Habib Umar Al-Athos Jakarta Potong 1600 Kambing untuk Jamaah Acara Maulid

Habib Umar Al-Athos Jakarta Potong 1600 Kambing untuk Jamaah Acara Maulid

Posted on

Habib Umar Al-Athos Jakarta Potong 1600 Kambing untuk Jamaah Acara Maulid.

Suatu hari, beberapa tahun silam, sebuah rumah di pemukiman padat Batu Ampar, Condet, Jakarta timur terbakar hebat. Api berkobar menghanguskan apa saja. Masyarakat tidak bisa berbuat apa-apa, karena sumber air yang jauh, sementara petugas dinas pemadam kebakaran tak kunjung datang.

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

Tiba-tiba, di antara kerumunan penduduk, menyeruaklah seorang lelaki berserban dan memegang tasbih. Dengan gagah berani ia maju ke arah rumah yang terbakar itu sambil mengibas-ngibaskan sorbannya.

Ajaib!

Dalam waktu sekejap, api yang berkobar hebat itupun padam. Setelah itu, ia pergi begitu saja. Siapa dia? Penduduk Batu Ampar mengenalnya sebagai Habib Umar Al-Atthos. Beliau mula-mula tinggal di Kwitang, Jakarta Pusat, kemudia hijrah ke Batu Ampar.
Habib Umar bin Muhammad bin Hud Al-Atthos lahir sekitar tahun 1890-an di Huraidhoh, Hadramaut, Yaman.

Sejak muda beliau menimba ilmu agama di Hadramaut. Sampai akhirnya beliau hijrah ke Jakarta pada tahun 1940-an untuk menemui kedua orang tuanya, Habib Muhammad bin Hasan bin Ali bin Hud Al-Atthos yang telah terlebih dulu menetap di Kwitang. Dalam perjalanan beliau ke Betawi, beliau singgah di Kuala lumpur, Singapura dan Brunei untuk menggelar dakwah yang dihadiri ratusan jemaah. Baru pada awal 1950-an beliau tiba di Jakarta, dan tinggal di Pasar minggu, kemudian, beliau pindah lagi dan selanjutnya menetap di Batu Ampar.

Di kediaman yang baru ini, beliau berdakwah dengan pendekatan persuasif, penduduk mengenalnya sebagai ‘ulama yang berpenampilan sejuk dengan karomah luar biasa.

Karomah-karomah beliau.

Pertama, karomah itu terjadi ketika beliau diminta membantu orang yang gemar membeli undian. Tapi anehnya dengan tenang dan baik, Habib Umar melayaninya.

“Habib Umar, saya minta nomor undian.”

Kata lelaki itu tanpa sungkan.

“Aku akan berikan engkau nomor undian, dengan syarat jika engkau menang undian segeralah bawa uang itu kepadaku.”
Jawab Habib Umar.

Beberapa hari kemudian lelaki itu datang lagi.

“Habib, saya berhasil menang undian. Ini uangnya.” Katanya berseri-seri.

Dengan tenang Habib Umar minta muridnya mengambil sebuah baskom, lalu beliau berucap :

“Perhatikan apa yang aku perbuat.”

Lalu beliau menggenggam uang segepok itu dan memerahnya di atas baskom. Aneh! Dari genggaman tangan Habib Umar mengucurkan darah segar, mengalir memenuhi baskom.

“Lihatlah, apa yang telah engkau dapatkan dari undian itu.” Kata beliau.

Lelaki itu kaget bukan main, dan akhirnya ia pun bertobat.

Kedua, ada cerita lain mengenai karomahnya. Pada suatu hari datanglah seorang lelaki membawa air agar didoakan sebagai obat. Tapi baru saja ia mengetuk pintu, Habib Umar sudah menyuruhnya pulang. Tentu ia bersikeras dan bertahan menunggu di depan pintu.

Akhirnya Habib Umar keluar. Kata beliau :

“Pulanglah, air yang engkau bawa itu sudah bisa menyembuhkan.”

“Tapi, Bib…”

“Pulanglah. Bukankah engkau sudah ditunggu oleh keluargamu?”

Mendengar jawaban Habib Umar yang begitu santun dan lembut, orang itu pun akhirnya sungkan juga.
Akhirnya dengan keyakinan yang kuat ia pulang membawa air dalam botol tersebut, dan menuangkannya ke dalam gelas untuk diminum oleh keluarganya yang sakit.

Ajaib!

Tak lama kemudian keluarga yang sakit tersebut sembuh. Setelah sembuh, mereka bertamu ke rumah Habib Umar untuk bersilaturrahmi.

Ketiga, Menurut beberapa Habaib yang kenal dekat dengan Al-Habib Umar, karomah yang dimiliki oleh beliau itu berkat keikhlasan dalam merawat ibunda Al-Habib Selama 40 tahun, dengan tekun, ikhlas dan sabar, beliau merawat sang ibu hingga akhir hayatnya.
Subhanallah..!!!

Habib Ismail bin Yahya, seorang pengurus Naqabatul Ashraf, salah satu lembaga penyentus para habib, juga menyatakan, karomah tersebut berkat keikhlasan Habib Umar merawat ibundanya. Bahkan karena lebih mementingkan merawat sang ibu, suatu saat Habib Umar tidak sempat menghadiri pengajian-pengajian di luar rumah, termasuk masjid Riyadh, Kwitang, yang digelar Habib Ali Al-Habsyi.
Ulama besar yang dikenal sangat sederhana dan tawadhuk ini wafat pada tahun 1999 dalam usia 108 tahun, meninggalkan tiga putra : Habib Husein, Habib Muhammad dan Habib Salim.

Keempat, selama hidupnya, almarhum selalu menekankan pentingnya mencintai dan meneladani Rasulullah saw. Sebagai ulama yang sholeh, seperti halnya habaib yang lain, beliau juga suka menggelar maulid. Dalam maulid yang beliau laksanakan sebelum wafatnya beliau, Habib Umar memotong 1600 ekor kambing untuk menjamu puluhan ribu jamaah.

Habib Umar dimakamkan di kompleks pemakaman Al-Hawi, Condet, Jakarta Timur. Upacara pemakamannya kala itu dihadiri puluhan ribu jemaah. Bahkan saking banyaknya jamaah yang ingin mensholatkan jenazahnya, sholat jenazah pun dilakukan sampai tiga kali dengan tiga orang imam bergantian.

Demikian kisah Habib Umar Al-Athos Jakarta Potong 1600 Kambing untuk Jamaah Acara Maulid, semoga bermanfaat.

Baca Juga >  40 Hari Mengarungi Lautan Ilmu Mbah Maimoen Zubair Sarang

Penulis: Sayyidah Nur binti Abdullah.