Benarkah UAS Telah ‘Menodai’ Pancasila dan NKRI?

Saya “mengapresiasi” kawan-kawan yang mencela UAS. Saya juga tidak setuju dalam satu dan lain hal. Termasuk soal jin itu. Tetapi itu tak mengurangi saya untuk bersahabat baik. Hal lain yang perlu diperdebatkan serius adalah, apakah geraja dan masjid itu wilayah publik atau privat dalam koridor hukum kita?

Jika untuk kalangan privat saja menurut saya kurang etis, kenapa pula diupload ke publik? Disinilah letak kejanggalannya. Terlepas dari kekurangannya. Dia bagi saya punya banyak kelebihan. Saya belajar darinya tentang kelebihan dan kebaikannya, sambil sesekali memberi masukan yang menurut saya perlu.

Bacaan Lainnya

Begitu Kang Hamzah Sahal, dan kawan-kawan baik saya yang lainnya. Kali ini saya turunkan lagi esai saya di Gatra dua tahun yang lalu.

GELIAT USTAD ABDUL SHOMAD
Oleh Aguk Irawan MN*

SUMBER: MAJALAH GATRA, 8-14/02/18

Manusia, baik yang purba maupun modern selalu menyukai humor dan lelucon, begitu kata Simon Critchley dalam muqadimah bukunya Infinitely Demanding. Humor, lanjut Simon, selain bisa sebagai perekat dan split kejenuhan, juga bisa mengingatkan kita, perlunya sifat rendah hati atas keterbatasan-keterbatasan kondisi. Dengan kesadaran seperti itu, kata Simon lagi, seorang humoris, biasanya juga seorang jenius dan sangat rendah hati, karena ia menyadari atas keterbatasan diri. Dengan mengakui sifatnya yang “komikal”, seorang humoris akan melihat dirinya lebih sebagai badut ketimbang superman.

Saya tidak tahu, apakah Ustad Abdul Shomad (UAS) menyadari peran ini atau tidak, di balik kelucuannya yang menyenangkan itu dan keluasan wawasan agamanya. Dua hal, yang menjadi daya tarik dalam tiap ceramahnya.

Memang perlu kematangan tersendiri untuk mendapatkan perspektif itu. Bertolak dari masa lalu yang sedikit saya tahu, kelucuan UAS adalah sifat bawaan yang alami, dan bukan dibuat-dibuat. Semua yang kenal dan pernah berteman dengannya, termasuk saya,–punya kesan yang sama; jika UAS bicara, selalu saja ada jok dan lelucon yang rasanya baru dan segar.

Sifat lain yang mendukung teori Simon, dibalik kelucuan ada keuletan, kerendahan hati dan kejeniusan adalah jika UAS berdebat tidak mencari menang, pendapatnya tidak dipakai, tidak jadi soal. Ia rajin liqa kepada para masayikh, rajin ziarah ke Maqbarah para wali, khususnya di Maqbarah Syekh Badawi Thanta. Rajin kuliah dan membuat talkhisan (rangkuman) dan menghapalnya kapanpun dan dimanapun. Satu lagi, ia begitu mengidolakan almarhum Syekh Muhammad Mutawalli Sya’rowi, mufassir dan penceramah ulung asal Mesir itu.

Maka tak mengherankan jika nilai akademik UAS selalu Jayyid (baik), dari semester pertama hingga lulus kuliah. Hebatnya lagi, berdasarkan informasi dari banyak pihak, selama empat tahun kuliah, UAS belum pernah sekalipun meminjam duit ke teman-temannya, juga tidak pernah mendapatkan kiriman uang dari orang tuanya. Ia hidup mandiri dengan segala kesederhanaan dan keterbatasan. Tetapi, anehnya ia justru sering meminjamkan uangnya kepada yang lain.

Hal lain yang perlu diingat adalah, UAS tidak pernah bersedia dicalonkan menjadi Ketua PPMI (Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia) Cabang Thanta, padahal tiap tahun namanya masuk dalam bursa kandidat, pasalnya ia selalu menganggap ada teman lain yang lebih representatif.

Karena itu, hepotisa Simon tentang humor ini bisa dikaitkan dengan pandangan Freud, khususnya pada teori psikoanalisisnya; super-ego, kita ingat, dalam psikoanalisis Freud, “super-ego” adalah Sang Penguasa yang Keras yang menghuni keseluruhan alam bawa sadar manusia: ia pengendali sekaligus penindak yang menyebabkan manusia punya karakter di tengah masyarakat, dan ”super-ego” inilah yang hadir dalam humor, yang ”berbicara dengan kata-kata yang ramah dan menghibur kepada si ego.”

Jadi, jika ada yang menggadang-gadang, kelak UAS sebaiknya mencalonkan diri sebagai ketua PBNU, saya berani bertaruh, hal itu sulit terjadi.

Klarifikasi Kontroversi

Di ujung tahun 2017, siapakah yang tak mendengar UAS diperkusi dan dicekal di Bali? Serta tak boleh masuk Hongkong untuk berceramah di depan buruh Migran muslim Indonesia? Saya kira, di era now yang serba Medsos ini, tidak ada satupun yang tidak mendengar. Tapi tak ada berita yang pasti, kenapa dan oleh sebab apa UAS diperlakukan demikian? Kecuali, saat itu, banyak suara menyalak, yang dialamatkan kepadanya, bahwa ada sepenggal ceramah UAS yang dianggap telah ‘menodai’ pancasila dan NKRI.

