Hidup Tak Boleh Hanya Biasa-biasa Saja

Hidup Tak Boleh Hanya Biasa-biasa Saja

Posted on

Hidup Tak Boleh Hanya Biasa-biasa Saja.

Hidup yang kita jalani jangan sampai hanya berjalan biasa-biasa atau sekedar hidup yang mengalir begitu saja, sehingga hidup hanya daily life alias rutinitas biasa-biasa saja. Orang yang biasa-biasa saja itu biasanya sudah merasa nyaman di zona aman sehingga takut menghadapi turbulensi persoalan hidup atau malas berinovasi. Yang paling parah, orang yang malas ini terkadang menyandarkan lewat kerudung tawakal dengan mengatakan :”jalani hidup mengalir apa adanya, semua saya pasrahkan kepada Allah”. Pernyataan ini sangat indah jika ditempatkan pas, tetapi akan berbahaya jika itu hanya jadi kerudung malas berikhtiar dan berusaha.

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

Dalam hidup, kita harus punya cita-cita besar yang kita perjuangkan untuk merealisasikannya. Jika hidup hanya sekedar hidup, tentu sangat rugi seperti pesan Almarhum Almaghfurlah KH. Zainal Abidin Munawwir bahwa “….kita dititahke niku mboten sanes namung kangge ngibadah, mboten namung kangge urip, nek namung kangge urip, tikus mawon njih urip” (Kita diperintah hidup itu untuk ibadah, tidak hanya untuk sekedar hidup. Jika hidup hanya untuk sekedar hidup, tikus juga hidup). Tentu ibadah yang dimaksud beliau tidak hanya ibadah mahdhoh, tetapi ibadah dalam arti luas termasuk khidmah membangun masyarakat.

Ungkapan beliau yang disampaikan ketika kuliah perdana dan dibukukan oleh pak Kurdi ini, memberi inspirasi bahwa hidup tidak boleh sekedarnya, yang penting berjalan ala kadarnya, tetapi kita harus buat tinggalan monumental sebagai amal jariyah kita. Disini lah kita faham, beliau begitu bersemangat mendirikan Madrasah Salafiyah Takhasus dan Ma’had Aly serta Pengajian Alumni, Pengajian Masyarakat, Pengajian Para Janda-janda dan lainnya. Cita-cita besar beliau dengan adanya Madrasah dan Ma’had Aly adalah lahirnya mutafaqih fiddin/faqiih, bukan mutafakir fiddin. Tentu ini perjuangan besar beliau dan jadi jariyah beliau.

Pentingnya punya cita-cita besar ini juga sering disampaikan oleh Almarhum Almaghfurlah Drs. KH. Ali As’ad, MM. Beliau sering menyitir “Kun Rojulan Fir Ardhi wa Himmatuhu fi Tsuroya (Jadilah engkau orang yang tetap di bumi, tetapi cita-citamu setinggi bintang Tsuroya). Artinya, kita faham dan menyadari posisi dan kondisi kita sekarang, tetapi kita punya cita-cita besar yang akan diraih seperti tingginya bintang tsuroya. Tugas kita adalah membuat peta jalan (road map) dari posisi kita ke cita-cita besar tersebut, kemudian berusaha dan berjuang menggapainya step by step hingga mencapai cita-cita tersebut.

Cita-cita besar ini jika kita kembalikan dalam bahasa hadits sebagai niat seperti yang tertera dalam hadits pertama kitab Arbain Nawawi atau ar-Roja’ dalam bahasa Imam Ibnu ‘Athoillah As-Sakandari dalam kitab Hikamnya. Definisi niat menurut ulama’ fiqh, Qosdhu syai’in muqtarinan bi fi’lihi (menyengaja menuju sesuatu dibarengi dengan perbuatannya), sedang dalam bahasa kitab Al Hikam, Ar-Rojau ma qoronahu ‘amalun wa illa fahuwa amniyyatun (Roja’—pengharapan/cita-cita—itu sesuatu yang dibarengi dengan amal perbuatan, jika tidak maka itu hanya anggan-angan). Jadi cita-cita—niat/roja’–butuh bukti kerja keras, jika tidak ada bukti maka itu termasuk angan-angan belaka.

Baca Juga >  Perang Diponegoro, Pesantren dan “Jihad” Zaman Now

Dalam perspektif sejarah sebagaimana termaktub dalam kitab Tarikh Hadhoroh Al-Islamiyyah bahwa ketika perang Khondaq/Ahzab yang terjadi pada tahun ke-5 H, dimana orang Islam harus berhadapan dengan pasukan koalisi besar Kafir Quraisy, Orang Yahudi dan Suku-suku Arab, maka strategi pertahanan yang dicetuskan oleh Shohabat Salman AlFarisi adalah membuat parit mengelilingi kota Madinah. Ketika membuat parit itu, tiba-tiba mengenai batu besar. Semua shohabat termasuk Salman Alfarisi tidak bisa memecahkannya, sehingga ada keinginan untuk membelokkan parit ke sebelahnya.

Sebelum dilaksanakan Salman lapor Kanjeng Nabi Muhammad, dan kemudian Nabi melihat batu itu dan meminta kapak besi serta memerintahkan sahabat untuk mundur. Kemudian Nabi mulai memecahkan batu itu, dalam ayunan pertama terpercik sinar ke arah langit persia, Nabi dawuh bahwa Kekaisaran Persia akan dikuasai Islam. Dalam ayunan kedua, percikan api itu ke arah Kekaisaran Romawi, Nabi Dawuh bahwa Romawi akan dikuasai Islam. Dalam ayunan ketiga, batu itu ambyar dan nabi menyatakan bahwa Yaman, Shon’a dan sekitarnya akan dikuasai Islam.

Pernyataan Nabi ini disambut gegap gempita oleh kaum Muslimin. Bayangkan, ditengah-tengah kesulitan yang luar biasa yakni musim dingin, kekurangan pangan dan peralatan, harus berhadapan dengan koalisi Quraisy, Yahudi dan Suku-Suku Arab, Nabi memberikan kabar gembira, dua kekaisaran besar, Romawi dan Persia, dan beberapa wilayah Arab seperti Yaman, Shon’a dan lainnya akan dikuasai oleh Islam. Ini adalah kabar gembira kenabian, sekaligus menunjukkan visi besar perjuangan yang harus dilakukan oleh para shahabat, tabi’in dan seterusnya.

Disisi lain, orang-orang munafik yang mendengar pernyataan Nabi ini dengan skeptis, bagaimana mungkin mau menguasai Persia/Romawi, sedang menghadapi Kaum Quraisy saja sudah kalang kabut. Lewat perjalanan sejarah, terbukti dawuh Nabi tersebut, Romawi, Persia dan Suku-suku sekitar Arab telah dikuasai oleh kekholifahan Islam. Dalam catatan Hudson, bahwa Islam dan budayanya telah diterima seluruh dunia tidak lebih dari 2 Abad prosesnya kecuali wilayah Eropa Utara dan Asia Timur yang masih belum pada waktu itu.

Catatan akhir saya, punya lah cita-cita besar kemudian rumuskan peta jalannya (road map) dan berjuanglah untuk mewujudkannya dengan konsisten. Konsistensi perjuangan inilah kombinasi antara Sabar dan Istiqomah. Kemudian pasrahkan hasilnya kepada Allah lewat tawakal. Diskusikan cita-cita besar itu dengan orang-orang yang berjiwa dan berfikir besar. Jangan sekali-kali menyampaikan cita-cita besar kepada orang yang skeptis, negatif dan kerdil, karena ia akan mengendorkan semangatmu mencapai cita-cita itu.

Demikian makna hidup tak boleh hanya biasa-biasa saja, semoga bermanfaat.

Wallahu a’lam bi showab.

Penulis: KH M Ikhsanuddin, Ketua Lembaga Dakwah PWNU DIY.