ucapan minal aidin wal faizin

Makna Minal ‘Aidin Wal Faizin Menurut Rais Syuriah PCNU Bantul

Posted on

Ucapan Minal ‘Aidin wal Faizin dalam bahasa Indonesia berarti ‘Semoga kita termasuk orang yang kembali dan menuai kemenangan’.

Adalah do’a yang lazim diucapkan oleh sesama muslim ketika bertemu saat momentum idul fitri. Setelah menunaikan sholat ied lazimnya mereka saling bersalaman dan mengucapkan selamat dan do’a:

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

تقبل الله منا ومنكم

جَعَلَناَ اللهُ وَ إِياَّكُمْ مِنَ الْعَائِدِيْنَ وَ اْلفَائِزِيْنَ

Kita yakin, orang yang mengucapkannya tidak akan memaknainya “kembali pada kemaksiatan pasca Ramadhan, meraih kemenangan atas bulan Ramadhan sehingga kita bisa kembali berbuat keburukan”.

Juga jangan memaknai Minal ‘Aidin Wal Faizin’ dengan ‘Mohon Maaf Lahir Batin’, hanya karena biasanya dua kalimat itu beriringan satu sama lain. Itu sama saja dengan ‘membahasa-Inggriskan’ keset dengan welcome, dengan alasan tulisan itu biasanya ada di keset.

Makna popular kalimat tersebut adalah ‘Ja’alanallahu wa iyyakum minal ‘aidin ilal fithrah wal faizin bil jannah’  (Semoga Allah menjadikan kita semua sebagai orang yang kembali pada fitrah dan menuai kemenangan dengan meraih surga).

Jadi jangan khawatir. Maknanya bukan kembali ke perbuatan maksiat dan menang telah menaklukkan Ramadhan. Tanda orang yang diterima ibadahnya, ia makin meningkatkan ketaatan dan makin meninggalkan kemaksiatan (min ‘alamati qabulit-tha’ah fa innaha tajurru ila tha’atin ukhra).

Apa makna fitrah?

Setidaknya ia memiliki dua makna: Islam dan kesucian.

Makna pertama diisyaratkan oleh hadits:

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ وَيُنَصِّرَانِهِ وَيُمَجِّسَانِهِ

“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanyalah yang menjadikan dia sebagai Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR al-Bukhari dan Muslim)

Baca Juga >  Membalikkan Telapak Tangan Ketika Qunut Nazilah

Sisi pengambilan kesimpulan hukum atau wajh al-istidlal-nya, Nabi telah menyebutkan agama-agama besar kala itu, namun Nabi tidak menyebutkan Islam. Maka fitrah diartikan sebagai Islam.

Dengan ujaran lain, makna kembali ke fitrah adalah kembali ke Islam, kembali pada ajaran, akhlak, dan keluhuran budaya Islam.

Makna fitrah yang kedua adalah kesucian.

Makna ini berdasarkan hadits Nabi:

الْفِطْرَةُ خَمْسٌ أَوْ خَمْسٌ مِنْ الْفِطْرَةِ: الْخِتَانُ وَالِاسْتِحْدَادُ وَتَقْلِيمُ الْأَظْفَارِ وَنَتْفُ الْإِبِطِ وَقَصُّ الشَّارِبِ

“Fitrah itu ada lima: khitan, mencukur bulu kemaluan, memotong kuku, mencabut/menghilangkan bulu ketiak, dan memotong kumis.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Kelima macam fitrah yang disebutkan dalam hadits ini kesemuanya kembali pada praktik kebersihan dan kesucian. Dapat disimpulkan kemudian bahwa makna fitrah adalah bersih dan suci.

Jadi, ‘minal ‘Aidin ilal fithrah’, berarti kita mengharap kembali menjadi orang bersih dan suci. Dengan keyakinan pada hadits Nabi, orang yang shiyam dan qiyam (berpuasa dan menghidupkan malam) di bulan Ramadhan, karena iman dan semata mencari ridha Allah, akan diampuni dosanya yang telah lalu. Harapannya, semoga kita seperti bayi yang baru lahir dari rahim ibu, bersih- yang dari salah dan dosa. Amin…

Semoga Bermanfaat. Amiinn Yaa Robbal ‘Alamin.

(KH Damanhuri, Rais Syuriah PCNU Bantul)