orang jawa

Islam Nusantara: Kenapa Penduduk Jawa Menjadi Muslim?

Posted on

Islam menjadi agama yang dipeluk penduduk Jawa melalui berbagai jalan-cara, dan usaha-usaha kultural pribumisasi Islam yang berkesinambungan, dilakukan para wali penyebar dakwah Islam, masuk melalui kelas menengah pesisir dan juga di pedalaman. Tatanan kultural yang telah terbentuk, diperkuat melalui dukungan umaro yang menyokong gerakan pribumisasi Islam: di bagian barat Jawa melalui keluarga Siliwangi dari dua tokoh, Walang Sungsang (Sri Mangana, Ki Samadullah) dan Rara Santang; dan di Timur Jawa, melalui jaringan keturunan Brawijaya V, dan bangsawan Majapahit yang lain, yaitu Sultan Patah dan Arya Abdillah, adalah anak Raja Majapahit; sementara Sunan Giri adalah keturunan Bhre Wirabumi di Blambangan.

Orang-orang Jawa itu, sejarah-asal usulnya banyak ditulis di dalam Serat Kandha, Babad Tanah Jawi (berbagai versi), Serat Centhini, Purwaka Tjaruban Nagari (terbitan Atja), Babad Tanah Sunda (versi Sulaiman Sulendraningrat), Perjuangan Walisanga babad Cirebon (Pasundan, versi Haji Mahmud Rais), Babad Cirebon (terbitan SZ Hadisutjipto), Carub Kandha (versi Koleksi Salana), Wawacan Sunan Gunung Jati(terbitan Emon Suryatmana dan TD Sudjana), dan karya lain di Jawa oleh para penulis Jawa. Bahan-bahan di Jawa itu, sebagian ada yang diolah oleh Rafless dalam The History of Java, dan banyak sejarawan Belanda lain melalui sortiran-sortiran dan pembacaan-pembacaan tertentu.

Tentang manusia Jawa dapat menerima Islam sebagai agama, merupakan fenomena yang sangat menarik dilihat, dari sudut versi lokal dan masyarakat Jawa sendiri. Sebagian peneliti juga mendeskripsikan fenomena itu untuk menjawab: kenapa manusia Jawa itu menjadi muslim, sampai bisa menjadikan Jawa dan Islam itu menjadi satu, sebelum akhirnya kolonilaisme Belanda dan aparat intelektualnya mengusahakan separasi Islam dan Jawa, melalui kajian-kajian Jawa dan naskah yang dibawa ke Belanda atau disimpan di dalam birokrasi kebudayan/pengetahuan Belanda; dan masuknya agama orang Eropa seperti diceritakan dalam Babad Zending yang ditulis Wolterbeek.

Pendakwah, Perguruan, dan Mimpi bertemu Nabi Muhammad

Menurut versi Perjuangan Wali Sanga Babad Cirebon (disingkat PWSBC), di Jawa Bagian Barat, pendakwah yang dikenal terdiri dari dua orang: seorang guru ahli quro’ (guru ngaji) di Karawang dan Syaikh Nurjati di Gunung Amparan Jati. Syaikh Quro Karawang diceritakan berasal dari negeri Campa, keturunan Syaikh Moh Yusuf Shidiq, keturunan Syaikh Zenal Abidin, keturunan Nabi Muhammad. Syaikh Quro’ Karawang memiliki murid perempuan, yang bernama Subang Keranjang, putri Sultan Malaka Singapura. Kecantikan murid ini menarik minat dari Prabu Siliwangi, dan kemudian Sang Prabu berkeinginan menikah dengannya, dengan diberi syarat-syarat tertentu. Dari mereka melahirkan Walang Sungsang dan Rara Santang. Setelah agak besar, keduanya belajar kepada Syaikh Quro di Kerawang, dan diberi ijazah untuk membaca Sholawat Tafrijiyah 1000 x, berturut-turut selama 40 hari.

PWSBC menceritakan: “Tiap malam mereka kemudian membaca sholawat itu seribu kali selama 40 malam. Akhirnya pada malam yang ke-40, kebetulan malam Jumat, kira-kira jam satu, Walang Sungsang dalam tidurnya, bermimpi kedatangan lelaki yang sangat elok rupanya dan harum baunya. Orang itu memberikan salam kepadanya, assalamu’alaikum. Setelah diberi salam itu mereka diberi pelajaran dua kalimat syahadat. Pelajaran itu diperhatikan oleh Walang Sungsang. Kemudian orang itu berpesan kepada Walang Sungsang agar ia segera mencari agama Islam…Dalam mimpinya itu Walang Sungsang bertanya: “Tuan ini siapa?” Orang itu menjawab: “Aku ini utusan Alloh, Nabi Muhammad bin Abdullah.”

Walangsung Sungsang kemudian hari-harinya diisi mencari agama Islam, sampai bertemu Syaikh Nurjati di Giri Amparan Jati. Rara Santang juga bermimpi hal yang sama, ditemui Nabi Muhammad setelah mengamalkan membaca 1000 x membaca Sholawat Tafrijiyah, dan juga kemudian melakukan perjalanan menyusul kakaknya, dan keduanya berguru kepada Syaikh Nurjati di Giri Amparan Jati. Walang Sungsang diganti namanya menjadi Ki Samadullah oleh Syaikh Nurjati. Atas arahan Syaikh Nurjati, Ki Samadullah setelah diajarkan ilmu-ilmu keislaman, diminta membuka hutan dan membuka lahan untuk ditempati manusia, dan itulah yang kemudian menjadi Cirebon. Dari kalangan bangsawan keturunan Walang Sungsang dan Rara Santang ini yang kemudian menyebarkan Islam di Jawa bagian barat.

Sedangkan di bagian Timur Jawa, Serat Centhini (jilid I, versi Balaipustaka , 1991) menceritakan awal kedatangan seworang wali dari Jeddah, namanya Syeikh Wali Lanang, yang langsung menuju Amplegadhing, bertepatan dengan masa akhir dari Prabu Brawijaya, Raja Majapahit. Di sana Syekh Wali Lanang bertemu Sang Maharesi (Sunan Ampel), berbicang-bincang tentang agama dan hukum Islam. Dari Ampelgadhing Syekh Wali Lanang pergi ke tenggara sampai di Blambangan (Banyuwangi). Saat itu sang raja memiliki putri yang sedang sakit, dan Syekh Wali Lanang berhasil melakukan pengobatan, lalu dinikahkan dengan sang putri. Dari pernikahan ini melahirkan Sunan Giri, yang kemudian juga menjadi santri di Ameplgadhing.

Cerita kedatangan Syekh Wali Lanang, menandakan di Ampelgadhing sudah ada suatu perguruan Islam yang diampu oleh Sang Maharesi atau Sunan Ampel. Murid-murid yang berguru, di antaranya Sunan Bonang (anak Sunan Ampel), Sunan Drajat, Sunan Giri (Raden Ainul Yaqin), Raden Fatah (Sultan Demak), Raden Kusen (Adipati Terung), dan lain-lain. Sementara di Jawa bagian Barat, perguruan Giri Amaparan Jati yang diasuh Syaikh Nurjati, juga banyak dijadikan tempat berguru, dan diantara muridnya adalah Ki Samadullah (Raden Walang Sungsang dan Rara Santang). Syaikh Nur Jati ini, nama lainnya adalah Datuk Kahfi. Sedangkan nama Syaikh Quro yang mengajar di Karawang, adalah Syaikh Quro Hasanudin Karawang.

