Tanda-Tanda Matinya Hati

matinya hati

Setiap manusia dianugerahi hati yang sangat luar biasa fungsinya. Adanya hati manusia dapat berkomunikasi dengan Tuhannya. Bahkan syarat sah ibadah salah satunya adalah niat, dan itupun harus menyertakan hati. Akan tetapi kondisi hati tidak selalu menetap, ada kalanya hati selalu hidup dan terkadang juga mati.

Memancarnya cahaya Illahi dari hatimu meskipun kau belum mendapatkan cahaya itu karena tebalnya hijabmu. Itu merupakan tanda-tandanya hati yang hidup. Disisi lain ada pula tanda-tandanya hati yang mati. Menurut Ibnu Atha’illah al-Iskandari bahwa di antara tanda matinya hati adalah tidak adanya perasaan sedih atas ketaatan yang kau lewatkan dan tidak adanya perasaan menyesal atas kesalahan yang kau lakukan.

Bacaan Lainnya

Seseorang akan merasa enjoy saja ketika hatinya mati walaupun mereka melakukan hal yang seharusnya tidak dilakukan dan melanggar apa yang menjadi kewajibannya. Orang yang hatinya mati sangat rentan untuk melakukan dosa. Dengan rahmat Allah, sebesar apapun dosa tersebut tetap akan diampuni ketika seorang hamba tersebut benar-benar mau bertaubat. Jangan sampai kamu mengira dosa yang besar tersebut tidak dapat diampuni sehingga membuatmu putus asa, hal tersebut dapat merusak keimanan bahkan lebih buruk dari dosa yang dilakukan.

Keadilan Allah adalah kuasa-Nya untuk melakukan apa saja tanpa ada yang bisa menahan ataupun melarang-Nya. Ketika sifat adil Allah muncul di hadapan orang yang dibencinya, maka kebaikan-kebaikan orang itu akan diabaikan dan dosa-dosa kecil akan dipandang besar. Disamping itu masih ada sifat Allah yang maha pemurah, pemberianNya tanpa berharap balasan atau ganti. Jika sifat tersebut diberikan kepadamu, maka dosamu akan menjadi kecil dan jika muncul dihadapan orang-orang yang dicintaiNya, maka kesalahan dan keburukannya akan diabaikan, sedangkan dosa besarnya akan dipandang kecil.

Oleh sebab itu, asy-Syadzili kerap berdoa, “Ya Allah, Jadikanlah keburukan kami keburukan yang kau cintai dan jangan jadikan kebaikan kami kebaikan orang yang kau benci.” Maka jangan mudah berputus asa atas dosa-dosamu. Sebesar apapun dosa-dosamu maka kembalilah kejalan Allah. Memohon ampun, dengan sifat pemurah-Nya, Insyaallah akan diampuni jika kamu sungguh-sungguh untuk bertaubat.

(Sumber Referensi : Kitab Tasawuf Al-Hikam)

*) Oleh : Achmad Zaky Faiz, Mahasiswa Magang UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *