Menghadapi Musim Kemarau di Kabupaten Gunung Kidul Dengan Sistem Pemanenan Air Hujan

  • Whatsapp
Menghadapi Musim Kemarau di Kabupaten Gunung Kidul Dengan Sistem Pemanenan Air Hujan

Menghadapi Musim Kemarau di Kabupaten Gunung Kidul Dengan Sistem Pemanenan Air Hujan

Kabupaten Gunung Kidul merupakan daerah yang memiliki tingkat rawan kekeringan paling tinggi di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Kondisi tersebut disebabkan oleh beberapa faktor salah satunya yaitu kondisi geografis Kabupaten Gunung Kidul yang sebagian besar daerahnya merupakan daerah batuan gamping. Selain itu juga kondisi curah hujan di Kabupaten Gunung Kidul yang cukup rendah mengakibatkan beberapa kecamatan di Kabupaten Gunung Kidul sering terjadi kekeringan yang mengakibatkan kurangnya pasokan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari di daerah tersebut.

Sebagian dari kawasan batu gamping di Daerah Gunung Kidul sudah melalui proses karstifikasi sehingga dapat disebut sebagai kawasan karst yang juga masuk dalam Kawasan Bentang Alam Karst (KBAK) Gunung Sewu yang membentang dari Kabupaten Gunung Kidul (D.I.Yogyakarta), Kabupaten Wonogiri (Jawa Tengah), dan Kabupaten Pacitan (Jawa Timur). Kawasan karst yang identik dengan kawasan kering, tetapi didalamnya terdapat potensi penyimpanan air yang cukup besar. Begitu juga Kabupaten Gunung Kidul yang sebagian daerahnya merupakan kawasan karst. Namun, beberapa daerah di Kabpaten Gunung Kidul masih sering mengalami kekeringan terutama ketika berada pada puncak musim kemarau.

Dalam mengurangi dampak kekeringan di daerah rawan kekeringan Kabupaten Gunung Kidul, salah satunya yaitu dengan sistem pemanenan air hujan sebagai salah satu sumber air untuk memenuhi kebutuhan manusia. Pemanenaan Air Hujan (PAH) adalah teknik pengumpulan dan penampungan air hujan kedalam wadah atau tangki sehingga air hujan tidak langsung masuk kedalam tanah dan mengalir kesungai untuk dapat disimpan dan dipergunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Teknik ini bisa menjadi salah satu solusi untuk mengurangi dampak kekeringan di Kabupaten Gunung Kidul. Sistem pemanenan air hujan juga sudah dilakukan oleh beberapa warga di Kabupaten Gunung Kidul namun dalam pelaksanaanya masih banyak menemukan kendala sehingga belum dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh warga tersebut.

Jumlah penduduk berdasarkan Data Konsolidasi Bersih (DKB) yang dikeluarkan oleh Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia pada semester I tahun 2020, Kabupaten Gunung Kidul yang terbagi menjadi 18 (Delapan Belas) kapanewon memiliki total jumlah penduduk sebanyak 772.983 jiwa yang terdiri dari 381.590 laki-laki dan 391.393 perempuan.

Pertumbuhan penduduk di Kabupaten Gunung Kidul juga menjadi salah satu faktor kerentanan dalam menangani kekeringan dan kekurangan air bersih di daerah tersebut. Seiring bertumbuhnya penduduk maka kebutuhan air juga akan semakin besar dan ruang terbuka juga akan semakin berkurang. Selain hal tersebut, pertumbuhan penduduk juga akan mempengaruhi meningkatnya kebutuhan industri, artinya kebutuhan air bersih untuk menunjang perindustrian juga akan meningkat sehingga diperlukan gerakan serius dalam memelihara air bersih di Kabupaten Gunung Kidul.

Menghadapi Musim Kemarau di Kabupaten Gunung Kidul Dengan Sistem Pemanenan Air Hujan

Peningkatan jumlah penduduk di Kabupaten Gunung Kidul berdasarkan Data Konsolidasi Bersih (DKB) dari semester II tahun 2019 yang semula berjumlah 769.907 jiwa terdiri dari 379.995 laki-laki dan 389.912 perempuan meningkat sebanyak 3.076 jiwa menjadi 772.983 jiwa yang terdiri dari 381.590 laki-laki dan 391.393 perempuan di semester I tahun 2020.

Kabupaten Gunung Kidul tidak seluruhnya berpotensi rawan kekeringan. Dari 18 (Delapan Belas) kapanewon yang ada di Kabupaten Gunung Kidul, ada 8 (Delapan) kapanewon yang melaporkan yang daerahnya mengalami kekeringan yang berdampak pada kekurangan air besih. Kapanewon yang telah melaporkan bahwa daerahnya terdampak kekeringan adalah kapanewon Girisubo, Tepus, Rongkop, Saptosari, Paliyan, Patuk, Gendangsari, dan Ngawen dengan total jumlah penduduk 275.982 jiwa.

Air merupakan sumber kehidupan yang utama untuk seluruh makhluk hidup termasuk manusia. Air yang merupakan kebutuhan pokok untuk manusia juga memiliki beberapa kriteria air yang tidak seluruhnya dapat digunakan manusia unntuk kebutuhan sehari-hari. Menurut catatan kesehatan, manusia hanya dapat bertahan hidup tanpa air selama 3x 24 jam saja sehingga air menjadi kebutuhan pokok untuk manusia. Sedangkan menurut WHO, rata-rata penggunaan air oleh manusia untuk kebutuhan sehari-hari yaitu 70 liter per orang per hari.

Kabupaten Gunung Kidul memiliki curah hujan rata-rata sebesar 1.881,94 mm/tahun dengan jumlah hari hujan rata-rata 91,22 hari/tahun. Rata-rata curah hujan tertinggi tercatat 471,78 mm pada bulan desember dan rata-rata hari hujan terbanyak tercatat 18 hari pada bulan desember juga. Dengan jumlah curah hujan tersebut apabila ditampung dalam suatu wadah kurang lebih akan dapat menghasilkan air hujan sebanyak 2liter/meter² dan apabila dikalikan dengan luas seluruh Kabupaten Gunung Kidul (1.485,36 km²) maka kurang lebih air yang jatuh kebumi di Kabupaten Gunung Kidul 1.485.000.000 liter. Sedangkan kebutuhan air sehari-hari manusia hanya 70 liter/hari, jika dikalikan dengan total jumlah penduduk yang berpotensi mengalami dampak dari kekeringan di Kabupaten Gunung Kidul yaitu 275.982 jiwa maka hanya membutuhkan 19.318.740 liter air/hari.

Artinya jumlah air hujan di Kabupaten Gunung Kidul sebenarnya sudah lebih dari cukup untuk menutupi kebutuhan air warga gunung kidul, itupun belum terhitung durasi hujan dan beberapa sumber air lain yang dapat digunakan. Dalam sistem Pemanenan Air Hujan (PAH), salah satunya dengan teknik penangkapan air hujan melalui atap lalu ditampung dalam bak penampungan khusus dan sudah di setting sedemikian rupa supaya dapat menyaring kotoran yang terbawa oleh air hujan. Jumlah air hujan yang dapat ditangkap tergantung dengan kapasitas objek penangkap yang kita buat, dalam hal ini misalnya atap rumah maka jumlah air hujan yang dapat kita tangkap tergantung dengan luasan atap rumah yang selanjutnya air tersebut kita alirkan kedalam wadah penampungan. Berikut merupakan contoh penangkapan air hujan menggunakan atap rumah :

Gambar contoh tangkapan air hujan

Untuk mengurangi dampak kekeringan dalam skala rumah tangga, jika rata-rata setiap rumah tangga beranggotakan 4 (Empat) orang maka selama kurang lebih 6 (Enam) bulan atau 180 hari  maka setiap rumah tangga memerlukan 50.400 liter atau setara dengan 6 (Enam) mobil tangki pertamina berkapasitas 8000 liter. Hal ini juga dapat dijadikan alternative jika terhitung selama 6 (Enam) bulan tidak ada pasokan air selain dari air hujan yang telah di tamping kedalam bak penampungan.

Perhitungan tersebut merupakan perhitungan yang belum matang sehingga diperlukan penelitian lebih mendalam lagi. Namun perhitungan tersebut dapat dijadikan sebagai acuan dalam melakukan penelitian lanjutan serta mengantisipasi kekeringan pada musim kemarau.

Demikian Menghadapi Musim Kemarau di Kabupaten Gunung Kidul Dengan Sistem Pemanenan Air Hujan.

Penulis: Muhammad Abdul Hakam, S.Hut (Mahasiswa Magister Ilmu Lingkungan Institut Teknologi Yogyakarta (2020)
Editor: Mas Ahmad

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *