Gus Mus
Gus Mus

Gus Mus, Saya Nderek Panjenengan!

Yai, di Jakarta akhir Mei 2015, Panjenengan teteskan air mata di hadapan puluhan wartawan asing yang tergabung ke dalam Jakarta Foreign Correspondent (JFC). Panjenengan ungkapkan kepedihan Panjenengan dan kepedihan kami semua seluruh ummat muslim sedunia karena Islam dikoyak-koyak oleh kuku-kuku radikalisme hingga di Barat lahir Islamophobia.

Panjenengan ‘paido’ para wartawan bule itu, sembari Panjenengan berkata, “Kalian sudah beberapa tahun hidup di negeri kami tapi kalian masih saja buta dengan Islam Rahmatan Lil Alamin yang kami praktekkan sejak masa Walisongo. Kalian hanya memberitakan demo-demo anarkhis Kaum Radikal di negeri kami yang hitungannya hanya segelintir dan hanya ada di kota-kota. Turunlah kalian ke kampung-kampung. Mondoklah kalian di pesantren-pesantren Nusantara yang dibimbing oleh para kiai sejati yang jauh dari gemerlap cahaya pencitraan dan gemerlap hedonisme. Mondoklah kalian seminggu saja. Niscaya kalian rasakan Islam di Nusantara yang Rahmatan Lil ‘Alamin. Lalu setelah itu beritakan ke negara-negara kalian dan ke seluruh penjuru dunia tentang Islam di negeri kami. Biar dunia tahu…”

Kini, Yai Mus, Panjenengan kembali meneteskan airmata bagi mengungkapkan kepedihan Panjenengan dan kepedihan kami atas mereka yang tak lagi menjunjung tatakrama-nahdliyyah di bumi Nahdloh dan Nahdliyyin…

Baca Juga >  Apakah Santri Harus Mondok? Monggo Renungkan Jawabannya

Dan seperti dawuh Bib Umar Al-Muthohhar, “Do kebangeten emang. Gak ada totokromone di kota di mana jasad para pendiri yang muhlisin lillah disemayamkan, di depan para sesepuh yang masih mau ngopeni dengan ikhlas NU. Atraksi yang amat memalukan dipertontonkan disaksikan dunia internasional. Jombang oh jombang… dari perut bumimu NU yangg ijo berkembang dan lewat lintasan waktu yang ngrumat dan ngramut anakmu itu ijone do ngambang. Yak nah beh…”

Yai Mus, ada saja memang yang dengan sangat keji menuduh air mata itu air mata buaya.

Dan saya pun tak hendak membela Panjenengan sebab Panjenengan tidak akan butuh dibela oleh siapapun kecuali oleh Allah.

Saya hanya ingin matur apa yang saya tahu, tanpa berani menganalisanya, apalagi meng-cross nya dengan potongan-potongan berita macam Jonru atau garisini dan garis itu.

Yai, kulo nderek Panjenengan!

Oleh: Ahmad Nadhif Abdul Mujib, Tayu Pati