mbah maimoen dan gus mus

Gus Mus: Ciri Kewalian Mbah Maimoen Zubair Sangat Jelas

Posted on

Saya terakhir bertemu dengan Mbah Moen pas putrane Mbah Moen, yakni Gus Ubab mantu. Saya kaget setiap ketemu saya Mbah Moen selalu minta doa supaya husnul khotimah, bisa dimakamkan di tanah suci, berkumpul dengan orang mulia.”

Untaian kalimat ini disampaikan Mustasyar PBNU KH  A Mustofa Bisri, yang diakrab disapa Gus Mus, dalam acara Tahlil hari ketiga di kediaman Mbah Moen, komplek Pesantren Al Anwar Sarang Rembang, Kamis (08/08).

Gus Mus juga menegaskan bahwa kita semua mesti menyerap akhlaq yang luar biasa dari Mbah Moen.

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

“Saya diceritani orang. Suatu hari, ada orang sowan dengan suara keras. Sangat tidak sopan. Mungkin kalau kita mendengar, kita pengen nempeleng orang itu. Tapi kalau Mbah Moen tidak, itulah yang mesti kita contoh,” tegas Gus Mus.

Dalam mauidzoh hasanah ini, Gus Mus dengan gamblang menegaskan bahwa Mbah Moen adalah kekasih Allah, waliyullah.

“Mbah Maimoen adalah seorang wali. Karena ada dua ciri wali yang ada di Mbah Moen. Pertama Alim, dan kedua, istiqamah. Selain itu ciri wali yang lain adalah tidak pernah ditaklukkan oleh rasa takut duniawi dan tidak pernah memiliki rasa susah,” kata Gus Mus.

“Saya berani bilang Mbah Moen wali karena saya tau ciri-ciri wali, yang pertama tidak pernah takluk dengan rasa takut. Tidak pernah susah, pasti gembira, sampean tau Mbah moen pernah susah, pasti sumringah. Anda juga bisa seperti Mbah Moen. Sampean sudah punya satu, yang pertama sampean harus percaya tidak ada Tuhan selain Allah sampean sudah punya itu, tinggal satu yaitu istiqamah,” lanjut Gus Mus.

Kalau ingin meniru Mbah Moen, lanjut Gus Mus, kita mesti bisa istiqamah, peduli, mengajar, kepada sesama selama 90 tahun.

“Mbah Moen itu tak pernah membedakan. Kalau ceramah ngisi ngaji, beliau tetap datang ke tempat yang tidak ada listriknya, sampai dengan istana negara. Bagi siapa saja Mbah Moen itu sama. Mulai calon presiden sampai orang biasa dihadapi sebagai tamu tidak dibedakan. Kok bisa seperti itu gimana caranya, nah itu bisa, yang sulit itu istiqamah,” kisah Gus Mus sambil sesekali meneteskan air mata.

Saya lega, karena wafatnya Mbah Moen setelah acara besar bangsa Indonesia rampung, yaitu pilpres. Itu tugas beliau sudah rampung semua,” pungkas Gus Mus. (red)