Manusia Bisa Terhalang dan Dekat Dengan Allah Karena Hati

Karomah Kitab Ihya' Dalam Sejarah Konsolidasi NU

Ihya-Ulum-ud-Deen-1024x598

“Tulisan ini adalah resume Ngaji Kitab Ihya’ Ulumuddin pada hari pertama dari Kiai Ulil Abshar Abdala selama bulan Ramadhan. Ngaji ini diresume oleh Nurul Agustina dan sudah diupload di akun Facebooknya.”

Bacaan Lainnya

Puji bagi Allah Swt. yang hati dan pikiran manusia bingung dan tidak mampu menjangkau-Nya. Allah yang mengetahui isi dan kandungan hati manusia. Yang tidak membutuhkan pembantu atau perdana menteri dalam menyelenggarakan kekuasaanNya. Allah yang membolak-balikkan hati manusia. Allah yang menutupi cacat manusia. Allah yang meringankan kesedihan manusia.

Shalawat semoga tercurah kepada Pemimpin Rasul. Rasul yang menyatukan kembali (elemen-elemen) agama yang tercerai berai. Nabi yang “Memutus Ekor” dari orang-orang yang mengingkari agama. Shalawat semoga tetap tercurahkan kepada keluarganya yang baik dan suci.

‘Amma ba’du — formula yang dipakai ulama klasik setelah menyampaikan pembukaan dalam kitab atau pidato sebelum masuk ke inti pembahasan.

Adapun kemuliaan manusia dan keunggulannya, yang dengan itu mengungguli ciptaan-ciptaan Allah yang lain, terletak pada satu hal: yakni pada kemampuan manusia untuk mengetahui (mencapai) Allah Swt. Keunggulan ini tidak dijumpai pada ciptaan yang lain seperti binatang. Hanya mansia yang punyai kapasitas mental dan spiritual seperti itu. Dengan kapasitas itu dia unggul. Kapasitas untuk mengetahui Tuhan itulah yang menjadi sumber keindahan manusia, kesempurnaan manusia, dan sumber kebanggaan manusian. Di akhirat nanti kemampuan untuk mengetahui Tuhan menjadi sarana dia untuk mencapai kesempurnaan, simpanan untuk mencapai keselamatan.

Sesungguhnya manusia memiliki kesiapan untuk mengetahui Tuhan dengan hatinya, tidak dengan anggota badan lainnya. Hatilah sarana manusia untuk makrifat. Hanya hatilah yg bisa mengetahui Allah, menjangkau Allah, dan taqarrub kepada Allah. Hati juga yang bertindak untuk Allah. Dan hati juga yang “berlari” (sa’i) menuju Allah. Jadi hati adalah instrumen, wahana, alat yang sangat penting karena Allah hanya bisa didekati dengan hati.

Hati juga yang diberikan mukasyafah (ketersingkapan). Ini adalah istilah khas dalam tasawuf. Manusia, dalam tradisi tasawuf digambarkan sebagai makhluk yang terhalang, terhijab, tidak bisa mengetahui Allah. Hanya orang yang berusaha keras untuk mendekati Allah yang akan dibukakan tabirnya. Orang yang dibukakan tabirnya disebut mengalami mukasyafah, pengalaman spiritual yang selalu menjadi topik dalam tasawuf. Muskasyafah dicapai melalui hati. Pengetahuan-pengetahuan terdalam yang ada pada Allah dibukakan kepada manusia melalui mukasyafah yang wahananya adalah hati.

Dan sesungguhnya anggota badan hanya pengikut dan pelayan (tools, asisten) yang dipakai hati. Hati manusia seperti seorang raja yang mempekerjakan hambanya untuk menjalan perintahnya. Seperti gembala terhadap gembalaannya. Seperti produsen yang menjalankan alat. Hati adalah yang diterima di sisi Allah, namun syaratnya adalah dia bersih dari ikatan-ikatan selain Allah. Dari attachment selain kepada Tuhan. Jika tidak bersih dari ikatan-ikatan lain maka tidak akan sampai kepada Tuhan.

