan memperjuangkan Islam, agar tidak menimbulkan penyempitan dan pendangkalan, yang menyebabkan timbulnya sunami penyumbatan keselarasan sosial dan gerak perkembangan-perkembangan yang ada.

Dalam tulisan lain, yang kemudian diterbitkan dalam buku berjudul Islam Kosmopolitan: Nilai-Nilai Indonesia dan Transformasi Kebudayaan (Jakarta: WI, 2007), Gus Dur memberikan penjelasan lebih rinci apa yang dimaksud dengan kosmopolitan Islam itu, dengan meletakkan watak dinamis sebagai ruh dari kosmopolitan itu. Gus Dur mengatakan, dalam hukum Islam misalnya, harus mampu mengembangkan watak dinamis bagi dirinya, di antaranya harus mampu menjadikan dirinya bisa menunjang perkembangan hukum nasional. Watak dinamis ini hanya dapat dimiliki, jika hukum Islam meletakkan titik berat perhatiannya pada soal-soal duniawi yang menggeluti kehidupan bangsa kita dewasa ini, dan memberikan pemecahan bagi persoalan-persoalan hidup aktual yang dihadapi di masa kini (hlm. 49-50).

Baca Juga >  Berobat dengan Air Kencing Onta: Catatan tentang Epistemologi Bayani

Dengan sendirinya, watak eklektik atau kosmopolitan dari Islam dan umat Islam itu sendiri, mengandung di dalam dirinya adalah dinamis, dan geraknya sebagai dinamisasi yang terus menerus di tengah sistem sosial masyarakatnya. Oleh karena itu, kita dapat menemukan dari berbagai tulisan Gus Dur, istilah dinamisasi ini, dan bukan tajdid.

Dalam tulisan “Universalisme Islam dan Kosmopolitanisme”, di buku itu juga, kosmopolitan Islam itu menurut Gus Dur bertumpu pada moralitas dan nilai yang didasarkan pada 5 jaminan dasar yang harus dibela oleh agama Islam: hifzhun nafs (keselamatan fisik), hifzhud din (keselamatan keyakinan agama masing-masing), hifzhun nasl (keselamatan keluarga dan keturunan), hifzhul milk (keselamtaan hak milik dan properti), dan hifzhul mal (keselamatan harta benda pribadi dan kelompok) (hlm. 4).

Kosmopolitan Islam itu, akan terjadi dan berjalan bila terjadi keseimbangan antara dua hal yang saling mempengaruhi kesuksesan sebuah peradaban masyarakat, yaitu kecenderungan normatif kaum muslim dan kebebasan berpikir di antara warga masyarakat. Dan inilah, yang menandakan adanya kosmopolitanisme kreatif (hlm. 8-9); atau dalam bahasa lain adanya dinamisasi yang berakar dari tradisi dan sekaligus mau mengganti tradisi yang dianggap tidak relevan; dan secara selektif melakukan kreativitas, atau mengambil dari perkembangan dan sejarah yang mempengaruhi, agar terjadi keselarasan dan sekaligus perkembangan tidak dibuntukan.

Perkataan Gus Dur “berabad-abad lamanya”, bisa dimaknai sejak zaman Nabi Muhammad sendiri sampai dalam masa selanjutnya. Dari sudut watak Islam pada zaman Nabi Muhammad, watak ekletik itu, terlihat ketika Islam tidak mengembangkan satu jenis agama sendiri yang terpisah dari agama-agama yang mendahuluinya. Oleh karena itu, Islam menyempurnakan dari apa yang telah ada dari agama-agama yang ada sebelumnya, yang kemudian disebut dengan istilah “wamâ arsalnâka illâ rohmatan lil`âlamîn”, yang sering kali diulang-ulang oleh Gus Dur sebagai Islam yang harus diperjuangkan secara gigih, tanpa harus kehilangan kesabaran dan kesantunan akhlak.

Tradisi-tradisi masa lalu sebelum Islam tetap diambil dan boleh diserap, disesuaikan dengan moralitas dan nilai yang diinginkan wahyu Alloh dan prakarsa-prakarsa Kanjeng Nabi Muhammad sendiri. Banyak contoh untuk bisa diambil, yang membuktikan bagaimana tradisi masa lalu sebelum Islam tetap diserap, seperti tradisi qishos yang telah ada di masyarat Arab; tradisi perbudakan yang dikritik Islam dan penghargaan dengan kemulian bagi yang memerdekakan budak; tradisi haji yang telah dimulai oleh Ibu Hajar dan Nabi Ismail; dan lain-lain. Hal ini membawa implikasi dalam kehidupan moderen di setiap zaman umat Islam, untuk senantiasa bisa menyesuaikan perkembangan dengan kemampuan menyerap, tanpa kehilangan jatidirinya: dengan melihat kepada tradisi, sekaligus kemauan melangkah menuju perkembangan-perkembangan yang dinamis.

Islam yang berwatak eklektik itu, pada dasarnya adalah Islam yang memperjuangkan Islam rohmatan lil`âlamîn: membawa implikasi pada perlunya strategi dinamisasi, bukan revolusi; atau strategi gradual; bukan shock terapy, dan keharusan memberikan tempat bagi pendekatan yang meluas, menyentuh juga kepada jiwa, bukan hanya kepada aspek lahir.

Oleh karena itu, meskipun Gus Dur belajar Marxisme, Kapitalisme, Teologi Pembebasan, pandangan-pandangan Gandhi, dan lain-lain, toh akhirnya bermuara pada pembicaraan dan perjuangan mewujudkan kemaslahatan Negara Pancasila (dan bukan mendirikan Negara Marxis atau Negara kapitalis), dan pandangan hidup Aswaja an-Nahdliyyah, sebagai dasarnya. Sementara pengungkapan dalam wilayah publik dan kerangka teori bungkusnya, bisa bermacam-macam tergantung situasi, audiens, dan gerak zaman; dan pada saat yang sama tetap setia menjadi bagian dari Nahdlatul Ulama.

Kemampuan Gus Dur menyerap dari berbagai ilmu sosial, pada saat yang sama tetap menjadi ketua PBNU, dan mujahid yang berperan sebagai juru bicara Islam yang dinamis, mengedepankan tasamuh dan tawasuth, sepenuhnya, adalah upaya menerjemahkan dalam dirinya dan untuk umat, watak Islam yang ekletik ini.

Oleh karena itu, Gus Dur lebih senang mengembangkan pandangan-pendangan yang sudah ada dan dihargai di masyarakat, sambil mengganti yang tidak relevan dengan zaman; bukan membuat madzhab baru di dalam memperjuangkan Islam rahmatan lil`âlamîn, di tanah air Indonesia ini; sehingga beliau tetap merujuk pada kitab kuning, dan pada saat yang sama juga ilmu-ilmu sosial.

Dan, inilah yang membedakan Gus Dur, dengan rekan-rekan sezamannya yang menginginkan adanya tajdid, madzhab baru, shock teraphy, meninggalkan tradisi, dan tidak menginginkan adanya strategi gradual. Wallohu a’lam.

(Penulis: Nur Kholik Ridwan, Pengajar STAI Sunan Pandanaran Yogyakarta).