Sebagai teman, melalui jaringan pribadi, saya sempatkan bertanya, benarkah? UAS jutsru balik bertanya, “bagaimana cara menodai Pancasila dan NKRI?” UAS melanjutkan, dalam prakteknya, pada ajaran islam, ada fiqih ibadah, fiqh mu’amalah, fiqh munakahah dan fiqh siyasah. Siyasah ini dalam istilah lain, adalah imamah atau khilafah. Sampai disitu, UAS kemudian menambahkan, fiqih siyasah bertujuan untuk menawarkan sebuah praktik hukum dari ajaran islam yang universal, rahmatan lil’alamin, buat pertimbangan pemangku kebijakan, bukan untuk mengganti ideologi Pancasila dengan ideologi Khilafah. Di situlah barangkali asal muasal salah paham itu!

Di tempat lain, dengan ekspresi yang lebih tegas, namun lunak, dalam uraiannya tentang kepemimpinan negara imajiner yang diidamkannya, yaitu khilafah ‘ala minhajin nubuwwah (kepemimpinan yang menempuh jejak kenabian), sesuai dengan Hadis Riwayat Ahmad dari Nu’man bin Basyir, Musnad Ahmad: IV/273, Al-Baihaqi, dalam Misykatul Mashobih, hal. 461. Lafadz Ahmad. UAS menyatakan dan yakin bahwa manhaj nubuwwah itu misalnya, jika diaplikasikannya Perda-Syariah di daerah yang mayoritas Muslim, karena bagaimanapun muslim di Indonesia adalah mayoritas, dan menerima bagian dari hukum Islam, baik yang sakral maupun yang profan adalah anugrah, meskipun tak menutup kemungkinan ada “dogma positif” di luar islam.

Dengan begitu, benarkah UAS telah ‘menodai’ pancasila dan NKRI?

Untuk menjawab itu barangkali perlu dikisahkan sekelumit hal disini. Dalam salah satu film dokumentasi yang tersebar di dunia maya, UAS pernah memperlihatkan dirinya “bergerilya” masuk ke pedalaman hutan Sumatera (Riau) sembari menjunjung tinggi bendera merah-putih. Ia keluar-masuk hutan belantara menemui orang-orang kecil, yang terpinggirkan, dan boleh jadi dilupakan oleh negara.

Tanpa menuding masyarakat suku Talang Mamak tidak pancasilais. Tanpa juga mendaku bahwa dirinya atau orang-orang Melayulah yang paling cinta Indonesia. Semua itu dilakukan UAS demi NKRI, bukan untuk periuk nasi. Dokumentasi foto dan video ini dengan muda bisa kita jumpai di duni maya.

Gerilya UAS bersama rekan-rekannya itu, bukankah justru demi tegak dan tertanamnya jiwa Pancasila, UUD 1945 dan merah putih di dada masyarakat suku Talang Mamak? UAS mengajari dan mengenalkan anak-anak Talang Mamak apa itu Pancasila dan filosofi warna merah putih. Lihatlah bendera dengan tiang bambu itu dipikul sendiri oleh UAS, lalu ditancapkan di tengah pematang sawah, sembari membariskan anak-anak dalam upacara bendera.

Tak lupa, setelah itu mereka, bersama-sama melantunkan nyanyian kebangsaan “Indonesia Raya”, yang berkumandang di tengah belantara rimba. Jauh dari tudingan mem-bid’ah-kan dan menyalahkan perihal hormat kepada bendera, seperti yang acap kali dilakukan oleh mereka yang mengklaim paling “syari.” UAS sudah memberi teladan bagaimana hubbul wathan minal iman dan tak bisa lagi dibantah.

Dari cerita singkat ini, barangkali, bukan dia yang “menodai” Pancasila dan NKRI, tetapi, boleh jadi orang lain yang menuduhnya itu?, bukti lain adalah karya-karya tulisnya, ada 10 karya terjemahan dan banyak karya tulisnya, diantaranya adalah; 37 Masalah Populer, 99 Pertanyaan Seputar Sholat dan 33 Tanya Jawab Seputar Qurban, yang ditulis dengan ilmiah dan runtut, khas dari kalangan Aswaja atau islam tradisi yang selama ini dikenal sebagai pengawal garda depan Pancasila dan NKRI.

Selain itu, ia juga pernah mengikuti penataran P4 sebagai persyaratan mendapatkan beasiswa Kemenag untuk belajar ke Al-Azhar pada tahun 1998, juga ketika ia mendaftaran diri menjadi dosen di UIN Riau dan diterima sebagai Pegawai Negeri Sipil.

Terakhir, meskipun kami sama-sama belajar di Al-Azhar, dan punya banyak persamaan, tidak menutup kemungkinan diantara kami juga punya perbedaan pendapat, misalnya dalam memahami tekstualitas khilafah, menyikapi hari Ibu dan lain sebagainya. Pesan Gus Dur, “jika kita tidak bisa menerima perbedaan, lebih baik mencari persamaannya”. Wallahu’alam bishawab.

Yogyakarta, 31 Desember 2017

(KH Dr Aguk Irawan MN, penulis novel dan pengasuh Pesantren Baitul Kilmah, Bantul.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *