Utadz Somad dan Dr Zakir Naik adalah dua tokoh muslim “kor amonyih” tidak pada tempatnya. Yang satu dianggap menggoyang harmoni masyarakat Malaysia karena pernyataannya acap menusuk perasaan sesama makhluk Tuhan.
Manusia India ini pernah menyatakan etnis China di Malaysia hanya “tamu” dan seharusnya dipulangkan ke negara asalnya. “Sebelum saya (di Malaysia), warga China adalah tamu. Mereka tidak lahir di sini. Jika anda ingin tamu baru untuk pergi, maka minta tamu lama untuk pulang lebih dulu”. Ucap Zakir Abdul Karim Naik.
Sementara doi sendiri, adalah sebenar-benarnya tamu alias berstatus permanent resident. Sesama tamu dilarang saling serempet. Malu sama tetangga!. Ia juga menyebut umat Hindu sebagai minoritas di Malaysia memiliki “hak seratus kali lipat” ketimbang Muslim yang juga merupakan minoritas di India.
Pernyataan buruan pemerintah India ini dianggap tidak tepat dan tidak pada tempatnya yang oleh manusia Malaysia dianggap menghasut dan bahkan hanya merusak ketertiban umum. Masyarakat bahkan empat Menteri negeri Upin-Ipin berikut anak PM menyarankan kepada Dr. PM untuk segera membelikan tiket gratis alias mendeportasi ke negeri Anak Benua sana.
Serupa tapi tak sama. Di negeri yang baru merayakan ulang tahun ke 74 tahun ini, ada satu ustadz yang sangat-sangat pinter dan terkenal, yang isi ceramahnya viral di media sosial, yang oleh saudara kita-umat Kristen dianggap sangat meresahkan serta mencedarai karena melecehkan simbol keimanan umat Nasrani. Bisa jadi, umat lain, umat Islam, misalnya, merasa ikut tercerderai.
Mungkin ustadz lagi khilaf, bahwa renungan hari kemerdekaan ini tuk meneguhkan spirit
kebhinekaan, bahwa kita adalah tidak sama dalam satu bangsa, Indonesia.
Kini, di negeri tetangga sang ustadz sedang diproses di kepolisian, sementara negeri ini sedang atau sudah dilaporkan ke kepolisian. Semoga aparat hukum berlaku adil se adil-adilnya. Katakan tidak pada politisasi. Apalagi politisasi yang inih.
Penulis: Imam Muhlis








