amplop kiai

Apakah Amplop Kiai Berkaitan dengan Gratifikasi?

Posted on

Amplop, Kiai dan Gratifikasi

Foto bergambar pemberian amplop oleh LBP kepada seorang kiai mendadak viral, terutama di kalangan kubu golongan tertentu. Adakah yang janggal dengan pemberian sesuatu kepada seorang kiai?

Dalam tradisi pesantren, terkait relasi guru-murid maupun kiai dengan umatnya, fenomena memberi salawat (baca: amplop) adalah sesuatu yang lumrah, bahkan bisa menjadi ukuran kepantasan sebagai bentuk penghormatan atas jasa kiai sebagai pribadi yang memiliki bermacam peran di tengah masyarakat. Ia bisa menjadi sosok guru, dai, pengayom dan tokoh masyarakat, yang berjuang tanpa pamrih selain berharap ridho Allah bagi kebaikan umat. Bahkan peran-peran di ranah publik itu kadang harus menomor duakan peran domestiknya di rumah tangga.

Dengan peran yang kompleks, menjadi tak terhindarkan relasi kiai tak terbatas dengan santri atau umatnya saja, tapi hampir semua kalangan yang membutuhkan perannya merasa perlu membangun hubungan baik dengan kiai, siapapun mereka. Ada pejabat, politisi, pegawai rendahan, bakul pasar, tukang becak hingga psk dan preman. Bahkan kere seperti saya juga merasa perlu dekat dengan kiai.

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

Banyaknya kepentingan dari berbagai kalangan yang beragam, dan menjadikan kiai sebagai sosok yang bisa memberi solusi atau pribadi yang cocok dijadikan mitra hingga dukungan tertentu, predikat kiai menjadi lebih dari sekadar ulama. Bahkan Gus Mus, dalam sebuah kesempatan pernah mengatakan, bahwa kiai itu beda dengan ulama. Perbedaan itu tentu saja karena perannya tidak sekadar penyampai pesan-pesan agama dan penjaga moral, tapi lebih luas, lebih kompleks dan lebih ruwet bin ribet.

Kiai, dalam terminologi jawa memiliki makna khusus terkait dengan kelebihan yang dimiliki oleh seseorang atau yang lain. Ia juga bisa disematkan pada binatang yang dikeramatkan, seperti kiai Slamet, sosok kerbau milik Kasunanan Surakarta yang diyakini memiliki sesuatu yang linuwih, atau benda yang dianggap bertuah, seperti keris, tombak, bambu dan lain-lain juga sering diberi predikat kiai.

Baca Juga >  Islam Nusantara Itu Anti Arab, Benarkah?

Terkait dengan heboh kiai menerima amplop, memang menjadi hal yang membedakannya dengan pejabat publik formal, mulai dari lurah, mentri, pejabat eselon, DPR hingga presiden. Bila kiai tidak terkena gratifikasi dengan pemberian orang lain, maka tidak dengan pejabat publik formal. Mereka terlarang menerima segala bentuk pemberian yang bisa jadi terindikasi maksud tertentu yang melanggar sumpah jabatan.

Bila kemudian orang menggugat kiai yang juga “pelayan publik” bebas menerima angpao dan tidak dikategorikan sebagai gratifikasi, mereka berarti belum mengenal sosok kiai yang sesungguhnya.

Mereka, para kiai itu sejatinya pejuang moral yang tanggungjawabnya langsung kepada Allah. Sebagian besar kiai membiayai hidupnya dari usaha pribadi, baik dari sawah, toko atau investasi yang lain. Adapun segala bentuk pemberian yang diterima dari berbagai tamu yang datang cuma sekadar lewat. Para kiai akan menyalurkan kembali amplop itu lewat bebagai cara.

Bila pemberian itu dari orang salih, amplop itu akan menjadi milik pribadi dan tidak akan dibelanjakan karena pemberian itu dianggap sebagai doa. Bila pemberian itu dari kalangan awam, maka akan digunakan untuk kemaslahatan umum, membangun madrasah, mengembangkan pesantren atau diberikan kepada siapapun yang membutuhkan melalui orang-orang yang sowan dengan maksud tertentu, seperti minta sumbangan, minta doa, sangu atau lain-lain sesuai dengan kepantasan penerima atas dasar klasifikasi dari mana amplop itu diterima.

Kesimpulannya, bila pejabat publik akan menanggung resiko hukum, berurusan dengan KPK bila amplop yang diterima termasuk grafitikasi. Sedang kiai, sebagai pelayan umat, bila menjual kekiaiannya untuk tujuan materi, politis dan sesuatu yang jauh dari predikatnya sebagai penjaga moral, maka hukuman moralnya ia akan ditinggalkan umat.

Penulis: Ade Ahmad.