“Idul fitri bukanlah yang bajunya baru, tapi yang utama adalah yang ketakwaannya bertambah” (Maqalah Arab).
Pada hakekatnya bukan penampilan fisik kita yang dituntut untuk selalu menarik, rapi, dan bersih. Namun, seringkali kita lupa bahwa ada yang jauh lebih penting untuk dijaga selain penampilan luar kita, yaitu kebersihan hati dan jiwa. Inilah yang dalam Islam disebut tazkiyatun nafs atau penyucian jiwa.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman; “Sungguh beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sungguh merugilah orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams: 9–10).
Ayat ini menegaskan kepada kita, bahwa keberuntungan sejati bukan hanya terletak pada harta atau jabatan kita, melainkan pada jiwa yang bersih dari penyakit hati.
Penyakit hati merupakan hal yang sangat berbahaya yang dapat merusak diri kita. Di antara penyakit hati yang harus kita hindari adalah:
Pertama, Sombong (takabbur). Nabi Muhammad saw., bersabda: “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walau sebesar biji sawi.” (HR. Muslim).
Kesombongan membuat kita merasa lebih baik dari orang lain, padahal semua nikmat yang ada pada diri kita merupakan karunia Allah yang dititipkan kepada kita. Lalu untuk apa kita sombongkan hal tersebut.
Kedua, Iri dan Dengki (hasad). Nabi Saw., bersabda: “Janganlah kalian saling dengki, saling membenci, dan saling membelakangi. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Iri dan dengki hanya akan membuat hati kita gelisah, tidak tenang, selalu merasa was-was, dan juga dapat merusak persaudaraan serta menghapus pahala kebaikan yang kita lakukan.
Ketiga, Riya’ dan ‘Ujub. Dua sifat ini membuat amal ibadah kita tidak lagi murni karena Allah, melainkan hanya karena ingin dipuji manusia. Sehingga apa yang kita lakukan tidak lagi karena Allah, tapi hanya ingin dilihat dan dipuji oleh orang lain. Akibatnya, amal yang kita kerjakan menjadi sia-sia tanpa pahala yang tercatat di Sisi Allah.
Untuk itu mari kita sucikan jiwa kita dari penyakit-penyakit hati yang tiada manfaatnya. Sebagaimana yang saya kutip dari Ariani Arifatma, BA (2025), Kita perlu membiasakan diri kita, melatih diri dengan kebiasaan-kebiasaan sehari-hari yang bisa kita lakukan seperti :
Pertama, Perbanyak dzikir dan membaca Al-Qur’an agar hati selalu terhubung dengan Allah.
Kedua, Bersyukur atas segala nikmat yang Allah berikan sehingga terhindar dari rasa iri dan dengki.
Ketiga, Rendah hati (tawadhu’), dengan menyadari semua kelebihan yang kita punya itu berasal dari Allah, bukan dari diri kita sendiri.
Keempat, Bergaul dengan orang salih, karena lingkungan yang baik akan mempengaruhi kebersihan hati kita.
Kelima, Bertaubat dan muhasabah diri setiap hari, agar kita bisa senangtiasa memperbaiki diri dari segala kesalahan dan kekurangan yang ada.
Tazkiyatun nafs / menjaga hati ini adalah perjalanan sepanjang hayat. Mari kita berusaha menjaga hati pasca idul fitri ini dari penyakit-penyakit yang merusak, agar kita termasuk hamba Allah yang beruntung di dunia dan di akhirat. Wallahua’alam[]
Arief Fauzi Marzuki, Penyuluh Agama Islam pada KUA Piyungan, Kemenag Bantul.




Masasya Allah sukran Tadz Tausiyahnya..Tazkiyatun Nafs
Masasya Allah sukran Tadz Tausiyahnya..Tazkiyatun Nafs teruslah mencerahkan ummat