Munculnya Ampel Dentha, berhubungan dengan kedatangan para pendatang dari Campa. Denyis Lombard (Nusa Jawa, 2000, I: 43-44) merangkum cerita lokal ini begini: “Di antara tokoh-tokoh besar abad ke-15, yang pertama-tama perlu dikemukakan adalah kedua Raja Pandhita dan Raden Rahmat. Keduanya dilahirkan di Champa, dari ayah seorang Arab yang telah menyunting anak gadis seorang orang terkemuka setempat. Mereka datang ke Jawa tidak lama sebelum bibi mereka, termasyhur yang beragama Islam, dan yang datang untuk menikah dengan seorang Pangeran Majapahit (makamnya dari tahun 1448 masih terdapat di Trowulan). Setelah keadaan kakak beradik itu sampai di pelabuhan Gresik yang sangat dipengaruhi oleh kebudayaan China, mereka segera dihargai karena kesalehan dan pengetahuan mereka. Raja Pandhita menjadi imam salah satu masjid kota itu, dan adiknya dijadikan imam di Surabaya, konon berkat seorang Areya Sena, yang menjabat sebagai Pecat Thanda, artinya penilik pasar di desa kecil Terung. Kemudian setelah Raja Koci menyerang Campa, orang-orang muslim lain datang mencari perlindungan di Surabaya, sehingga bertambah banyaklah masyarakat yang terbentuk di sekeliling Raden Rahmat di daerah niaga Ngampel Denta.” Raden Rahmat ini menikah dengan anak dari adipati Tuban, yang kemudian menghasilkan dua putra terkenal: Sunan Drajat dan Sunan Bonang.

Di sini, tampak peran pendakwah, penerimaan orang-orang Jawa, adanya perguruan Islam seperti di Amparan Jati dan di Karawang, juga di Ngampel Dentha, serta adanya orang-orang yang mimpi ketemu Nabi Muhammad (Walang Sungsang dan Rara Santang), sama-sama memberi warna dalam menarik orang-orang Jawa memeluk Islam. Peran pendakwah juga diceritakan dalam berbagai cerita lokal, seperti Syarif Hidayatullah (Sunan Gunungjati), anak dari Rara Santang dalam mengislamkan komunitas-komunitas di Jawa, dibarengi dengan kekuatan adikodrati dalam menaklukkan lawan-lawan yang berkonfrtontasi dengannya.

Cerita masuk Islamnya orang-orang Keling melalui wasilah Syarif Hidayatullah, adalah cerita melalui kekuatan adikodrati. Dalam PWSBC (hlm.117-118), hal ini diceritakan, ketika Syarif Hidayatullah, diserang beberapa kali oleh pukulan orang-orang Keling yang diajak masuk Islam, dia terhindar dari pukulan mereka, dan kemudian membalas dengan berdeheman, yang disebut begini: “Pada saat itu beliau hanya berdehem satu kali, dan dengan deheman beliau itu, mereka orang-orang Keling yang menyerang semuanya roboh dan tidak berdaya, akhirnya minta ampun kepada beliau. Beliaupun tidak keberatan mengampuni merreka, tetapi dengan syarat, mereka harus mengikuti beliau. Akhirnya mereka dapat menerima syarat itu dan tunduk di bawah perintah beliau. Kemudian mereka disuruhnya membaca dua kalimat syahadat. Setelah mereka semua membaca kalimat syahadat dengan mengerti pula maksud artinya, maka mereka semua mengikuti perjalanan beliau ke Cirebon.” Tentu banyak juga cerita-cerita lain selain dari cerita Syarif Hidayatullah, yang berhubungan dengan cerita-cerita adikodrati dalam sebagian Islamnya orang Jawa.

Ada juga bentuk yang lain, masuknya orang-orang Jawa ke dalam Islam, setelah memperoleh surat ajakan, misalnya ajakan Sultan Demak kepada penguasa Pasirluhur, yang bernama Raja Banyak Belanak. Hal ini diceritakan dalam Babad Pasir Luhur (versi Ki Supardi Atmausada), dimana Sultan Demak mengutus Pangeran Wali Makhdum membawa surat, dan beliaunya mengajak Patih Hedin dan Patih Husen untuk memasuki Kadipaten Pasirluhur, mengantarkan surat kepada Adipati Banyak Belanak.

Disebutkan dalam Babad Pasirluhur itu, isi suratnya ialah agar Adipati Pasirluhur bersedia pindah keyakinan dari agama Budha dan masuk agama Islam. Apakah akan nurut apa menentang? Jikalau bersedia nurut memeluk agama Islam agar secepatnya datang ke Padepokan menemui Pangeran Makdum Wali. Jikalau menentang tidak mau masuk agama Islam, terpaksa akan dilayani peperangan antara balatentara kesultanan Demak dan Balatentara Kadipaten Pasirluhur. Raja Banyak Belanak akhirnya bersedia menemui Pangeran Wali Makhdum.

Dalam Babad Pasirluhur diceritakan begini dialog pendeknya: “Saya diutus oleh Kanjeng Sultan Demak supaya mengIslamkan Adipati Pasirluhur dan pasukannya semua, apakah anda tidak keberatan meninggalkan keyakinan lama?” Kemudian Adipati menjawab: “Hal itu belum lama kami bahas di Kadipaten bahwa sudah saatnya agama budha hancur, kemudian ganti agama mulia yaitu agama Islam. Silahkan kami pasrah kepada Sang Wali.” Adipati Raden Banyak Belanak memegang tangannya kemudian memeluk Pangeran Makdum Wali. Selanjutnya dibimbing membaca dua kalimat syahadat serta diajari mengjalankan syari’at agama Islam.”

Apa yang menarik dari fenomena ini adalah, cerita soal mimpi bertemu Nabi Muhammad, menjelaskan hal penting dimana Islam di Jawa ini, berhubungan dengan pengaturan yang dilakukan juga melalui alam batin, dimana Nabi Muhamamd itu sendiri terlibat secara langsung, mendatangi melalui mimpi kepada orang-orang penting, dan dalam kasus ini adalah Walang Sungsang dan Rara Santang. Pada sisi lain, para pendakwah Islam dengan giat membangun pilar-pilar kultural perguruan Islam, para pendakwah yang berkelana membekali dirinya dengan tawakkal dan ilmu-ilmu adikodrati; para bangsawan kerajaan terlibat dalam menjalankan misi islamisasi dalam pribumisasi islam.

Dalam hal masuknya orang-orang Jawa ke dalam Islam ini, orang-orang Jawa, bukanlah sebagai objek semata dari para pendakwah, tetapi juga subjek yang sadar memilih, karena satu sisi, dalam gerakan kultural dakwah Islam mereka tidak dipaksa untuk memeluk Islam. Pada sisi lain, di dalam dirinya sendiri, orang-orang Jawa itu memiliki cara pandang kosmopolit dalam melihat perubahan, yang didukung oleh kegemaran mereka dalam mensublimasi diri menjernihkan pengetahuan.

