Berkorban Demi Negara

Berkorban Demi Negara

Berkorban Demi Negara

Oleh: Riski D.S.

Kini saya mengenal Nyi Ageng Serang. Mungkin jejeran nama pahlawan sudah banyak terdengar dan dibaca teman-teman saya, tetapi saya yakin mereka belum menganal Nyi Ageng Serang.

Beliau adalah salah satu keturunan Sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga adalah sala satu dari jajaran Wali Songo yang menyebarkan agama Islam. beliau juga salah satu yang akan seorang cucu yang bernama Ki. Hajar Dewantara atau R.M. Sorwardi Surjaningrat. Nyi Ageng Serang sudah terbiasa dan rajin mengikuti pelatihan-pelatihan kemiliteran. Beliau juga sangat sering mengikuti ayahnya turun ke medan perang untuk mengusir para penjajah. Selang waktu dan setelah ayahnya wafat Nyi Ageng Serang menggantikan kedudukan ayahnya untuk pasukan perang.

Dalam masa kepemimpinannya, ketika perang Diponegoro pada tahun 1825. Nyi Ageng Serang yang setia terhadap ayahnya bersama Pangeran Diponegoro dan menantunya Raden Mas Pak-Pak ikut bersama-sama berjuang melawan penjajah. Nyi Ageng Serang yang umurnya sudah 73 tahun beliau ikut berperang di atas tandu. Setelah 3 tahun ikut berperang Nyi Ageng Serang sudah tidak kuat lagi dan kekuatannya tidak memadai. Pada tahun 1928 Nyi Ageng Serang  wafat dan digantikan oleh Raden Mas Pak-Pak.

Saya mengenal Nyi Ageng Serang sebagai pahlawan perempuan, dan kini saya mengerti betapa kuatnya pahlawan-pahlawan perempuan demi Indonesia. Saya yakin akan lahir pejuang-pejuang perempuan lainnya yang akan berjuang mengisi kemerdekaan.

*Siswa asli Magelang, kelas VIII MTs Binaul Ummah Bantul.

_________

Semoga artikel Berkorban Demi Negara ini dapat memberikan manfaat dan barokah untuk kita semua, amiin..

BONUS ARTIKEL TAMBAHAN Berkorban Demi Negara

Zainab Ats-Tsaqafiyah, Kisah Sahabat Perempuan yang Kaya Raya

Namanya adalah Zainab Ats-Tsaqafiyah RA. Beliau adalah sahabat perempuan Nabi Muhammad dari golongan bangsawan yang kaya-raya. Zainab berasal dari kabilah Bani Tsaqif di Thaif.

Ia menikah dengan Sahabat Abdullah bin Mas’ud, seorang sahabat Nabi SAW yang tadinya hanyalah seorang buruh penggembala kambing. Islam telah memuliakan Abdullah bin Mas’ud dengan kemampuannya di dalam Al Qur’an, bahkan Nabi SAW memuji bacaannya, tepat seperti ketika Al Qur’an diturunkan. Tentu saja Ibnu Mas’ud hanyalah dari kalangan biasa dan miskin, bahkan kondisi fisiknya ada kekurangan (cacat).

Walau dengan ‘derajat’ duniawiah yang begitu jauh berbeda, Zainab bersedia dinikahi Ibnu Mas’ud, karena ia menyadari kekayaan dan kebangsawanannya belum tentu bisa menjamin keselamatannya di akhirat kelak. Tetapi dengan menjadi istri dan pendamping seorang sahabat yang begitu dimuliakan Rasulullah SAW, ia yakin akan memperoleh keistimewaan masuk surga, asal dengan ikhlas mengabdi pada suaminya tersebut.

Suatu ketika Zainab mendengar Nabi SAW bersabda, “Wahai kaum wanita, bersedekahlah kamu sekalian, walaupun harus dengan perhiasanmu…!!”

Ketika tiba di rumah dan bertemu dengan suaminya, Abdullah bin Mas’ud, ia menceritakan sabda Nabi SAW tersebut dan berkata, “Sesungguhnya engkau adalah orang yang tidak mampu, tolong datang dan tanyakan kepada Nabi SAW, apa boleh aku bersedekah kepadamu, jika tidak boleh, aku akan memberikannya kepada orang lain…!!”

Tetapi Ibnu Mas’ud merasa tidak enak dan malu menanyakan hal tersebut kepada Nabi SAW, karena ia dalam posisi berhak tidaknya menerima sedekah dari istrinya sendiri. Apalagi ia mempunyai kedekatan khusus dengan beliau. Karena itu ia berkata kepada istrinya, “Kamu sendiri saja yang datang kepada beliau dan menanyakannya…!!”

Dengan perintah atau ijin suaminya tersebut, Zainab datang ke rumah Nabi SAW, ternyata di sana telah ada seorang wanita Anshar menunggu Nabi SAW hadir/datang untuk menanyakan hal yang sama dengan dirinya. Seperti telah memperoleh isyarat, Nabi SAW memerintahkan Bilal keluar menemui dua wanita tersebut, dan Zainab berkata, “Wahai Bilal, sampaikan kepada Rasulullah SAW, dua orang wanita menanyakan kepada kepada beliau, apa boleh kami memberikan shadaqah kami kepada suami dan anak-anak yatim yang kami asuh? Tetapi, tolong jangan dijelaskan siapa kami!!”

Bilal masuk kembali menemui beliau dan menyampaikan pertanyaan mereka berdua. Tetapi Nabi SAW justru menanyakan identitas mereka berdua sehingga Bilal tidak mungkin menyembunyikannya, ia berkata, “Seorang wanita Anshar dan Zainab, ya Rasulullah!!”

“Zainab yang mana?” Tanya Nabi SAW.

“Istri Abdullah bin Mas’ud…!!”

Nabi SAW bersabda, “Jika itu yang dilakukannya, kedua wanita tersebut akan mendapat dua macam pahala, pahala membantu kerabatnya, dan pahala shadaqah….!!” Bilal menyampaikan jawaban Nabi SAW, dan tentu saja Zainab beserta wanita Anshar tersebut sangat gembira.

“Ijtihad” mereka tentang shadaqah ternyata dibenarkan beliau, bahkan memperoleh pahala berlipat.

Demikian Zainab Ats-Tsaqafiyah, Kisah Sahabat Perempuan yang Kaya Raya. Semoga Bermanfaat.

Penulis: Amrullah

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *