habib umar yaman

Kisah Impian Seorang Anak Yatim dari Tarim

Posted on

Tarim, pada satu Jum’at di tahun 1972.

Ia terlihat sangat lelah, tubuhnya bermandikan keringat, hampir setengah hari ia berkeliling mencari dimana keberadaan ayahnya, entah sudah berapa puluh orang yang ia tanyai.

Hari Jum’at itu seperti biasa ayahnya mengajaknya sholat jum’at di Masjid Jami’ Tarim, sesampainya di masjid, sang ayah menitipkan ridanya’ (selendang) padanya.

“Engkau masuk ke masjid dulu, ayah mau tanda tangan dulu.”

Info Peluang Usaha Depot Air Minum Isi Ulang by INVIRO

Itulah terakhir kali ia melihat sang ayah, ia tak tahu kemana ayahnya pergi, ia hanya mendengar dari orang-orang bahwa ayahnya telah diculik dan dibunuh oleh pemerintah Komunis.

Kala itu Al-Hizbu Al-Isytiraki (partai Komunis Yaman) memang sedang berkuasa di Tarim, madrasah-madrasah ditutup, pengajian-pengajian agama dilarang, Ulama-ulama diintimidasi dan diancam. Setiap hari mereka di wajibkan untuk menandatangani kertas bukti bahwa mereka ada di kota dan tak pergi kemana-mana. Salah satu dari mereka adalah Habib Muhammad Bin Salim, ayah dari anak kecil itu yang kala itu menjabat sebagai Grand Mufti Tarim.

Apalah daya anak kecil berusia 9 tahun, di hari itu ia hanya bisa menangis dan menangis, kala itu ia bisa saja menyerah pada pahitnya kenyataan, dan dunia akan memakluminya. Bukankah ia hanyalah seorang anak miskin yang tinggal di kota terpencil Yaman dan baru saja kehilangan ayah yang juga pendidik utamanya? Dunia yang sedang tak bersahabat dengannya kala itu seakan berkata padanya : “Sekarang apa yang bisa kau lakukan nak?”

Tapi tidak, ia tak berhenti disitu, ia memilih untuk tetap melangkah dengan membawa sebuah impian, meneruskan perjuangan sang ayah untuk mengemban amanah dakwah dan melihat panji-panji Islam berkibar di seluruh penjuru bumi.

Beberapa tahun kemudian ia masih saja mendapat ancaman dan intimidasi, keluarganya khawatir iya akan bernasib sama seperti sang ayah, akhirnya ia dilarikan ke Yaman Utara, tepatnya di kota Baidho’. Disana ia belajar dan kemudian mengajar di Ribath Baidho’ asuhan Habib Muhammad Al Haddar. Dari sana ia juga sering berkunjung ke Mekkah dan Jeddah untuk mengambil ilmu dari ulama-ulama di sana.

Di awal tahun 90-an ia kembali ke Tarim, ia mulai merintis dakwahnya, partai Komunis tak lagi berkuasa, tapi Aliran Salafi-Wahhabi semakin merajalela, imbasnya mereka menuduhnya sebagai Dai’ Musyrik, Syi’ah, penyembah kuburan, Penyebar bid’ah dan julukan-julukan lainnya.

Baca Juga >  Kisah KH Humam Bajuri Menulis Kitab Qowa'id Fiqhiyyah

Ia seakan berjuang sendirian, dan keadaan kembali menuntutnya untuk menyerah dan berhenti, untuk apa ia terus melangkah? Bukankah dakwah dan niat tulusnya malah dibalas dengan fitnah, cacian dan cibiran. ? Tapi tidak, ia tak menghentikan langkahnya, ia tak peduli akan cacian atau pujian mereka. Selama impian yang ia bawa diridhoi Allah, ia yakin Allah akan selalu membuka pintu taufiq dan pertolongan-Nya.

Dan sekarang, ketika ribuan mata tertuju padanya, ketika orang-orang berebut untuk mendekat dan menciumi tangannya, ketika semua menunggu setiap kalimat yang keluar dari lisannya, mungkin banyak dari mereka yang tak tahu, bahwa kemuliaan yang ia dapatkan saat ini adalah buah dari beratnya perjuangan, ketulusan, dan ketabahannya dalam menghadapi pahit dan pedihnya kehidupan.

Kini Anak Yatim yang menangis di hari Jum’at puluhan tahun silam itu telah menggapai impiannya, namanya ada di deretan para ulama Islam paling berpengaruh di dunia. Ribuan orang datang untuk berguru padanya, murid-muridnya tersebar dimana-mana, ia telah membuat Tarim menjadi salah satu kiblat bagi para pencari ilmu dari seluruh penjuru bumi. Ia adalah Habib Umar Bin Muhammad Bin Hafidz.

Yang paling menakjubkan darinya, meski dari kecil ia sudah harus merasakan berbagai cobaan, meski ia seringkali mendapat fitnah dan cibiran, tapi ia tak pernah marah atau mengeluh, ia tak pernah mau mencibir, menggunjing atau menjelek-jelekkan seseorang, tak pernah terdengar darinya kata-kata cacian atau makian. Dari dulu hingga sekarang ia tetaplah sosok yang kami kenal, sosok yang tenang, teduh, dengan akhlak yang luhur dan wajah bercahaya yang selalu dihiasi oleh senyuman.

Dari beliau kami belajar bahwa impian luhur nan mulia hanya bisa didapatkan dengan kesungguhan, ketulusan, perjuangan dan kesabaran.

لا تحسبن المجد تمرا أنت آكله * لن تبلغ المجد حتى تلعق الصبرا

“Jangan kau kira kemuliaan itu bagai buah kurma yang bisa kau makan begitu saja, engkau tak akan mencapai kemuliaan itu hingga engkau mencicipi pahit dan pedihnya kehidupan”

Tarim, 29 Juni 2017.

penulis: Ismael Amin Kholil.