Jadi kuncinya adalah hati. Hati manusia juga yang mengalami hijab ketika ia tenggelam pada hal-hal selain Allah. Jadi manusia bisa dekat dengan Allah karena hati, dan terhalang dari Allah karena hati. Hati manusia menjadi sasaran tuntutan moral yang “ditagih”, yang menjadi interlocutor (lawan bicara, mukhathab) dengan Allah, yang obyek perintah-perintah Tuhan, dan hati juga yang menjadi sasaran kritik (teguran) Allah.

Hati yang merasakan kebahagiaan dengan dekat dari Allah ketika dibersihkan (tazkiyah). Tazkiyah juga istilah khas dalam tasawuf. Dan hati manusia juga yg merasa rugi, merasa celaka, ketika manusia mengotorinya. Dan hati juga yang melakukan ketaatan dengan sesungguhnya kepada Allah Ta’ala.

Dan sesungguhnya yang menyebar atas seluruh anggota badan. Ketika manusia beribadah, ada cahaya yang menyebar ke seluruh tubuh dan sumbernya adalah dari hati. Tetapi hati juga yang membangkang, memberontak kepada Allah. Ketika pemberontakan itu meninggalkan bekas-bekas kegelapan, maka itu sumbernya dari hati juga. Qur’an menggambarkan orang yang sering bersujud kepada Allah ada cahaya yang muncul dari wajahnya. Sumber cahaya itu dari hati. Gelap atau terangnya hati akan menampakkan jejaknya pada lahir, wajah manusia. Inner beauty — sumbernya hati manusia.

Karena semua “bejana mengeluarkan/memercikkan sesuatu” yang ada di dalamnya. Kalau kosong, maka tidak ada yang bisa dikeluarkan/dipercikkan. Dengan kata lain hati manusia seperti bejana. Dia memercikkan apa yang ada di dalamnya. Hati itu sekadar wadah bagi cahaya atau kegelapan. Karena itu hati menjadi pusat pembahasan Imam Ghazali dalam kuadran ketiga ini.

Hati itu sesuatu yang jika manusia mengetahuinya, maka ia akan mengetahui dirinya. Sebagian besar manusia tidak mengenal hatinya dan dirinya. Klise, tapi penting untuk direnungkan karena sebagian besar manusia lalai pada dirinya dan hatinya. Padahal jika manusia tidak mengenal hatinya, maka ia tidak akan mengenal dirinya, anggota tubuhnya, lingkungannya, habitatnya, ekologinya. Pengetahuan tentang hati dimungkinkan jika kita mengenal hatinya sendiri. Dan jika tidak mengenal dirinya maka manusia tidak akan mengenal Tuhannya. Knowing God depending on how you know your heart.

Kita bisa merenungkan sendiri apakah kita benar-benar kenal dengan dirinya? Atau seolah-olah kenal tapi tidak? Who we are? Who is our real self? Do we really know it? Jangan-jangan yang kita kenal adalah diri yang palsu, yang terbentuk karena lingkungan dan status sosial, atau hal-hal yang palsu. Sebagian besar manusia menurut Imam Ghazali, tidak mengenal dirinya, lalai. Itu kenyataan yg harus diakui. Klise tapi penting untuk selalu direnungkan.

Dan terhalang antara mereka dengan diri mereka. Sebagian manusia itu terhalang dari dirinya sendiri karena sesungguhnya Tuhan menghalangi antara seseorang dengan hatinya. Ini menarik: Tuhan seringkali menjadi hijab antara kita dengan diri kita sendiri. Allah menghijab. Di Quran dikatakan, “Aku lebih dekat kepada manusia dari urat lehernya sendiri.” Tetapi walaupun begitu kita tidak sadar akan kehadiran Tuhan.

Manusia memang seringkali tidak menyadari sesuatu yang dekat dengan dirinya. An elephant in the room… seringkali manusia tidak sadar bahwa dalam ruang yang terbatas ada makhluk besar yang tidak pernah kita lihat. Manusia seringkali abai, alpa, terhadap masalah besar yang dekat sekali. Yang dibahas justru yang jauh. Itu contoh bagaimana we ignore the elephant in the room. Kita dihijab dari diri kita oleh Tuhan, dengan cara mencegahnya untuk menyaksikan-Nya, dan untuk selalu awas (on looking) terhadap kehadiran Tuhan, mengetahui sifat-sifa Tuhan, dan tidak mengetahui bagaimana “terbolak-baliknya hati di antara dua jari-jari Tuhan.”

 

keterangan gambar: jurnalmuslim.com

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *