Mengenang Abah Sholeh Qosim

Abah Sholeh Qosim

Idul Fitri tahun ini terasa sangat berbeda,  karena Bapak dan Emak sudah tiada.  Ini sudah suratan dari Yang Maha Kuasa. Karenanya, meski pahit rasanya,  harus dihadapi dengan rela.

Benar kata orang,  kalau sudah tiada baru terasa, bahwa kehadirannya sungguh berharga.

Bacaan Lainnya

Aku jadi teringat ucapan bapakku kepada Gus Yahya, bahwa pada awal kehilangan orang tua masih bisa dihadapi,  tetapi perlahan tapi pasti,  seiring dengan perjalanan waktu,  rasa kehilangan itu kian terasa.

Di saat idul fitri seperti ini, (dulu) Bapak dan emakku benar-benar harus tinggal di rumah karena tamu yang datang ke rumah sungguh banyak sekali.  Ini bisa berlangsung sampai satu bulan.

Kondisi seperti itu menyebabkan bapakku berusaha mencari celah untuk bisa bertamu ke sesepuh yang masih ada yang rumahnya bisa terjangkau dengan berjalan kaki.

Maka bapakku melakukan kunjungan ke rumah sesepuh pada pukul 5.30 dengan berjalan kaki.

Salah satu yang didatangi adalah Kiai Bahri di pereng.  Di rumah Kiai Bahri bapak duduk sebentar kemudian segera pulang.  Hal itu bapak lakukan dengan berjalan kaki.

Besok paginya bapak juga melakukan hal yang sama.  Kali ini ke sesepuh lainnya. Ketika Kiai Hamim Syahid masih “sugeng” kadangkala bapakku berusaha menyempat kan diri ke rumah beliau di Medaeng Waru.

Di lain waktu ke rumah Kiai Imron Hamzah dan Bude Khuzaimah Hamzah.

Begitulah yang dilakukan Bapak ketika punggung nya belum sakit, dan ketika para sesepuh itu masih ada.

Selain hal seperti itu,  ketika syawal sudah hampir berakhir,  bapak biasanya mengajak seluruh anggota keluarga silaturrahim ke Bangil,  Pandaan,  Sukorejo dan Malang.

Di Bangil ada 3 tempat yg dituju: sekitar alun-alun. Kalikunting-Kalianyar,  dan Gempeng.  Di Kalikunting Bapakku berziarah ke makam Mbah Qosim. Lalu ke rumah kakak-kakaknyanya.

Dari Bangil dilanjutkan ke Pandaan.   Di Pandaan Bapak sowan ke paman-pamannya sekaligus ke adiknya. Perjalanan seperti ini sungguh melelahkan karena di Pandaan banyak rumah yang diampiri dan harus ditempuh dengan jalan kaki.  Tetapi Bapakku tak pernah menunjukkan rasa lelah.  Malah anak-anaknya yang kadangkala “purik” karena kecapek an

Untuk yg ke Sukorejo dan Malang tidak rutin.  Kalo ke Sukorejo sowan ke Kiai Ghozali (Abahnya Kyai Dzul Hilmi Al Hafidz).  Kalo ke Malang ke rumah Mbah Muhsin (pamannya Bapak yang wajahnya mirip Kiai Ahyat Mojokerto).

Itulah yang biasanya dilakukan bapakku.  Ketika usia bapak kian tua muncul gagasan untuk melakukan halal bihalal. Diselenggarakan lah halal bihalal Bani Aliyo.  Acara ini berlangsung tiap tahun.

Ketika belum ada hp, acara ini berlangsung ajeg. Seiring dengan wafatnya para mbah di Pandaan acara ini masih tetap berjalan tapi dengan tantangan yang cukup berat karena setiap anggota keluarga disibukkan oleh pekerjaan masing-masing. Sehingga untuk mencari hari yg pas seringkali terkendala.

Dulu acara ini diikuti oleh keturunan bani Aliyo dengan lengkap.  Dan pengisi acara biasanya bapakku,  ustadz Abdussomad (suami nya Nur Haida), dan kadangkala juga Man Ujeb,  Man Hanif dll.  Dua hal yang selalu ditekankan bapakku,  pertama tentang pentingnya silaturrahim,  kedua,  acara seperti itu ingin menegaskan kepada semua bahwa “kakek nenek kalian bukan orang sembarangan. Mereka semua adalah ahli ibadah.  Maka sudah selayaknya lah para keturunannya harus tekun beribadah”.

Biasanya bapakku menunjukkan tokoh-tokoh pejuang yang merupakan nenek moyang keturunan Bani Aliyo.  Ada nama Sunan Ampel,  ada nama Kyai Khozin,  ada nama Sayyid Sulaiman,  ada nama Syarifa Khodijah dan sebagainya.  Kesemua itu bukan untuk berbangga diri,  tetapi sebagai uswah hasanah bahwa mereka adalah ahli ibadah.  Maka merupakan kedzoliman yang nyata kalo keturunan Bani Aliyo suka “tarikus sholah”.  Na’udzubillah. (Mohammad Nuh)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *