Edi Mulyono

Jikapun Kita Berperan Sebagai Pendakwah, Jangan Melampaui Batas

Posted on

Oleh: Edi AH Iyubenu, Wakil Ketua LTN PWNU DIY

Sikap Hakiki Sang Mulim

Sependek tahuku, kandungan al-Qur’an muat tiga informasi besar:

Pertama, perihal kemahakuasaan Allh Swt.

Kedua, perihal aturan (syariat) yang ditetapkan Alah Swt dalam bentuk perintah-perintah dan larangan-laranganNya.

Ketiga, balasan atas amal perbuatan manusia di akhirat kelak. Ada surga buat yang patuh padaNya dan ada neraka buat yang ingkar padaNya.

Lalu, sifat ayat-ayat al-Qur’an ada dua:

Pertama, qath’iyah dalalah alias teramg jelas artinya, tak lagi butuh takwil manusia.

Kedua, dzanniyah dalalah, alias samar maknanya atau multimakna sehingga butuh takwil manusia.

Maka, lalu dari jenis ayat kedua inilah (dan jumlahnya jauh lebih dominan) lahir begitu banyak tafsir, takwil, pendapat, dan mazhab dalam bentang sejarah keislaman kita, sejak era para sahabat hingga zaman kita kini dan tentu sampai akhir zaman.

Karakter ayat kedua inilah yang justru menjadikan Islam selalu bisa relevan dengan dinamika zaman dan tempat. Karena itulah ia berlaku sepanjang masa. Inilah di antara mukjizat al-Qur’an.

Ihwal manusia mau beriman atau tidak, memeluk agama ini atau lainnya, itu urusan mutlak Allah Swt. Itu ketentuan dan ketetapan Allah Swt. Bahkan Rasul Saw dinyatakan olehNya hanya bertugas menyampaikan risalahnya dan tak bertanggung jawab terhadap sikap umatnya. Semua kita akan memikul amal masing-masing.

Maka kiranya tiada kepantasan dari segi apa pun bagi kita untuk menohok-nohoki sikap imani orang lain dan juga amaliahnya mau sejenis apa. Jikapun kita berperan sebagai pendakwah, jangan melampaui batas.

Apa yang dimaksud melampaui batas ialah merecoki sikap imani orang lain dan memicu perpecah-belahan di antara umat dan manusia luas. Itu batas larangannya. Bukalah surat Ali Imran 104-105.

Baca Juga >  Gus Dur: Kaum Muda NU Bangkit Tahun 2015

Adapun ihwal paham, pendapat, dan mazhab apa yang kita ikuti dalam berislam, silakan saja. Yang penting ialah sadar dan paham bahwa takwil dan tafsir khittahnya majemuk, terus dinamis, sehingga tak seragam. Tak boleh ada usaha menyeragamkannya jadi satu mazhab, karena itu rawan memicu perpecah-belahan hingga menjadi melampaui batas tadi.

Juga pahami dan sadari selalu bahwa semua takwil BUKANLAH sesuci dan semutlak ayat-ayat al-Qur’an dan hadis Rasul Saw. Sebab semua takwil adalah buatan ijtihad manusia yang tidak ma’shum.

Ia bisa benar, bisa pula luput, sembari yang lain pun bisa benar dan pula luput. Siapa yang berhak menentukan mana yang benar, hanyalah Allah Swt lah yang Maha Mengetahui dan Memutuskan kelak.

Karenanya, jika kita kebetulan beda pendapat, beda pahan, beda mazhab, beda imam, bahkan beda keyakinan, biarkanlah itu semua tetap dalam khittah kemajemukannya untuk berbeda dan biarkan pula Allah Swt yang memutuskannya.

An-Nisa 59: “…dan jika kalian berbeda pendapat dalam sesuatu maka kembalikanlah ia kepada Allah Swt dan RasulNya JIKA kamu beriman kepada Allah Swt dan hari akhir, itu lebih mulia bagimu dan lebih baik dampaknya….”

Lalu, terakhir, mari kita tingkatkan kualitas diri masing-masing saja, dalam hal iman, takwa, dan akhlaknya. Semoga dengan jalan demikian kelak Allah Swt berkenan mengaruniakan rahmatNya kepada kita semua amin.

Di dunia ini, antar kita, sungguh tiada yang lebih hakiki daripada saling berlomba dalam akhlak karimah.