mbah zainal krapyak

Ketika Simbah KH Zainal Abidin Munawwir Menerima Tamu

KH Munawir AF, Mustasyar PWNU DIY

Simbah KH Zainal Abidin Munawwir itu soal menjaga waktu shalat sangat luar biasa. Sakit atau tidak, sama saja. Ada tamu atau tidak, tak ada beda. Ada acara apa saja tentu diperhitungkan waktu shalat. Dijaga, jangan sampai shalat terlambat.

Demikian pula ketika naik kendaraan diperkirakan, diperhitungkan berhenti dimana, untuk shalat Zhuhur dan Ashar, dan shalat-shalat lainnya. Suatu saat santri yang nderekke usul – ya kyai di sana ada rumah makan, uenak, ada tempat shalat juga. Kiai Zainal cuma senyum. sambil bergumam – makan…

Termasuk cara shalat. Kiai Zainal sangat memperhatikan. Kalau dapat berdiri dan ada tempat- kenapa harus duduk? Misalnya di pesawat, Kiai Zainal suka shalat seperti di kereta api. Ya cari tempat, di sela-sela kursi kan ada lorong sempit, ya disitulah Kiai Zainal ambil tempat shalat. Soal meja makanan pramugari, ya harus ngalah. Gak peduli siapa yang mau lewat.

Kiai Zainal tidak mau juga ikutan bertayamum pakai ngusap tempat duduk. Amat dicelanya pendapat yang mensahkan tayammum pakai debu sandaran kursi. Kata Kiai Zainal, seberapa repot sih bawa debu ditaruh di amplop. Lalu ketika waktu shalat dikeluarkan? Kalau memang di pesawat tidak ada air, atau tidak boleh digunakan. Kiai Zainal mengkritisi pendapat yang mensahkan tayamum dengan bukan asli debu.

Baca Juga >  Gus Nadir: Bendera ISIS dan HTI bukan Bendera Islam, bukan Bendera Rasul!

“Gak ngerti makna SHOIIDAN…”  katanya mantap.

Santri, atau siapapun tamu yang mau sowan harus memperhitungkan waktu shalat. Jangan mentang-mentang “dari Jakarta” kalau adzan sudah dikumandangkan, maka tamu pun ditinggal. Bahkan kadang kalau dilihatnya tamu gak mau tahu soal waktu shalat – dpt dipastikan ditinggal tanpa pamit. Tahu-tahu ada suara iqomat di masjid, pertanda Kiai Zainal sudah ada di sana – ngimami.

Allahu yarham,

Krapyak, 04-04-2015