Tiga Pola Pertarungan Ideologi menurut Gus Dur

Posted on

 YOGYAKARTA, BANGKITMEDIA.COM

“Salah satu yang dipikirkan oleh Gus Dur adalah pertarungan ideologi yang selalu terjadi di berbagai negara terutama negara-negara yang mayoritas umat beragama. Banyak negara yang mayoritas umat beragama tetapi tidak menjadikan agama sebagai ideologi sebuah negara. Contohnya Mesir, meskipun mayoritas agama Islam tetapi ideologi negaranya bukan Islam. Begitupun Indonesia, meskipun Islam adalah agama mayoritas namun ideologinya bukan Islam tetapi Pancasila yang sudah disepakati oleh para pendiri bangsa ini.

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

Demikian ditegaskan KH.M. Imam Aziz, Ketua PBNU dalam acara Majlis Ahad Wage & Diskusi Sewindu Haul Gus Dur di Gedung PWNU DIY pada Ahad (14/01/2018).

“Ada juga kelompok Islam yang tidak  puas-puas untuk melihat negara ini supaya berdasarkan syariat Islam. Melihat seperti itu, ada tiga pola pertarungan ideologi yang dicermati oleh Gus Dur. Pertama, pola pertarungan ideologi dimana kelompok ideologis itu menang. Contohnya di Iran, kelompok islam ideologis ini menang dalam kaitan pergulatan ideologis sehingga yang sekuler digulirkan. Namun ini hanya sedikit,” tegas Kyai Imam yang juga murid Kiai Sahal Mahfudh Pati.

“Kedua, pola pertarungan ideologi yang dikendalikan oleh negara. Negara di sini ya ada militer, kelompok nasionalis dan banyak yang lainnya. Pengendalian ini bisa melalui undang -undang, misalnya HTI yang kemarin dibubarkan itu dikendalikan melalui Perpu Ormas,” lanjutnya.

“Ketiga,pola pertarungan ideologi dimana kelompok yang itu diakomodasi. Kelompok ini misalnya kelompok oposisi yang diakomodasi oleh kelompok ideologis. Kelompok ini menurut Gus Dur yaitu masyarakat yang lebih diutamakan,” tegasnya.

Baca Juga >  Kisah Hidupku Bersama Mbah Yai Maimoen

“Haul ini penting dalam rangka untuk merefleksikan  kembali beberapa pemikiran yang pernah dipikirkan oleh Gus Dur maupun yang pernah dilakukan oleh Gus Dur sendiri. Baik itu selama beliau menjabat sebagai Ketua Umum PBNU, Kiai, Ulama, bahkan sebagai penulis, maupun ketika menjabat sebagai Presiden. Semua pernah dilakukan oleh Gus Dur sehingga lengkaplah beliau ini dan pengalaman Gus Dur ini cukup untuk dijadikan refleksi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ini,” tambah Kyai Imam yang pernah menjadi Panitia Muktamar ke-33 NU di Jombang, 2015.

Kyai Imam Aziz juga berpesan khususnya kepada NU sebagai jam’iyyah supaya mempunyai mekanisme yang kuat untuk berupaya agar bisa memperjuangkan kelompok minoritas seperti yang pernah dilakukan oleh Gus Dur kala itu. Selain itu NU juga tidak hanya mengurusi internal NU saja tetapi juga harus bisa mengurusi urusan kemasyarakatan.

Selain KH Imam Aziz, ada juga Alissa Wahid (Putri Gus Dur) sebagai pemateri. Hadir dalam acara ini jamaah Ahad Wage PWNU DIY, Kelompok lintas iman, santri Gus Dur yang tergabung dalam jaringan Gusdurian, dan para Kiai di lingkungan NU. Seperti biasa, acara ditutup dengan dahar kembul sambal terong yang diikuti oleh seluruh peserta diskusi tidak ketinggalan juga pemateri. (Icin)