Watak Kosmopolit Manusia Jawa

Sebagai kolektifitas, manusia Jawa bisa disebut sebagai mereka yang sejak awal telah bersedia menerima nilai-nilai kosmopolitan, baik mereka yang ada di pedalaman sebagai ciri dari kerajaan-kerajaan lama sebelum Islam, atau di pesisir pantai ketika diorganisir Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Islam. Watak kosmopolitan ini, dalam ilmu-ilmu social di Indonesia, di antaranya diperkenalkan oleh Gus Dur melalui bacaan-bacaannya tentang Islam, yang dalam koteks di sini, berintikan pada upaya melihat masyarakat Jawa sebagai “mempunyai wawasan dan penghetahuan yang luas”, yang salah satu unsur pembentuknya adalah adanya interaksi, pergaulan, dan saling berhubungan, baik melalui perdagangan atau kunjungan kenegaraan, dan pertukaran pendidikan.

Watak kosmopolitan mewujud pada kemauan menerima hal-hal baru, tetapi tetap tidak meninggalkan yang lama, sehinggga dicari keselarasannya. Dalam wujud yang lain, apa yang datang dari luar bisa saja diterima, tetapi bagaiman sebisa mungkin tetap berselaras dengan yang dari pribumi.Watak kosmopolitan ini, sebenarnya bisa juga dilihat dengan melihat aspek iklim dan tanahnya yang menghijau, tetapi juga bisa dilihat dari sudut asal usul manusia Jawa itu sendiri. Dalam Serat Kandha diceritakan banyak asal usul manusia Jawa: ada yang datang dari Ngerum, ada yang dating dari India, dan beberapa yang lain.

Sedangkan sumber lain, misalnya yang merujuk kepada Ma Huan, dalam Yingyai Shenglan, menceritakan, asal pendatang muslim, banyak dari Arab, Barbar, Keling, India, China, dan lain-lain. Sementara dalam Negara Kretagama menyebutkan persahabatan Majapahit dengan negara-negara sahabat itu mencakup banyak negri, mencakup Siam, Ayudiapura, Darmanagri, Marutma, Rajapura, Singanagari, Campa, Kamboja, dan Yawana, yang ini member arti adanya pertemuan kultural, saling berdialog, dan bahkan kadang-kadang juga tukar hadiah.

Watak kehidupan kosmopolitan itu menghendaki dihargainya perbedaan, dan hidup saling rukun dan perubahan yang selaras, meskipun tentu saja, di sana-sini kadang terjadi perebutan kekuasaan atau bahkan kekerasan, tidaklah dinafikan memang ada; tetapi ketika itu terjadi, dikembalikan lagi ke arah semula. Contoh paling nyata soal ini adalah, diterimanya Budha di dalam Sailendrawamsa (Wangsa Sailendra) yang Hindu, yang diceritakan oleh, Prof Boechari, berdasarkan Prasasti Sankara.

Prof. Boechari, menjelaskan dalam “Satu atau Dua Dinasti di dalam Kerajaan Mataram Kuno?” (Melacak Sejarah Kuno Indonesia Lewat Prasasti, Gramedia, 2012: 198), menyebutkan tidak ada yang disebut Sanjayawamsa (atau Wangsa Sanjaya), dan yang ada hanya Sailendrawamsa (Wangsa Sailendra). Kedua penyebutan yang sering dikemukakan sebagian orang itu, menurutnya, pada dasarnya hanya satu, yaitu Kerajaan Mataram. Hanya saja, menurut Prof. Boechari, pemisahan Wangsa Sailendra dan Wangsa Sanjaya berikutnya, adalah berdasarkan Pustaka Rajhya Bhumi Nusantara, yang disebut sebagai berdasarkan naskah baru (dan karenanya buatan belakangan); dan diadopsinya agama Budha oleh Wangsa Sailendra berdasarkan Prasasti Sankara, yang membedakan dengan zaman sebelumnya.

Menurut Prof. Boechari, Prasastri Sankara itu tersimpan di Museum Adam Malik, yang dinilai berasal dari abad VIII M. Prasasti itu menceritakan bahwa, ayah Raja Sankara sedang sakit keras. Selama delapan hari ia didera penyakit deman panas yang membara. Guru atau pembimbing Raja tidak dapat menyembuhkannya, maka ayah Raja Sankara pun meninggal (tetapi di situ disebut rajapun meninggal, redaksinya menjadi tidak tepat). Raja Sankara, yang takut kepada guru ayahnya, yang dianggapnya tidak benar, dan mengingat janji kepada ayahnya almarhum, lalu meninggalkan kebaktian dewa Syiwa dan lain-lain, lalu menganut agama Budha Mahayana.

Perpindahan Raja Wangsa Sailendra kepada Budha Mahayana menyebabkan, generasi Sailendra setelah itu, mulai dari Raja Rakai Panankaran dan Rakai Panaraban berpindah agama menjadi Budha Mahayana. Padahal sejak Daputa Selendra, Rakai Mataram, dan Raja Sanjaya, masih beragama Syiwa. Akan tetapi, meski ini menyebabkan perpecahan di kalangan bangsawan, sebagain ada yang tetap beragama Syiwa dan ada yang mengikuti Budha, dan mereka hidup berdampingan. Kadangkala memang ada perebutan kekusaan, tetapi tidak dalam soal agama. Sampai pada zaman Majapahit, dipertahankanlah tatanan berdampingan Syiwa-Budha, sehingga ada Dharmadyaksa Kasyaiwan untuk Syiwa dan Dharma Dyaksa Kasogatan untuk Budha (hlm. 201-202).

Data sejarah ini, memberi arti juga, watak kosmopolitan masyarakat di Jawa, juga berarti sejak masa lalu, di dalam tradisi di Jawa, ketika Raja atau bangsawan mengikuti atau berpindah agama, sebagian rakyat kemudian juga ikut berpindah agama, dan itu diterima, dan kemudian diupayakan, saling berdampingan bisa hidup bersama. Pada masa Islam, perpindahan bangsawan (dan atau Raja) ke dalam Islam, dimulai dengan semakin berpengaruhnya Islam sebagai gerakan kultural-ekonomi-perdagangan. Awalnya adalah pengaruh para pedagang, ulama, dan gerakan kultural dakwah melalui pesisir, masuk di kalangan kelas-pedagang menengah di pesisir, kemudian masyarakat sekitar, dan kemudian ke pusat kota kerajaan melalui kerja-kerja politik-ekonomi, di tengah mayoritas non Islam.

Usaha-usaha ini dilakukan generasi Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Maulana Ishaq, dan para penyebar Islam sebelum mereka, atau yang lebih lokal dan tidak dikenal secara luas. Setelah itu diadopsi kerja-kerja politik-kekuasaan, melalui Raden Fatah, Sunan Giri, dan para bangsawan muslim, yang juga keturunan Raja Majapahjit, Brawijaya; dan dibarat melalui kerja-kerja Walang Sungsang dan Syarif Hidayatullah (Sunan Gunungjati). Sementara gerakan kultural tetap dilanjutkan, bahkan ketika kerja-kerja politik kekuasaan itu hancur ataupun berhasil. Maka, Islam kultural yang dikembangkan oleh para wali melalui jalan pribumisasi, dengan sangat baik, menemukan titik temu yang relevan antara mewujudkan Islam yang rahmatan lil alamin, dan manusia Jawa sendiri yang memang sejak awal sudah kosmopolit.

Gerakan Kultural, Masuk Melalui Kelas Menengah Pesisir

Menurut para peneliti, Islam datang ke Jawa melalui jalan damai gerakan kultural, yang merembes melalui pesisir. HJ De Graaf dan TH Pigieaud, dalam buku De Erste Moslimse Vorstendommen op Java, yang kemudian diterjemah menjadi Kerajaan Islam Pertama di Jawa: Tinjauan sejarah Politik Abad XV dan XVI (Grafiti-KITLV, 2003), memberikan pengakuan adanya dakwah kultural di kalangan kelas menengah pedagang ini di kalangan masyarakat Jawa:

“Agama Islam itu sudah berpengaruh di kalangan kelas menengah, kaum pedagang, dan buruh di bandar-bandar (hal ini terjadi hampir di mana-manapun agama Islam berkembang, lebih-lebih di Asia Tenggara dan Nusantara). Seperti lazimnya, pelaut, menyebarkan agama Islam di antara teman-teman sederajatnya. Rasa persaudaraan dalam agama antarbangsa itu, yang pada dasarnya tidak mengakui perbedaan keturunan, golongan dan suku di antara pemeluknya, ternyata menarik para pedagang dan pelaut, yang berbeda-beda tempat asalnya, serta beragama adat istiadat dan cara hidupnya.”

HJ De Graaf dan TH Pigieaud melanjutkan:

“Dalam pergaulan hidup masyarakat golongan kelas menengah yang berdagang ini, agama Islam yang memajukan sifat sama rata, menciptakan tata tertib dan keamanan serta menonjolkan kerukunan kaum Islam. Hukum pernikahan Islam, yang pada dasarnya tidak mengenal halangan berdasarkan perbedaan keturunan, golongan dan suku, merupakan pembaruan besar, dalam pergaulan hidup yang terpecah-pecah.”

Berdasarkan penjelasan itu, faktor kesederajatan Islam diakui oleh HJ De Graaf dan TH Pigieaud, sebagai salah satu faktor yang membuat Islam dapat menarik para pedagang di laut, atau kelas menengah di pesisir. Sementara hukum pernikahan yang diajarkan dalam Islam, menjadi daya tarik yang lain, bagi tatanan di Jawa yang disebutnya sedang terpecah-pecah. Ketika merujuk pada Majapahit, saat itu adalah adanya kejenuhan masyarakat dalam menyaksikan perebutan kekuasaan, yang puncaknya ada pada Perang Peregreg: antara pusat Majapahit melawan bangsawan keturunan yang ada di timur (Blambangan), yang sama-sama keturunan Raja Majapahit. Tatanan lama yang terpecah-pecah itu, juga berkaitan dengan tatanan kasta dan pembagian masyarakat, yang memperoleh alternatif pandangan dari kalangan Islam di pesisir.

Dalam faktor pedagang muslim ini, Tome Pires dalam Suma Oriental memberikan gambaran juga, yaitu:

“Dulu pada saat para pedagang tinggal di pantai Jawa, banyak pedagang dengan berbagai latar belakang: Persia, Arab, Gujarat, Bengal, Melayu, dan lain sebagainya yang datang ke tempat ini. Bangsa Moor (sebutan untuk orang Muslim dari orang Eropa, dalam ingatan Perang Salib) merupakan salah satu di antaranya. Mereka menjalankan perdagangan tersebut untuk memperkaya diri. Dengan cara ini mereka berhasil membangun masjid dan mendatangkan mullah dari luar negeri. Hasilnya, jumlah orang Moor terus bertambah. Putra dari para Moor ini bukan hanya kaya, tetapi sudah menjadi orang Jawa, mengingat mereka telah tinggal di kawasan ini tidak kurang dari 70 tahun” (Suma Oriental, hlm. 254).

Tom Pires melanjutkan begini:

“Di sejumlah tempat, penguasa pagan (sebutan Pires untuk para raja sebelum Islam) bahkan memutuskan untuk menjadi pengikut Muhammad, sehingga para mullah dan pedagang Moor pun menjadi penguasa bagi kawasan tersebut.” Sejumlah orang Moor bahkan membangun benteng di sekeliling perumahan, tempat mereka tinggal, mengirimkan kaumnya sendiri untuk berdagang dengan Jung, membunuh penguasa Jawa, kemudian mengangkat diri mereka sendiri sebagai penguasa. Dengan demikian mereka berhasil menjadikan diri mereka sebagai penguasa dan mengambil alih perdagangan, serta kekuasaan di Jawa.” Pires meneruskan begini: “Para pate atau penguasa ini bukanlah orang Jawa asli yang berasal dari negeri ini, melainkan berdarah China, Persia, Keling, dan berbagai negeri yang sudah disebutkan di atas” (Suma Oriental, hlm. 254).

Dalam amatan Tome Pires, ada unsur kekuatan ekonomi-perdagangan yang kemudian menjadi kekuatan politik menjadikan Islam menarik bagi orang dan penguasa pribumi bermula di pesisir, tidak semata-mata kekuatan dakwah. Dengan adanya kekuatan ekonomi-politik, orang Islam kemudian membentuk komunitas (termasuk di dalamnya adalah benteng), lalu mendatangkan para Mullah, atau tepatnya para pendakwah, sehingga mereka akhirnya menjadi alternatif dalam tatanan, yang dalam konteks Majapahit, saat itu mengalami perpecahan, adanya perebutan kekuasaan, atau perang saudara dalam Paregreg (1404-1406), yang membuat Bhre Wirabhumi dikalahkan Wikrhamawardhana atau Hyang Wisesa; dan pembagian-pembagian tatanan masyarakat kasta, mendapat alternative baru. Hal ini memberi pelajaran, gerakan dalam dakwah Islam Nusantara berlanjut menjadi, dan memiliki spektrum kerja-kerja ekonomi politik, baik di posisir atau di jantung kota kerajaan.

Berdasarkan data-data dari Tan Ta Sen dalam buku Cheng Ho (2012), kerja-kerja ekonomi politik itu, di antaranya dibantu oleh otoritas politik Cheng Ho, yang meletakkan tatanan Islam di Asia Tenggara dimana dia berkunjung dan bersandar di pesisir, sehingga semakin memperkuat otonomi pengembangan Islam di pesisir. Bukan hanya di Majapahit (seperti di Tuban dan Gresik, dan semarang), tetapi juga di Champa, Malaka, dan lain-lain tempat.

Masalah Mlecha dan Kesedarajatan di Tengah Masyarakat Kasta di Jawa

Islam, sebagaimana ajaran yang diajarkan kepada masyarakat, seperti tertera dalam Kropak Ferrara yang diterjemah Drewes menjadi An Early Javanese Code of Muslim Ethics, memberikan corak alternatif bagi tatanan lama. Kropak Ferrara ini mengutip 25 etika yang diajarkan Syaikh Ibrahim, selain Musyawaratan Para Wali, dan penjelasan tentang sholat, dan lain-lain. Hal ini telah disinggung di tulisan tentang “Islam Nusantara, Negosiasi, dan Pribumisasi Islam”, dimana naskahnya bersumber dari Jawa Timur, dan sudah ada di Universitas Leiden pada tahun 1597 (sementara Maulana Malik Ibrahim wafat tahun 1419), sebagaimana disebutkan di pengantar buku itu.

