Ponpes Sunan Kalijaga : Korban Insiden 22 Mei Bukanlah Mati Syahid

Posted on

Ponpes Sunan Kalijaga Gesikan mengingatkan bahwa 8 orang korban tewas dalam insiden kerusuhan pada 22 Mei 2019, di depan Kantor Bawaslu Jakarta bukanlah mati syahid ataupun meninggal sebagai syuhada. Dalam berbagai literatur pemikiran keagamaan (nadhoriyah ad-diniyyah as-syar’iyyah) maupun pemikiran ketatanegaraan (nadhoriyah as-siyaasiyah), kematian dalam insiden tersebut tidaklah memenuhi syarat, rukun dan amaliyah sebagai mujahid (orang yang berjuang di jalan Allah SWT). Oleh karena itu jika diperlukan dengan tangan terbuka, ketulusan hati dan kejernihan berpikir kepada Imam Besar FPI Habib Rizieq Sihab dan para pihak yang memandang kematian tersebut sebagai syahid, kami siap mengfasilitasi diadakan halaqah ulama/pertemuan untuk melakukan pembahasan. Hal ini semata bertujuan untuk menjernihkan persoalan dan menggapai kemaslahatan bersama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Tentu saja kita berdoa; agar Allah SWT berkenan memberikan ampunan dan rahmat bagi mereka yang meninggal.

Secara lebih lugas, sesungguhnya pandangan mati syahid bagi korban insiden kerusuhan tersebut merupakan pemikiran keagamaan yang keliru dan membahayakan, tidak saja bagi korban, keluarga tetapi bagi umat, bangsa dan negara (an-nadhru dhollun fa adhollu). Insiden kerusuhan itu termasuk kategori amal yang merusak (al-fasaad fil ardh) sehingga dilarang dalam agama. Doktrin agama mengajarkan sebaliknya, perintah untuk berbuat kebaikan dan kebajikan (al-amr bil ma’ruf wal ishlaah). Dengan demikian, ajakan seruan untuk aksi masa pada saat sidang putusan MK RI pada 28 Juni mendatang haruslah ditolak dan diabaikan saja.

Info Peluang Usaha Depot Air Minum Isi Ulang by INVIRO

Sedari awal, gagasan people power dalam konteks demokrasi yang semakin terkonsolidasi di Indonesia adalah pembodohan berpolitik, terlebih tidak terpenuhinya syarat materil dan formil (‘adamul ‘ilat), berbeda halnya dalam konteks negara dalam sistem otoritarianisme. Ponpes Sunan Kalijaga bahkan mengharamkan people power tersebut; demi menolak potensi bahaya yang lebih nyata (dar ul mafaasid) dari pada mengambil potensi manfaat yang tidak jelas (muqoddamun ‘alaa jalbil mashaalih). People power maupun nama lainnya seperti gerakan kedaulatan rakyat bukanlah jihad. Sejatinya jihad konstitusional adalah melaporkan berbagai dugaan pelanggaran, kecurangan dalam Pemilu 2019 kepada lembaga kepemiluan terkait; Bawaslu, DKPP dan Mahkamah Konstitusi serta mengawalnya dengan sungguh-sungguh.

Baca Juga >  Gusdurian atawa Cak Nurian: Apa Beda Gus Dur dan Cak Nur?

Tausiyah kepada Polisi Republik Indonesia dan aparat keamanan terkait agar insiden 22 Mei tidak terulang kembali maka harus dilakukan upaya-upaya preventif dan represif sekaligus berdasarkan ketentuan UU. Jangan takut dan ragu, seluruh rakyat berada dalam front penyelamatan negara dan bangsa, menolak perusuh dan teroris. Terbukti sinergi dan kekompakan aparat keamanan, serta pemerintah mampu mengatasi keadaan dan memulihkan situasi dan kondisi; kerusuhan di Jakarta berhenti dan tidak merembet di daerah-daerah. Kami mengapresiasi Capres H. Prabowo Subianto yang memutuskan mengambil keputusan penting; langkah konstitusional dengan mengajukan gugatan di Mahkamah Konstitusi, memerintahkan masa aksi untuk pulang ke rumah masing-masing dan tidak meneruskan aksi.

Bagi para pihak yang bersengketa di MK RI, terutama peserta pemilu agar kawal secara serius kinerja para hakim Mahkamah supaya tetap bekerja independen, profesional, tranparan dan akuntabel. Jangan libatkan warga melalui aksi masa dalam sengketa perkara, karena apapun keputusan hakim Mahkamah bersifat final dan mengikat semua pihak. Bersungguh-sungguhlah dalam mengumpulkan bukti, dalil dan fakta hukum sebagai bahan persidangan, pembuktian maupun pembelaan; biarkan para hakim memutuskan berdasarkan hati nurani dan keadilan atas nama Tuhan Yang Maha Esa. Menang ojo umuk, kalah ojo ngamuk; terimalah dengan jiwa ksatria dan kenegarawanaan sebagai tanda kecintaan pada tanah air. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat dan berkahNYa bagi seluruh bangsa dan negara Indonesia sehingga dijauhkan dari fitnah, pertikaian dan perpecahan.

Gesikan, 29 Ramadhan 1440 H/3 Juni 2019
Hormat kami,
Beny Susanto
Pengasuh Ponpes Sunan Kalijaga dan Ketua Dewan Pembina Komunitas Bela Indonesia Yogyakarta