Kiai Asyhari Marzuki

Kenapa Hasil Penelitian di Indonesia Menjadi “Sampah”?

Posted on

Penelitian Sampah. Beberapa waktu lalu, Presiden Jokowi “meratapi” hasil penelitian Indonesia yang tidak memberikan sumbangsih signifikan terhadap rakyat Indonesia.  

Mengapa seperti itu? Karena ukuran penelitian masih melihat pada proses penelitian dan output penelitian, belum masuk ke ranah outcome. Hasilnya? Sudah pasti penelitian Sampah.

Sedikutnya dua indikator berikut sebagai parameternya.

1. Laporan penelitian yang diurus masih kwitansi-kwitansi penggalian data lapangan. Harus sesuai SBM. Bisa dibayangkan jika penelitian di kawasan terdepan terluar dan tertinggal, dimana kwitansi hotel dan makan menjadi barang mewah? You knowlah harus bagaimana..

2. Laporan diukur seberapa banyak halamannya. Seorang kawan bercerita, ada salah satu “pemeriksa” berkomentar, “perlembar laporan ini mahal sekali ya, dengan anggaran 50 juta hanya 60 halaman. Berapa rupiah perjalanannya? Makanya sempat ada seruan, apapun kertas yang berhubungan dengan penelitian, dibundel saja jadi satu jilid agar kelihat tebal dan berbobot.

Iya betul berbobot, bukan bermutu. Berbobot artinya kalau ditimbang bisa sekilo hahaha.., jadi tidak penting bermutu atau tidak, yang penting berbobot.

Jadi, jika ukuran penelitian masih kwitansi-kwitansi dan jumlah halaman laporan, maka jangan pernah bermimpi penelitian akan memberikan sumbangsih terhadap keindonesiaan, keislaman, dan kemanusiaan.

Baca Juga >  Ini 5 Tanggung Jawab Seorang Dosen di Perguruan Tinggi

(Penulis: Dr Ahmad Salehudin, Dosen UIN Sunan Kalijaga)