Baca Juga >  Bersama Syekh Prof Ibrahim Mesir: Persamaan Logika Orang Arab dan Non Arab (03)

Dalam naskah ini, diajarkan kesedarajatan dan perbuatan baik kepada semua orang: tehadap sesama muslim; tolong menolong dalam kesusahan bersama, berbakti kepada ayah dan ibu, guru, kepada anak yatim, dan membantu tetangga-tetangga; juga diajarkan cara memperoleh ilmu linuwih atau tirakat, yang sangat cocok bagi masyarakat Jawa yang memang gemar bertapa dan kosmopolit. Corak sufisme-fiqhi, menjadi alternatif lain di dalam dan bagi penduduk pribumi dan bangsawan, di tengah praktik model Syiwa-Budha.

Alternatif yang dijarkan Islam dalam Kropak Ferrara itu, dalam hidup bermasyarakat memberikan pengertian bahwa Islamn menanamkan aspek kesederajatan masyarakat, minus kasta. Islam sebagai amaliah, diajarkan sebagai rangkaian proses Islam, Iman dan Ihsan, yang kewajibannya dibebankan kepada siapa saja, yang telah memeluk Islam. Siapa saja yang mau belajar dan menuntut ilmu, diajarkan mengenal kitab suci, sesuatu yang berbeda dengan masyarakat pada umumnya, dimana kitab-kitab suci hanya dikaji oleh para Brahmana. Pada masa selanjutnya, generasi Islam Jawa, mengeksplisitkan dalam karya-karya mereka rujukan yang dipakai mereka adalah Al-Qur’an, Ijma., Qiyas, yang diajarkan bersamaan dengan laku tarekat, seperti tampak dalam Wedhatama karangan Mangkunegara IV dan Serat Wirid Hidayat Jati karangan Ronggo Warsito, dan tulisan-tulisan lain.

Memang dalam soal pernikahan tidak disebut pada Kropak Ferrara itu. Tetapi, praktik pernikahan yang melibatkan ritual dan penjelasan-penjelasannya, tentu dilakukan orang-orang Islam di komunitas mereka, di tengah-tengah masyarakat yang tidak menggunakan ritual Islam. Dalam banyak hal, termasuk dalam soal pernikahan ini, menjadi pandangan alternatif di tengah masyarakat kasta dan konsekuensi pernikahannya. Pernikahan orang-orang pribumi dengan orang-orang yang baru datang, seperti dengan orang Arab, Keling, Persia, China, dan lain-lain, dalam Islam tidak memiliki konsekuensi mengeluarkan ia dalam kasta tertentu, karena Islam tidak mengajarkan kasta. Mereka dianggap sama sederajat, makhluk Sang Pencipta.

Sementara dalam masyarakat kasta, saat itu, seperti disebut dalam Kutara Manawa, mereka yang menikah di luar kasta, akan menyebabkan ditempatkan dalam golongan sendiri, di luar kasta, dan dianggap rendah. Mereka ini disebut sebagai Candala, dan tidak diizinkan tinggal di desa atau di kota, tetapi di hutan bersama dengan sesamanya. Profesi mereka, sebagai penggotong dan pembakar jenazah atau algojo bagi para penjahat. Mereka ini dijauhi empat kasta lain: Brahmana, Kesatriya, Waisya dan Sudra. Para Candala itu bisa jadi, berasal dari campuran pernikahan kaum Sudra dengan Brahmana, Kesatria, dan Waisya.

Dalam masyarakat kasta itu, Kutara Manawa juga menyebut para Kawula, yang mereka itu berasal dari kalangan Sudra, yang mengabdi kepada Brahmana, Kesatriya, dan Weisya. Kawula ini terdiri dari 4 jenis: Grehaja (yang berasal dari ayah dan ibu Kawula maka keturunannya otomatis kawula); Djwajaherta (kawula berasal dari tawanan perang musuh); Dandadasa (kawula karena tidak mampu membayar denda yang ditetapkan dalam hukum yang berlaku, baik kepada pemerintah-Raja, atau kepada kasta lain); Baktasada (kawula yang lahir karena ingin memperoleh makanan setiap hari, yang mereka ini tidak mau bertani, berdagang, dan sejenis pekerjaan lain).

Tradisi Kawula ini, memang bukan perbudakan, sebagaimana disebut Thomas Stamford Raffles dalam The History of Java (2014 dan 2016), yaitu tidak ada perbudakan dalam masyarakat Jawa; dan berdasarkan karya John Stockdale dalam buku The Island of Java (terbit pertama tahun 1811, dan di Indonesia terbit tahun 2014), perbudakan di Jawa terjadi setelah orang Eropa datang yang dilakukan bangsa Eropa dan China, setelah mereka membeli dari pasar budak.

Tetapi tradisi Kawula itu, mendudukkan antara majikan yang harus ditaati sepenuhnya dan kawula yang harus taat kepadanya. Tradisi kawula ini ada di desa dan di kota. Ketika Islam datang di tengah masyarakat, dia membawa gagasan kesederajatan, harus ada saling tolong menolong kepada tetangga, dan menyebut orang-orang yang dibagi dalam kasta itu, ke dalam satu sebutan yang sederajat, yaitu tetangga dalam masyarakat, yang harus bekerjasama, bersama-sama, dengan landasan ta`awun, dan musyarokat, saling bantu membantu. Lama-lama, tentu tatanan seperti ini, menarik minat orang-orang yang tidak puas dengan sistem kasta yang demikian itu. Meskipun dalam Kropak Ferrara itu, disebutkan lima prinsip dalam bersahabat dengan tetangga, tetapi jelas itu merupakan pandangan alternatif yang penting.

Berdasarkan tatanana masyarakat kasta, para pendatang dari negara luar disebut dengan golongan Mlecca, tidak masuk dalam empat kasta, sebagaimana juga Candala. Bagi penduduk pribumi, kedatangan para pendatang luar ini, baik dari Arab, Persia, China, atau Gujarat, Keling, Malaka dan lain-lain tempat, justru memberikan kesempatan kepada mereka. Mereka yang berasal dari Kesatria, anaknya Brahmana, dan Weisya, ketika menikah dengan para pendatang ini, dan masuk Islam, tidak lagi dikeluarkan dari kasta, dan tidak harus menjadi Candala. Akan tetapi justru mereka hidup bersama para pendatang, sebagai Mlecca, yang dengan agamanya itu mereka mengenal kesederajatan sesama manusia muslim. Bahkan justru meningkatkan keududukan mereka di tengah masyarakat ketika dinikahi para pedagang yang beragama Islam.

Lebih-lebih, ketika mereka masuk menjadi Islam bersama keluarga baru, mereka tidak lagi terikat dengan sistem kasta yang berlaku, dan mereka melihat ada satu alternatif dari sistem kasta dan kawula, yang lebih egaliter: yaitu masyarakat yang dibawa oleh para penyebar Islam dan pedagang Islam, disebut sebagai tetangga: “Arep asih ing tatangga, anging kang tan wenang pinaka wong sanak atawa kang tan wenang pinaka tetangga” (jika berbuat kepada tetangga, mereka seharusnya dijadikan saudara.., pada item 3b).

Mereka, orang-orang Islam dari berbagai suku dan golongan, menjadi satu bersimpuh di Baitullah, beribadah dalam satu tempat, yang dibangun bernama masjid. Faktor ini juga menjadi salah satu daya tarik Islam di kalangan masyarakat pribumi. Apalagi, para pendatang itu datang biasanya tidak membawa istri, maka secara alami mereka kemudian mencari istri dari orang-orang yang menjadi rekan bisnisnya, dan masyarakat pribumi yang mau menerima pinangan mereka; atau sebaliknya mereka ditawari oleh orang pribumi.

Masuk-Menikahnya Bangsawan-Raja dengan Orang Islam

Mereka yang masuk Islam dari kalangan raja dan bangsawan, untuk kasus Aceh dan Malaka sudah terang dan jelas, dan diungkapkan oleh banyak sumber, hingga mereka menjadi raja-raja di sana. Sedangkan di Jawa, Gus Dur mengemukakan sangkaan begini, karena masih belum terang: “Ada sangkaan bahwa Prabu Jaya Bhaya di Pamenang, Raden Wijaya, Brawijaya IV, dan Brawijaya V, adalah orang-orang yang telah menjadi muslim” (Membaca Sejarah lama, 2010: 19).

Berdasarkan karya berjudul 1492, Gus Dur mengemukakan bahwa angkatan laut China yang beroperasi itu adalah angkatan laut muslim. Dalam hal Brawijaya V dan VI, mungkin datanya lebih banyak, terutama setelah terbit bukunya Tan Ta Sen, soal Cheng Hoo (2012), yang sangat gamblang menjelaskan itu. Akan tetapi soal Raden Wijaya yang mendirikan Majapahit (1294-1309 M), apakah seperti itu, tentu tidak gampang, perlu dibuktikan. Hanya saja, pada masa Singasari, kabar kedatangan pasukan China, masa Kartanegara, dugaan seperti itu mungkin saja, tetapi belum kuat, meskipun Gus Dur menyebutkan: “Sebuah andaian lain menjadi sangat menarik. Jika Raden Wijaya adalah seorang muslim, apakah ia tidak berasal dari keturunan Thionghoa, alias dari kaum peranakan.”

Data-data yang ada kemudian, dalam hal Raden Wijaya ini, hubungan dengan China memang sudah terjadi akrab, dan saling bantu membantu, ketika mengalahkan Jayakatwang (Jayakaton) dari Gelang-gelang (ibukota Wura-Wari). Prof. Boechari memperkuat hubungan Raden Wijaya dengan pasukan China, dalam tulisan “Pemberontakan Jayakatwan”. Awalnya Jayakatwan dapat mengalahkahkan Kartanegara dan pasukan Wijaya, tetapi kemudian oleh Raden Wijaya, kemudian Jayakatwan dikalahkan setelah ada gabungan dengan pasukan China.

Prof Boechari menyebutkan begini: “Jadi prasasti Kudadu dan berita China dari zaman Dinasti Yuan yang merupakan sumber yang kontemnporer, menyebutkan fakta sejarah yang sebenarnya, yakni bahwa Jayakatwang adalah Pangeran Gelang-Gelang, menyerang dari Gelang-Gelang, dan setelah berhasil membunuh Raja Kretanegara di Tumapel/Singashari ia menguasai Daha. Berita China itu ditulis memang setelah Jayakatwang berkuasa di Daha, karena itu ia menyebut, pasukan gabungan China dan Wijaya, mengejar dan mengepung Jayakatwang di daha…” (Boechari, hlm. 209).

Dia juga menyebutkan hubungan Wijaya dengan pasukan China begini: “Di Dahalah terjadi pertempuran terakhir antara pasukan China dibawah pimpinan Shibi, Ike Mese, dan Gao Sing yang dibantu pasukan Wijaya dari Majapahit dengan pasukan Jayakatwang. Berita China itu mengatakan bahwa kota Dhaha dipertahankan pasukan yang terdiri atas lebih dari 100.000. Pertempuran sengit terjadi sejak jam 6.00 sampai jam 14.00 siang yang minta korban beberapa ribu orang di kedua belah pihak. Tentara Dhaha dapat dikalahkan, dan sore hari Jayakatwang menyerah dan ditawan oleh tentara China bersama istri dan anak-anaknya” (Boechari, hlm.207).

Jadi masuk akal, kalau Gus Dur melakukan pengandaian di atas bahwa Wijaya itu: “Jika Raden Wijaya seorang muslim, apakah ia tidak berasal dari keturunan Thionghoa, alias dari kaum peranakan? Jika benar tentu nama Wijaya menunjukkan nama marga yang dimilikinya, yaitu marga Oe atau Wie, yang dalam cabangnya juga disebut Wong atau Wang” (Gus Dur, 2010: 24).

Sedangkan tentang Prabu Aji Jaya Bhaya, karena ungkapan-ungkapan yang ada dalam Jangka Jaya Bhaya yang sering dikuti-kutip, menyebutkan kitab Musarrar dan Syaikh Syamsujen. Hal ini di antaranya, diungkapkan dalam “Kitab Musaror Babon Saka ing Rum”, yang dikutip Primbon Ramal Jaya Bhaya susunan R. Tanojo (1956). Rum adalah sebutan untuk Persia, dan kitab Musaror menunjukkan adanya penyerapan bahasa Arab, dan pengajaran terhadap Prabu Jaya Bhaya tentang ilmu-ilmu linuwih dan ramalan.

Agus Sunyoto dalam buku Walisongo (Trans Pustaka, 2011), kemudian menafsirkan Syaikh Syamsujjen, berdasarkan kutipan dari Kakawin Hariwangsa, yang dikaji Poerbatjaraka dalam buku Agastya di Nusantara, dalam kata-kata: “Agsytya suci tidak ketinggalan dan buru-buru berinkarnasi/menjadi bhiksu pandita adhikara/menjadi guru sang raja yang percaya dengan ajarannya” (Agus Sunyoto, 2011: 45). Agus Sunyoto menyebutkan: “Sebagian orang menafsirkan guru Sri Mapanji Jayabhaya adalah Mpu Sedah. Sementara sebagian yang lain menafsirkan bahwa Mpu Sedah itu guru Sri Mapanji Jayabhaya dalam bidang sastra. Sedangkan Sang Bhiksu Pandhita Adikara adalah Syaikh Syamsudin Wasil, yang tidak sekedar mengajar ilmu perbintangan dan nujum, tetapi juga menunjukkan karomah-karomahnya yang ditunjukkan seperti Rsi Agastya” (hlm. 45). Makam Syaikh Syamsuddin Wasil ini ada di Kediri.

Penafsiran yang demikian itu, mungkin saja, apalagi dengan mempertimbangkan Kitab Musarrar yang sering dikutip dan menyebut Syaikh Syamsujjen dalam Ramalan Jaya Bhaya. Apalagi pada saat itu di Leran, juga terdapat makam Fathimah binti Maimun, yang bertarikh dalam nisannya, 475 H/1082 M; dan juga adanya inskripsi makam kuno di Padurangga (Pandurangga) bertahun 1039, lebih tua dari makam Fathimah binti Maimun yang ada di Leran. Makam kuno itu nisannya ditulis dengan gaya kufi, bernama Ahmad bin Abu Ibrahim bin Abu Arradah, yang memakai nama samaran Abu Kamil.

Lebih mungkin lagi, karena, Khubilai Khan yang berkuasa pada tahun 1275 M itu, banyak menggunakan tentara muslim, sebagaimana dikaji Tan Ta Sen dalam buku Cheng Hoo. Orang-orang Muslim ini, kemudian ada yang menjadi komunitas Hui-Hui di China, dan tokoh terkenalnya adalah Sayyid Ajjal Syamsuddin, yang menjadi gubernur Yunnan. Agus Sunyoto, juga menyebut panglima muslim bernama Hasanuddin, adalah kepercayaan Khubilai Khan dari Turkestan, dan panglima ini menaklukkan Champa. Sejak abad ke-10 orang-orang Muslim di Champa sudah punya pemukiman sendiri, dan memeliki hubungan yang terjalin lama, antara kerajaan Nusantara dengan Champa. Hal ini dibuktikan, salah satunya melalui perkawinan Raja Jayasingawarman III dengan Ratu Tapasi, saudari Kertanegara dari Singasari. Pada masa Majapahit, hubungan itu kemudian itu berlanjut dengan menikahnya Brawijaya V dengan Dwarati dari Champa, yang melahirkan Jin Bun (Raden Fatah)

Masuknya para bangsawan ke dalam Islam, dalam kasus Majapahit dan Pajajaran, salah satunya juga dituturkan melalui historiografi babad dan berita Melayu ayang telah dikaji De Graaf, terdapat nama putri Champa, bernama Dwarawati, yang kemudian dihadiahkan kepada Raja Majapahit, tetap menjadi muslim dan makamnya ada di Trowulan. Setelah itu, ada keluarga Dwarawati dari Champa ingin mengunjungi Jawa dan berdakwah. Tatkala melakukan perjalanan ke Jawa, di Champa ternyata sudah ada perubahan politik, di mana Champa yang rajanya sudah Islam itu dikalahkan oleh pengausa lain dari Vietnam.

Keluarga Dwarawati ini diperkenalkan oleh historiografi Babad dan Kronik Melayu yang dikaji De Graf sebagai Raden Rahmat atau Bong Swe Hoo, bersama Raden Burereh (Abu Hurairah), dan Raden Ali Murtadho atau Raden Santri. Beserta mereka pula ayah Sunan Ampel, yaitu Syaikh Ibrahim Asmaraqandi, atau disebut juga Molana Ibrahim Akbar, yang merupakan menantu dari Raja Champa. Mereka tiba di Jawa pada 1440 M., dan mendarat di Tuban, kemudian di Gesikharjo. Sebelum berhasil sampai di kota Majapahit, Syaikh Ibrahim Asmara meninggal dunia, dan kemudian dimakamkan di Gesik dengan gelar Sunan Gegesik. Sunan Ampel dan saudaranya kemudian melanjutkan pergi ke kota Majapahit. Raden Rahmat kemudian diminta untuk bertempat di Surabaya, karena khabar geopolitik di Champa yang tidak memeungkinkan kembali lagi. Surabaya ini, saat itu ada di bawah kekuasan adipati Lembusura yang sudah muslim. lembusura kemudian menempatkan Raden Ali Musadha (Raden santri) sebagai Imam di Grersik dengan gelar Raja Pandhita Agung; dan Raden Rahmat di Ampel Denta dengan gelar Sunan Ampel.

Di Gresik sendiri, dalam abad ke-10 telah ada komunitas muslim, tidak jauh dari Tarik, pusat Majapahit, yaitu adanya komunitas Leran dan makam Fathimah binti Maimun. Mustahil dalam tiga abad, tidak ada perkembangan Islam. Dan dari hasil perkembangan itulah, sangat masuk akal bila ada orang-orang dan bangsawan yang tertarik dan masuk Islam di tengah mayoritas tatanan Bhairawa di Jawa Timur. Gus Dur menyebutkan, salah satunya adalah, ada usaha Sayyid Jamaluddin Husain, kakek dari Sunan Ampel (ayah Syaikh Ibrahim Asmoroqandi),yang menyebarkan Islam, dan membangun surau di Gunung Kawi berdampingan dengan Klentheng. Sayyid Jamaluddin Husain ini adalah pejuang yang menginginkan tegaknya masyarakat Islam (Gus Dur, 2010). Jadi, saat itu sudah ada minoritas muslim di tengah mayoriotas Hindu-Budha (Bairhawa) di Majapahit

Jalan pernikahan itu juga terjadi, sebagaimana disebut dalam Perjuangan Walisanga Babad Cirebon (Haji Mahmud Rais), dan juga disebut Agus Sunyoto (2011: 57-58) dan Negarakretabhumi Sagra III dan IV, dalam kasus di Jawa Barat, ketika Syaikh Hasanuddin Quro Kerawang yang mendirikan Pesantren pada 1417 M, sebelum ekspedisi Cheng Hoo ke-5 (1417). Ketika dakwahnya dianggap meresahkan Raja Pajajaran, karena banyak masyarakat yang ikut, dia diusir dan diminta pergi (lalu beliau ke Malaka). Akan tetapi beliau kembali lagi untuk berdakwah di Karawang. Ketika hal itu diketahui Raja Anggalarang, Syaikh Hasanuddin diminta pergi lagi dan diusir, dengan mengutus Putra Mahkota, Pangeran Pamanah Rasa. Syaikh Hasanuddin Quro saat itu sudah memiliki murid, yang salah satunya adalah anak dari Ki Gedeng Tapa (Syahbandar Muarajati, Cirebon), bernama Subanglarang (atau dalam PWSBC dengan sebutan Subang keranjang). Ketika Raden Pamanah Rasa sampai di pesantren atau musholla tempat ngaji, dia mendengar lantunan suara Subanglarang sedang membaca Al-Qur’an, lalu terpesona, dan berniat kemudian ingin mempersuntingnya. Akhirnya mereka menikah, yang melahirkan Walang Sungsang, Lara Santang, dan Kian Santang, sebagai cikal bakal para penguasa di Jawa Barat yang beragama Islam: Cirebon dan Banten (Negarakretabhumi Sagra III dan IV; Walisongo, hlm. 55-557; dan PWSBC, jilid I).

Aspek Ekonomi-Politik dan Makam Troloyo

Gus Dur juga mengemukakan bahwa, penyerbuan Majapahit oleh Adipati Kediri (Kusuma Wardhani, anak dari Brawijaya V yang masih Hindu-Budha), sehingga mengalami kehancuran hebat, dan menyebabkan Brawijaya V pergi ke Lawu dan menjadi Sunan Lawu di sana. Penyerbuan itu, salah satunya dipicu oleh fenomena masuknya komunitas Islam yang semakin kuat di kalangan bangsawan Majapahit. Gus Dur meyebut begini: “Sejak Syaikh Jamaluddin Husain (ini adalah kakek Sunan Ampel), berpindah dari Bojonegoro ke Majapahit. Di tempat baru itu (yaitu di Majapahit), ia membeli tanah-tanah yang dirampas dari tangan para penunggak hutang, seperti yang dilakukan BPPPN kita hari ini, yang merampas perusahaan-perusahaan milik para konglomerat, yang tidak mau mengembalikan kredit mereka ke berbagai bank. Dan Sayyid Jamaluddin mengembalikan tanah-tanah itu, kepada para pemilik jika mereka memeluk agama Islam” (2010: 72).

Dari sini, tampak penggunaan pendekatan ekonomi. Cara yang dilakukan Sayyid Jamaluddin Husein dalam cerita Gus Dur ini, sama dengan apa yang diceritakan Karel Steenbrink tentang perubahan sebagian orang Tengger kepada Islam, dengan cara yang agak berbeda, diceritakan dari laporan La Caphelle: “…Di sana juga ada seorang haji yang aktif di bidang pinjaman uang. Yang juga giat mencari proselit-proselit yang bersedia masuk Islam, dan berhasil dalam konversi beberapa famili dukun kepala” (Karel Steenbrink, hlm. 84).

Upaya ekonomi itu, tentu hanya salah satu bagian dari upaya kerja-kerja politik di dalam Kraton Majapahit, sehingga banyak bangsawan yang kemudian masuk Islam. Bahkan dugaan besarnya adalah Brawijaya V. Upaya islamisasi kultural di lingkungan kerajaan ini, menyebabkan keseimbangan berubah. Oleh karena itu, kemudian Adipati Dhaha, Kusumawardhani, menyerbut Kraton Majapahit, dan menghancurkannya, dan banyak terbunuh orang Islam. Gus Dur menunjukkan bahwa Makam Troloyo adalah Pemakaman dari kalangan muslim yang gugur mempertahankan Majapahit.

Pada saat yang sama, makam Troloyo itu, juga menjadi bukti usaha-usaha Sayyid Jamaluddin Husain benar adanya. Meski tidak ada bukti sejenis prasasti, tetapi Makam Troloyo itu bukti yang menjadi pekuburan muslim masa Majapahit, yang ini menunjukkan bahwa di jantung kota kerajaan itu telah banyak orang beragama Islam. Makam Troloyo itu, dapat ditempuh dari Trowulan kurang lebih 2 km, dan kurang lebih 15 km dari kota Mojokerto. Di makam ini, terdapat nisan beraksara kawi. Para peneliti yang sudah meneliti ini di antaranya PJ Veth, Verbeek, Kenebel, Krom, dan LC Damais. Berdasarkan penelitian-penelitian mereka, makam-makam yang ada di Troloyo itu, digunakan antara tahun 1368-1611. Anak raja majapahit yang dimakamkan di sini di antaranya, Dewi Anjasmoro dan Putri Kencana Wungu.

Menurut Gus Dur, soal makam Troloyo begini: “Sebaliknya di tanah pekuburan Troloyo, yang hanya satu kilometer jauhnya juga menyimpan, kuburan Syaikh Abdul Qohhar, Kyai Usman Ngudung, Tan Kiem Han (menantu putri Champa) yang juga beragama Islam dan memakai nama Arab Syaikh Abdul Qodir al-Jilani, dan masih banyak lagi pejuang-pejuang muslim lainnya. Mereka gugur di tempat itu, ketika menahan serbuan seorang adipathi dari Kediri, Kusuma Wardhani, yang juga anak dari Brawijaya V” (2010: 65).

Setelah kerajaan Majapahit dihancurkan Adipati Kusumawardhani dari Dhaha, baru ada balasan pasukan gabungan dari kalangan Islam yang berpusat di Demak, dan berhasil mengalahkan Kusumawardhani yang telah menghancurkan majapahit sebelumnya, dan menurut Gusd Dur yang telah membuast Brawijaya V lari ke Gunung Lawu, bergelar Sunan Lawu. Kejadian itu masuk akal, karena anak-anak Brawijaya V yang telah beragama Islam, adalah juga para para bangsawan Majapahit yang beragama Islam, termasuk di antaranya adalah Sunan Giri (anak Maulana Ishaq dengan putri Raja Blambangan, yang juga bangsawan Majapahit) dan Raden Fatah (anak dari Brawijaya V dengan putri Dwarawati). Dalam versi Babad Sunan Pandanaran (versi terbitan Cempaka Mandiri Offset, t.t.), Brawijaya V itu kemudian berganti menjadi manusia biasa dan mengikuti sayembara di Pandanaran, dan menikah dengan anaknya Ki Ageng Pandanaran I, dan kemudian dia bergelar Ki Ageng Pandaran II, dan kemudian menjadi Sunan Tembayat.

Setelah Kusumawardhani dikalahkan, Majapahit itupun dipindah ke Demak. Dan, Kerajaan di Demak itu dan pewarisnya, menurut berita dari Antonio Pigafetta tahun 1522, masih disebut sebagai Majapahit yang paling besar saat itu. Berita Pigafetta itu begini: “…dan Jawa Raja-Raja; adalah kota-kota yang terbesar di pulau Jawa, yaitu pada waktu ini: Majapahit, yang ratunya waktu masih hidup ialah yang terbesar di pulau-pulau itu dan bernama Pati Junus; Sunda yang ditumbuhi lada; Daha; Demak; Gadjahmada; Mataram, Djapara, Sidayu, Tuban, Gresik, Surabaya, dan Bali. Dan pulau seperti pulau Djawa Kecil adalah pulau Madura, dan terletak setengah mil di sebelah pulai Djawa Raja” (dikutip dalam lampiran Prof. H. Muhammad Yamin, Tatanegara Madjapahit, Parwa II, Jajasan Prapantja, hlm. 333).

Kesimpulan dari berita Antonio Pigafetta ini adalah, Majapahit itu masih ada, ketika Brawijaya V di Trowulan itu dihancurkan Kusumawardhani dari Dhah, kemudian Majaphit dipusatkan di Kediri), dan ketika Kusumawardhani dikalahkan pasukan bangsawan Majapahit yang beragam Islam, Majapahit itu berpindah ke Demak dan penerusnya. Bahkan, Pati Junus, disebut sebagai Raja Majapahit yang paling besar, tepatnya adalah Maharaja Adipati Junus.

Akan tetapi, haruslah diakui ada pandangan de Graaf yang meragukan kalau Kerthabumi, yang biasa adisebut Brawijaya V itu, sebagai raja dan pernah menjadi raja, sebagaimana dikemukakannya dalam China Muslim di Jawa Abad XV dan XVI, begini: “Bhre Kerthabumi disebutkan dalam bagian akhir buku Pararaton, sebagai anak raja Majapahit. Kesalahan penafsiran terhadap bagian Pararaton, memunculkan pandangan dalam beberapa buku ilmiah Belanda, tentang sejarah kuno Jawa, bahwa ia adalah raja itu sendiri (hlm. 84), dan tentang ini penulis membahas dalam satu bagian tulisan tersendiri, berhubungan dengan Brawijaya V dan anak-anaknya yang menyebarkan Islam. Wallohu a’lam.

Penulis: Nur Khalik Ridwan, Dosen STAI Sunan Pandanaran Yogyakarta.