Syekh Abdul Qadir al Jailani

Rahasia Penciptaan Menurut Syekh Abdul Qadir Al-Jailani

Posted on

Oleh Edi AH Iyubenu, Wakil Ketua LTN PWNU DIY

Tiada lain dari segala ciptaan yang diciptakan Allah Swt, mulai alam raya seisinya, hingga kaum malaikat, jin, dan manusia, kecuali untuk menyembahNya Swt.

Berdasar tujuan pokok penciptaan tersebut, kiranya menjadi ganjil sekali bila ada makhlukNya yang menjalani hidup yang nyata dikaruniakanNya dengan tidak menyembahNya –membangkangNya, meninggalkan perintah-perintahNya, dan gemar menjalankan larangan-laranganNya.

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

Untuk bisa mantap dan khusyuk dalam menyembah, kita memerlukan “pengenalan” terhadap Dzat yang disembah. Itu artinya kita mestilah mengenal Allah Swt dengan baik. Semakin baik, dekat, dalam, dan intim, niscaya kualitas penyembahan kita akan semakin kafah.

Lalu, bagaimana cara mengenal, apalagi menyaksikan, Dzat Allah Swt?

Untuk bisa menyaksikan Dzat Allah Swt, jelas itu hal yang mustahil. Kewadagan kita tidak memungkinkan kita meraihnya. 

Namun, itu tidak berarti kita tak bisa mengenalNya. Juga merasakan hadirNya, serta segala sifat keagunganNya. Inilah derajat rohani yang seyogianya kita perjuangkan dan mohonkan padaNya.

Syekh Abdul Qadir al-Jailani qaddasahuLlah dalam kitab Sirrul Asrar Fima Yahtaj ilaihi al-Abrar menuturkan bahwa Allah Swt begitu Rahimnya kepada kita yang wadag ini hingga berkenan “mengenalkan Diri” melalui “perbendaharaan yang tersembunyi”.

Yang beliau qaddasahuLlah maksudkan dengan “perbendaharaan yang tersembunyi” adalah “Hakikat Dzat Allah Swt yang menciptakan makhluk-makhlukNya” dalam pelbagai bentuknya. 

Jadi, jelasnya, ketika Allah Swt menciptakan segala sesuatu, dari yang kita ketahui dan lihat hingga yang tak diketahui dan tak pernah kita lihat, semuanya menisbatkan “Hakikat DzatNya” yang “tersembunyi” di balik segenap makhluk tersebut. Melalui makhluk-makhluk ciptaanNya, kita bisa mengetahui, mengenali, dan merasakan Wujud KemahakuasaanNya Swt.

Termasuk, tentu saja, pada penciptaan diri kita sendiri.

Beliau qaddsahuLlah mengatakan, “Allah Swt dapat dikenali di alam nyata, tempat kita tinggal, melalui sifat-sifatNya yang tampak oleh pandangan mata (lahir dan batin) makhlukNya (kita). Semua yang ada di dunia ini dan terlihat oleh mata kita (secara hakikat) mencerminkan rahasia-rahasia Wujud Tuhan yang mesti kita kenali.”

Umpama pada suatu malam Anda berada di puncak sebuah gunung yang gulita, sunyi, dan dingin menggigilkan, lalu pandangan mata Anda tertuju ke langit yang cemerlang, di sana ada bintang-bintang yang berkerjapan, bulan yang merekah jelita, dan awan-awan yang nampak bertebaran indah di sekitarnya, lalu Anda terpukau takjub pada keluasan, keindahan, dan kesempurnaan langit malam yang tak tepermanai, itulah “momen rohani” Allah Swt menampakkan Cahaya AgungNya, menelusupi hati Anda, menjadi pengenalan dan pengakuan kepadaNya.

Umpama lalu Anda teringat pada awal-awal surat al-Hadid yang bertutur tentang betapa seluruh ciptaanNya di langit dan bumi selalu bertasbih kepadaNya, lalu Anda pun seturut bergumam “Rabbana ma khalaqta hadza bathilan, Ya Tuhan kami tiada satu ciptaanMu pun yang sia-sia”, maka kekhusyukan rohani niscaya semakin jumbuh kepadaNya, dan itulah deklarasi iman di jiwa kita . 

Begitulah tamsil Dzat Allah Swt yang menampakkan diri kepada kita yang wadag ini melalui sifat-sifatNya yang “disematkan secara tersembunyi” di balik perbendaharaan semua ciptaanNya.

Bila kejadian tersebut menghantar kita semakin beriman padaNya, semakin taat kepada perintah-perintahNya dan semakin jauh dari larangan-laranganNya, itulah cermin bagi “keberhasilan” kita mengenaliNya, mengetahuiNya, kemudian menyembahNya.

Hal-hal sejenis bisa saja terjadi dalam pelbagai hal, bentuk, dan keadaan. Tanpa batas sama sekali.

Maka dikatakan bahwa pada hakikatnya semua hal dan keterjadian yang dihadirkanNya ke dalam kehidupan kita, manis hingga pahit, tiada lain pada hakikatnya adalah sinyal-sinyal tajalli sifat-sifatNya dan af’al-Nya yang bila bersambut dengan “momen rohani” akan makin menghantarkan kita untuk tunduk menyembahNya.

Andaikan Anda menyaksikan suatu peristiwa kemaksiatan, bahkan, dengan cara pandang rohaniah begitu, dapat dimungkinkan bagi Anda untuk mampu menyerap sifat-sifat kemahakuasaanNya yang telah menterjadikan kemaksiatan itu hingga membuhulkan tekad rohani yang gempal di hati Anda untuk tak seturut terjatuh ke dalamnya.

Kita diajarkan oleh banyak ayat al-Qur’an, hadis-hadis Rasul Saw, hingga nasihat-nasihat para ulama dan guru, bahwa bertafakkur merupakan salah satu jalan bagi usaha merasakan kehadiran Allah Swt.

Tafakkur ini tentu pula termasuk kepada eksistensi diri sendiri beserta seluruh aspek kehidupannya. 

Mengapa seorang bayi saat pertama kali dilahirkan mesti menangis?

Mengapa bayi secara alamiah lalu bersegera mencari air susu ibunya?

Mengapa bayi mesti menjalani proses waktu yang agak panjang untuk bisa berdiri, berjalan, dan berbicara, tidak sebagaimana anak sapi yang hanya perlu sekian menit untuk mencapai tindakan yang sama?

Mengapa anak usia dua atau tiga tahun telah memiliki ego?

Mengapa bila telah berusia di atas dua puluh tahun, secara alamiah dorongan untuk menikah, berumah tangga, dan beranak-pinak tumbuh kuat di dalam hati?

Mengapa lalu ada kerinduan kepada penyembahan kepada Dzat Yang Maha Segalanya?

Mengapa kadang kita kalah oleh deraan malas padahal kita tahu azabNya sangat pedih di akhirat kelak?

Mengapa bisa pula kita tak merasakan kehadiranNya justru di saat kita sedang bertakbir, menyeru namaNya dalam salat, pula sujud?

Mengapa ada orang yang merasa tak pernah cukup kepada limpahan hartanya yang luar biasa?

Mengapa kita lalu merasa sangat penting untuk mengarungi hidup dengan spirit sabar dan syukur?

Mengapa kalimat tauhid la ilaha iallaLlah menjadi sangat luar biasa nilainya bagi hati yang benar-benar bermanunggal kepadaNya?

Dan sebagainya. Dan seterusnya.

Semua tanya itu bila diselami akan menghantarkan kita kepada samudra tafakkur yang tiada habisnya, begitu dalam, luas, hingga akhirnya melabuhkan kita pada ketulusan dzikir kepadaNya.

Inilah kiranya di antara isyarat yang dimaksudkan sebuah hadis Qudsi yang dinukil beliau qaddasahuLlah, bahwa Allah St berfirman, “Manusia adalah rahasiaKu dan Aku adalah rahasianya.”

Beliau qaddasahuLlah menyitir ungkapan sebagian sufi yang mengatakan “Aku mengenali Allah Swt dengan Allah Swt”. Maksudnya  adalah “cara pengenalan yang berlaku dalam CahayaNya dan dengan CahayaNya; sebab hakikat penciptaan manusia berasal dari rahasia Cahaya itu.” 

Ungkapan “hakikat penciptaan manusia berasal dari rahasia Cahaya itu” itu memang benar, sesuai dengan surat Shad ayat 72: “Dan jika telah Kusempurnakan ciptaanKu dan Kutipukan sebagian RuhKu padanya, maka hendaklan kalian semua menyungkurkan diri bersujud padanya (Adam As).” 

Ini mengisyaratkan pemahaman bahwa jalan mengenaliNya terbentang langsung sejak dari diri sendiri yang paling dekat kepada diri kita. Mengenal diri karenanya logis dikatakan sebagai mengenali Tuhan. Mengenal diri sederajat dengan mengenal rahasia penciptaanNya. Man ‘arafa nasfahu faqad ‘arafa rabbahu, siapa yang telah mengenal dirinya maka ia telah mengenal Tuhannya. 

Pertanyaannya kini apakah kita sudah benar-benar berhasil mengenal diri ini?

Sementara itu, untuk memandang langsung Dzat Allah Swt, hanya bisa digapai di akhirat kelak, sesuai kadar yang dikehendakiNya.

Beliau qaddasahuLlah menukil surat al-Qiyamah untuk menunjukkan hal tersebut, “Wajah-wajah pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhanya lah mereka melihat.” 

Di ayat lain, al-Kahfi 110, juga dikatakan, “Maka siapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Tuhannya, hendaklah ia melaksanakan amal-amal kebaikan dan janganlah menyekutukan Tuhannya dalam menyembah (beribadah) kepadaNya dengan sesuatu pun.

Wallahu a’lam bish shawab.

Jogja, 15 September 2019