Kebangkitan Islam Milenial

Milineal

Oleh: Edi AH Iyubenu, Esais dan Wakil Ketua LTN PWNU DIY, @edi_akhiles, FB: Edi Mulyono

Semalam, di antara alun takbir, saya berbincang dengan sejumlah kawan takmir mushalla, di antaranya adalah pembimbing skripsi saya dulu. Beliau bertanya tentang disertasi saya, saya jawab tentang nilai-nilai Burdah dalam praktik keislaman masa kini.

Bacaan Lainnya

Ia lalu menyiangi riset saya dengan pendekatan sosiologi agama. Lalu muncul istilah revivalisme Islam milenial atau kebangkitan Islam urban-virtual-iyig.

Ya, ini serius.

Teologi kota, begitu istilah akademisnya, atau gairah masyarakat urban kota untuk mengentaskan dirinya dari belenggu kerja, rutinitas, kemacetan, dan depresi, telah memantik kerinduan-kerindual asali, primordial, pada sumber spiritualitas yang kerap betul dicampakkan. Rindu pada sakralitas masa silam, masa kecil, yang dikangkangi dengan gagah oleh jejalan profanitas materialisme-rasionalisme khas kota. Ini sesungguhnya hal yang lazim alamiah belaka. Bukan suatu yamg mengejutkan. Perjanjian primordial manusia dan Tuhan di alam rahim kala ruh ditiupkan pada suatu titik akan mengentakkan kerinduan rohaniah tersebut. Sori, tepatnya spiritualitas.

Begini bedanya. Spiritualitas macam hujan yang turun dari langit, membawa hawa sejuk dan segar. Jatuh ke kondisi tanah macam apa pun, ia tetaplah kesegaran. Ia adalah Universalitas Ilahiah.

Adapun rohani adalah wadah personal yang jelas tak sama kondisinya. Ada yang sempit, besar, terbatas, sangat luas, bersih, kotor, kusam atau berkarat. Macam-macam. Ia adalah partikularitas kita. Dan ia asalinya selalu ada.

Maka wajar kemampuan serapan air hujan itu berbeda-beda antarorang. Ada yang, misal, mendengar 11 ayat pertama al-Mulk, hatinya gemetar, matanya basah, suaranya serak, tubuhnya takut benar. Ada yang biasa saja. Bahkan ada pula yang merasakannya sebagai gangguan pendengaran saja. Macem-macem.

Akan tetapi, segimana bebalnya, tiap kita secara khittah asali tetap memiliki ruang rohani itu. Sekecil apa pun, seberkarat apa pun. Pada suatu titik, bisa jadi karena adanya pemantik atas suatu duka atau kegagalan, ruang rohani itu terbuka dan mampu menyerap tetes-tetes hujan. Ya, meski hanya tetes-tetesnya. Lahirlah kerinduan pada spiritualitas, pada Yang Ilahi. Apalagi, pada dasarnya, mayoritas orang urban yang menyesaki jalanan kota kini dulunya adalah orang-oramg desa yang lekat dengan tradisi religiusitas. Ingatan-ingatan pun menggenangi batin.

Sebagian hanya berhenti sebatas pekuran. Sebagian lain meruah jadi pencarian rohani. Lalu mencari guru-guru dan ruang-ruang yang dirasanya bisa meruahkan panggilan rohaninya.

Paling praktis dan instan kini ialah menggunakan dunia digital. Yutub, sosmed, menjadi tumpuannya.

Memang, jalan instan ini cukup tricky. Kalau ketemunya situs atau link yang Kanan, akan jadi kananlah ia. Kalau Kiri, jadi kirilah ia. Semua warna spiritualitas yang ditampung rohaninya sesuai dengan ke jalur mana ia berlabuh. Ia akan menjadi link dan situs apa yang ia gurui.

Sebagian lain meluaskan lagi dengan mengikuti sejumlah majelis ilmu dan dzikir. Dengan bentuk macam-macam, dengan metode dan guru yang juga macam-macam.

Semua jalan merengkuh spiritualitas ini pada asalinya baik dan oke saja, dan inilah trciky-nya,  andai diiringi dengan pengertian mendasar bahwa mendekatkan diri pada Allah dan belajar keilmuan Islam adalah pekerjaan seumur hidup dan realitas kamajemukan tak terbatas dalam pencarian, pemikiran, dan metode berslam adalah keniscayaan yang tak perlu dibantah, apalagi hendak diseragamkan.

Faktanya, ini banyak terjadi, instanitas hasrat untuk menggelembungkan ruang rohani itu tak diiringi pengertian-pengertian tersebut. Baru jalan semeter, sudah merasa melihat seluruh isi dunia. Lalu kagetlah ketika ia berpapasan dengan jalan-jalan yang lain. Resistensi menyeruak spontan. Terjadilah disharmoni. Debat kusir benar versus salah, sesuai sunnah Rasul dan bid’ah, yang membikin hawa nafsu meledak hingga alpa pada ruang rohaninya malah terberhalakan. Rohani pun tak terasah. Hanya pekik dan serapah hawa nafsu yang menajam.

Faktor sibuk, tak sempat, dan pengin cepat khas orang kota makin mengeruhkan keadaan. Lihatlah bagaimana panggung-panggung religi di kota-kota yang penuh selebrasi begitu luar biasa diminati. Sangat marak. Sumbangsih media publik luar biasa perannya, termasuk sentuhan pelbagai packing entertaining dan sekaumnya. Jadi satu paket komplit. All in. Iman terselebrasikan sedemikian gebyarnya, misal, melalui pelbagai julukan yang menyeolahkan itu kesahihan esensial padahal dulunya tak dikenal sama sekali dalam khazanah Islam awal hingga leluhur wira’i kita.

Satu sisi ini adalah cermin kerinduan tadi. Namun di sisi lain ia rawan betul jatuh pada sekadar kolam-kolam residu yang disangka samudra. Bayang-bayang. Dari air hujan spiritualitas di hadapan ruang rohani yang dimiliki. Yang disangka adalah INILAH ALLAH! Satu-satunya pula. Dan karenanya harus begini.

Euforia. Histeria. Berjumpa dengan, maaf, komodifikasi, jadilah itu semua tipikal sosiologi agama milenial, bukan lagi pure AGAMA.

Ibarat perahu di tengah samudra, terombang-ambinglah ia, sesuai angin yang mengempas dan mualim yang memimpin. Bila melihat kelebat lumba-lumba di depan mata, mereka teriak dengan bibir dinyetherkan di istagram: “Ya Allah, solehnya, alimnya, dermawannya, tampannya, seksinya…..” Di perahu yang mereka anggap kapal tanker di tengah keluasan samudra, hitam putih pun campur aduk. Yang haq dan batil tak lagi ada batasnya. Semua menjadi haq asal angin mengiring ke sana. Dan mualim pun mengarah ke sana.

Residu, bayang-bayang, kesumiran, dengan sepenuh tatapan yang meyakinkannya adalah Pulau yang selama ini dirindukan. Padahal itu hanyalah Pulau Misty.

Namun memang semua itu adalah rangkaian proses kebangkitan iman dan Islam pada diri-diri personal, pembukaan rohani, perluasannya, dan perluasannya di antara keriuhan kota yang gemebyar. Wajar terkurung residu, bayang-bayang, mari doakan saja semoga tak berhenti terpukau di hadapannya semata, dan terus bergerak, maju, dan maju, hingga pada masanya lalu dimengerti oleh Rasa Rohani bahwa kita adalah kefanaan semata dan Dia adalah Kesejatian yang Hakiki. Pada masa ini, tiada lagi apa saja selain WajahNya. Gemilang merkuri di taman kota hakikinya sama belaka dengan kerlip bintang nun jauh di sana.

Amin.

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *