Allah yang Menggerakkan Hati Manusia

kjabsxab

Tulisan ini adalah resume Ngaji Kitab Ihya’ Ulumuddin pada hari pertama dari Kiai Ulil Abshar Abdala selama bulan Ramadhan. Ngaji ini diresume oleh Nurul Agustina dan sudah diupload di facebooknya.

Bacaan Lainnya

Dalam ungkapan Amir Hamzah, penyair Pujangga Baru, hati manusia itu seperti bertukar tangkap. Dinamis, kadang jauh kadang dekat, kadang cemas kadang bahagia, kadang optimis kadang pesimis, kadang merasa lega kadang sempit, oscillation, swing. Tuhanlah yang menggerakkan hati manusia sebagai pendulum yang selalu bergoyang. Karena itu Rasulullah selalu berdoa “Allahumma tasbbitni ala dinik” (dibaca pada tasyahud akhir, sebelum salam).

Cara Tuhan menghalangi manusia dari dirinya: Pertama dengan cara manusia tidak menyadari kehadiran Tuhan. Dan kedua, dengan cara hati kadang merosot sekali ke derajat yang paling rendah, terjerembab ke dalam cakrawala syaitan. Karena kealpaannya, lupa diri, lupa daratan, menjadikannya lebih rendah dari binatang. Tetapi kadang manusia bisa terbang pada saat yang lain ke derajat yang paling tinggi, dan naik ke alam para malaikat yang dekat dengan Tuhan. Itulah hati dan keadaan manusia. Selalu terombang-ambing: kadang ke kubu setan, kadang bisa ke derajat para malaikat.

Kata-kata Imam Ghazali itu bisa didengar begitu saja, lewat, klise. Tetapi kata-kata itu punya pengaruh jika kita renungkan. Dan barang siapa yang tidak mengetahui hatinya sehingga bisa mengawasi dan menjaganya, dan berjaga-jaga kalau ada sinar yang kuat (cemleret, Jw) dari “gudang” kerajaan Tuhan yang masuk ke dalam hatinya, maka dia termasuk orang-orang yang disindir sebagai orang yang “lengah dari Allah sehingga Allah menjadikan lengah kepada dirinya”. Manusia yang lengah dari Tuhan, sehingga lengah dari dirinya sendiri. Atau sebaliknya, saling berkaitan. Merekalah orang-orang yang fasik, yang lupa daratan, yang lupa dirinya.

Fasik (dari kata fasaqa) berarti orang keluar dari jalan yg wajar, yang “menyebal”, karena lengah. Loosing the trail, tersesat, kehilangan jejak lalu bingung, lengah, lupa pada tujuan akhir dari hidupnya, yakni Allah. Itulah yang disebut orang fasik. Karena itu mengetahui hati dan sejatinya sifat-sifat hati adalah pokok agama dan dasar dari orang-orang yg berjalan menuju Tuhan (salik)

Inilah pengantar Imam Ghazali dalam bab pertama mengenai keajaiban hati. Dan ketika kita selesai dari (menelaah) bagian awal kitab ini yakni yang berkenaan dengan ilmu dzahir (ilmu lahir), yakni ibadah, muamalah, tindakan fisik, maka bagian kedua mengulas sesuatu yang terjadi pada hati manusia dari sifat-sifat yang mencelakakan dan menyelamatkan. Dan itu yang disebut ilmu bathin. Maka sudah seharusnya dituliskan pengantar terhadap pembahasan mngenai ilmu bathin terkait hati, yang terdiri dari dua kitab: (1) keterangan tentang keajaiban-keajaiban, hal-hal yang luar biasa dari hati manusia dan akhlak-akhlaknya, (2) tentang cara-cara mendisiplinkan hati, technology of self (Michel Foucault), teknik membersihkan hati.

Untuk menjelaskan keajaiban hati Imam Ghazali menggunakan permisalan, analogi, metafora, pasemon, karena rumit agar bisa dipahami (oleh awam), karena penjelasan mengenai keajaiban dan rahasia hati yang masuk ke alam malakut. Ada dua alam: alam syahadah/fisik/indra, dan alam malakut/kerajaan tuhan. Pengetahuan tentang hati dan rahasianya termasuk ke dalam alam kedua. Sebagian manusia tidak mampu memahami hati, intangible, alam malakut, alam rahasia Tuhan. Hanya sedikit orang yg bisa masuk ke sana. Kitab ‘Ihya membantu kita untuk “melihat” alam malakut

Inilah yang disebut psikologi Imam Ghazali, yang terkait dengan sesuatu yang metafisik, transenden, yang mengandaikan hati manusia berhubungan dengan sesuatu yang di luar dirinya. Jadi berbeda dari psikologi modern seperti psikoanalisa Freud.

sumber foto: regional.liputan.com

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *