Sudah lama banyak diketahui orang bahwa Gus Dur mempunyai daya ingat yang sangat kuat. Untuk menyimpulkannya tidak susah. Jauh sebelum menjadi Presiden dan belum mengalami gangguan penglihatan, jika berceramah atau menulis, Gus Dur sangat lancar menyebut data tentang buku, nama orang, tanggal kejadian, atau istilah-istilah yang sudah puluhan tahun terjadi atau yang jauh dari negeri ini.
Dia bukan hanya tahu detail biografi tokoh-tokoh politik besar di dunia, tetapi juga tahu nama artis terkenal pada tahun tertentu di negara tertentu, tahu nama atlet terkenal dengan segala kegemaran dan kebiasaannya, bahkan termasuk yang hidup puluhan tahun yang lalu.
Judul-judul buku, nama-nama pengarang, dan tahun publikasi serta pokok-tesisnya sangat banyak yang diingatnya di luar kepala. Selain hafal shalawat-shalawat dan berbagai puji-pujian (nasyid) yang biasa dikumandangkan di pesantren-pesantren, Gus Dur juga menikmati berbagai jenis musik. Bukan hanya musik klasik Beethoven yang dia nikmati, kidung-kidung kampung pun dia hafal, bahkan musik India pun dia nikmati.
Ketika saya melapor untuk pergi ke India dan bertanya apakah dalam situasi waktu itu Gus Dur mengizinkan saya pergi ke India untuk menindaklanjuti rencana kerja sama, Gus Dur menjawab, “Berangkat saja, kunjungan Pak Mahfud penting untuk bangsa kita. Urusan di sini akan baik-baik saja. Tolong di sana saya dicarikan CD atau kaset lagu-lagunya Ravi Shankar,” pesan Gus Dur.
Saya sendiri tidak tahu banyak tentang Ravi Shankar dan keistimewaan lagu-lagunya. Dan, karena situasi politik yang makin memanas pada akhir Mei itu, saya membatalkan kunjungan ke India.
Dengan gangguan penglihatan seperti sekarang saja Gus Dur masih produktif menulis di berbagai media massa atau membuat makalah untuk pertemuan-pertemuan internasional. Kalau menulis biasanya Gus Dur mendiktekannya kepada Munif, sekretaris pribadi yang selalu mendampinginya. Dalam mendikte itu, tampak sekali betapa kuat ingatan Gus Dur, terlihat dari caranya menyebut nama atau istilah serta tanggal dan tahunnya.
Nama-nama orang asing yang sulit kita ucapkan dengan lidah kita pun dia bisa mengatakannya dengan sangat fasih dan dengan deretan huruf yang didiktekan sama persis dengan aslinya. Dia mendiktekan juga dengan cermat letak titik, koma, titik-koma, tanda petik, huruf miring, atau tanda baca lainnya pada setiap tulisan yang dibuatnya.
Jadwal kegiatan dari tanggal ke tanggal beserta jamnya diingatnya dengan baik, sehingga kalau ada orang mengundangnya untuk tanggal tertentu Gus Dur langsung ingat apakah undangan itu berbenturan dengan acara lain atau tidak.
Ada juga yang mengatakan bahwa Gus Dur hafal di luar kepala ribuan nomor telepon sejak jauh sebelum mengalami gangguan penglihatan. Seorang teman menceritakan bahwa ketika pada suatu waktu dia menemani Gus Dur ke Negeri Belanda, dari sebuah stasiun Gus Dur enak saja menyebut nomor-nomor telepon dan nama orang untuk dihubungi dari stasiun kereta api atau dari airport.
Saya sendiri pernah mempunyai pengalaman ketika harus melapor kepada Gus Dur tentang situasi di tanah air pada bulan Desember 2000. Ketika itu, Gus Dur sedang melakukan kunjungan kenegaraan ke Brunei dan saya harus menyampaikan laporan kepadanya tentang situasi beberapa daerah bergolak seperti Aceh dan Irian Jaya.
Lalu, Gus Dur meminta saya untuk menghubungi beberapa orang melalui telepon masing-masing. Gus Dur menyebut dengan sangat lancar nomor telepon setiap orang, baik telepon rumah maupun telepon genggamnya, sudah pasti tidak dengan membaca catatan.
*)Dikisahkan Prof. Dr. Moh. Mahfud M.D., S.H. dalam bukunya Setahun Bersama Gus Dur: Kenangan Menjadi Menteri di Saat Sulit.
Kontributor: Akhmad Musta’in








