Makna dan Hakekat Ucapan Selamat Hari Raya Idul Fitri

Makna dan Hakekat Ucapan Selamat Hari Raya Idul Fitri

Posted on

Makna dan Hakekat Ucapan Selamat Hari Raya Idul Fitri.

Selamat Idul Fitri. Minal aidin wal al-faizin, mohon maaf lahir dan batin adalah sebuah ungkapan lazim, populer di kalangan masyarakat setiap kali memperingati hari raya Idul Fitri. Ungkapan ini sebenarnya kurang bisa dipahami jika tidak mengetahui lafadnya yang lengkap, yaitu ja’alanallahu wa iyyakum minal aidin wal faizin (semoga Allah berkenan mengembalikan diri kita kepada fitrah kesucian sehingga menjadi orang-orang yang menang).

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

Itulah sebabnya, istilah Idul Fitri dengan jelas menunjukkan makna kembali kepada fitrah atau kesucian. Mengapa disebut kembali? Karena di sana ada logika bahwa kita telah bergerak dari suatu tempat/keadaan ke tempat lain, yang mengacu pada aktivitas di dalam waktu.

Artinya, ketika Allah meniupkan ruh ke dalam jasad manusia, maka hidup ini telah dimulai. Meminjam istilah sastrawan Eropa, Dante—sebagaimana dikutip oleh Komaruddin Hidayat (2001)—hidup manusia dimulai di alam paradiso (Arab: firdaus), yakni alam kebahagiaan, karena pada saat itu fitrah atau kejadian asal manusia masih suci dan bersih. Sampai tiba masanya manusia bersentuhan secara fisik maupun mental (kesadaran) dengan alam materi yang membuatnya tidak lagi bersih dan suci. Semakin lama ia tenggelam dalam kemeriahan alam materi, semakin kotor pula alam rohanianya, maka terjatuhlah manusia itu ke alam inferno, alam kesengsaraan.

Dalam keadaan demikian, untuk bisa kembali ke alam paradise, manusia harus melalui proses perbersihan diri di alam purgatorio. Bagi umat Islam, alam purgatorio tersebut tidak lain adalah bulan Ramadhan, bulan istimewa yang didatangkan oleh Allah Swt. sebagai rahmat, ampunan (maghfirah) dan sekaligus sebagai pencegah agar manusia tidak jatuh ke alam inferno. Allah Swt. memberikan kesempatan kepada umat Islam terutama di bulan Ramadhan untuk membersihkan diri dari materi alias dosa, sehingga dapat masuk kembali ke alam paradise, yang membawa kebahagiaan yang dilambangkan dengan hari raya Idul Fitri.

Baca Juga >  Prof Musa Asy'ari: Ziarah Itu Penting dan Perlu

Saling memaafkan

Nurcholish Madjid (1994) menyimpulkan bahwa inti perayaan Idul Fitri ialah bersihnya kita dari dosa-dosa kepada Allah. Kemudian dilengkapi dengan memohon maaf kepada sesama, serta saling memaafkan. Ketika itulah kita berada dalam fitrah yang suci, dan kembalinya fitrah itu diperingati sebagai hari raya Idul Fitri.

Sementara itu, Quraish Shihab (1992) berpendapat bahwa seorang yang ber-Idul Fitri dalam arti kembali ke kesuciannya akan selalu berbuat yang indah, benar, dan baik. Mengapa demikian? Karena kesucian merupakan gabungan dari tiga unsur tersebut (indah, benar, dan baik). Lewat kesucian jiwanya, seseorang akan memandang segalanya dengan pandangan positif; ia selalu berusaha mencari sisi-sisi yang baik, benar, dan indah, yang menurut ahli tafsir akan melahirkan seni, menimbulkan etika dan pada akhirnya menghasilkan ilmu.

Dengan pandangan itu ia akan menutup mata terhadap kesalahan, kejelekan, dan keburukan orang lain. Kalaupun itu terlihat, selalu dicarinya nilai-nilai positif dalam sikap negatif. Dan kalaupun itu tak ditemukannya, ia akan memberinya maaf bahkan berbuat baik kepada yang melakukan kesalahan.

Islam melalui nash maupun institusi ibadahnya memberikan concern terhadap maaf-memaafkan; suatu dimensi sosial kehidupan yang menurut Alquran sangat sentral untuk ditegakkan. Sebab, dari sinilah kehidupan kemasyarakatan yang sehat bisa dimulai.

Jika suatu masyarakat telah tumbuh saling curiga dan semangat balas dendam, maka sebuah petanda bahwa masyarakat tersebut sedang sakit. Proses penyembuhannya tidak lain kecuali melalui cara-cara damai, antara lain melalui konsep islah (rekonsiliasi). Karena dengan konsep islah, manusia bisa saling mengenali secara baik kultur kehidupan masing-masing individu untuk kemudian dicarikan penyelesaian terbaik.

Demikian penjelasan makna dan hakekat ucapan Selamat Hari Raya Idul Fitri.

Selamat merayakan Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin.

Penulis: Dr KH Ali Usman, dosen UIN Sunan Kalijaga.