Oleh: Syaifan Nur, dosen Fakultas Ushuluddin, Studi Agama dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga dan Ali Usman alumnus Magister Agama dan Filsafat UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Abu Bakar M. Kalabadzi dalam al-Ta’aruf li Madzhab Ahl Tashawuf (1995: 175) menjelaskan, bahwa fana ialah hilangnya semua keinginan bahwa hawa nafsu seseorang, tidak ada pamrih (kepentingan) dari segala perbuatan manusia, sehingga ia kehilangan segala perasaanya dan dapat membedakan sesuatu secara sadar, dan ia telah menghilangkan semua kepentingannya dalam berbuat sesuatu. Sedangkan baqa, ialah hilangnya segala sesuatu yang ada pada dirinya dan menetapkan (mengekalkan) bagi Allah.
Dalam Serat Siti Jenar terbitan Tan Khoen Swie, Kediri pada 1922, dikemukakan pandangan makrifat Sunan Kalijaga sebagai berikut (Chodjim, 2004: 220).
Jeng Sunan Kalijaga ngling/ amedhar ing pangawikan/ dèn waspada ing mangkéné/ sampun nganggo kumalamat/ dèn awas ing pangèran/ kadya paran awasipun/ pangèran pan ora rupa
Nora arah nora warni/ tan ana ing wujudira/ tanpa mangsa tanpa enggon/ sajatiné nora nona/ lamon ora anaa/ dadi jagadipun suwung/ nora nana wujudira
Terjemahan:
Sunan Kalijaga berkata/ memaparkan pengetahuannya/ hendaknya waspada pada yang berikut ini/ jangan ragu-ragu/ lihatlah Tuhan secara jelas/ tapi, bagaimana melihat-Nya/ karena tuhan itu tidak memiliki rupa
Tuhan tidak berarah dan tidak berwarna/ tidak ada wujudnya/ tidak terikat oleh waktu dan tempat/ sebenarnya ada-Nya itu tiada/ seandainya Dia tidak ada/ maka alam raya ini/ kosong dan tak ada wujudnya
Dari bait di atas, tampak jelas kalau Sunan Kalijaga mengalami kondisi fana. Fana bukanlah kesadaran tentang tiada. Fana bukanlah perasaan bahwa kita telah sampai di keadaan fana. Fana bukanlah terciptanya konsentrasi. Fana bukanlah perasaan bahwa kita merasa hilang. Fana bukanlah kita merasa tidak melihat apa-apa.
Pada saat fana dalam berzikir, bisa terjadi apa yang dinamakan “majdzub”. Pada saat majdzub, hilang kesadaran manusiawinya. Keadaan fana ini bukan hanya terjadi pada saat duduk berzikir. Fana bisa terjadi ketika sedang berjalan, atau beraktivitas. Dengan tidak disadarinya, muncul ucapan “subhani”, Mahasuci Aku. Ana al-Haqq, Saya adalah Yang Mahabenar, dan berbagai ucapan lainnya, yang sepatutnya itu ucapan Tuhan. Itu, memang ucapan Tuhan. Orang yang majdzub itu hanyalah alat bagi Tuhan yang hendak memuji dirinya (Chodjim, 2004: 222-223).
Fana adalah gerbang menuju baqa yang menjadi tujuan dalam Islam (Rabbani, 2004: 206). Nabi pernah bersabda: ”kuntu lahu sam’an wa basharan” (Aku menjadi pendengaran dan penglihatan baginya). Orang yang tidak mengerti makrifat biasanya menolak kejadian majdzub. Mereka tidak tahu bahwa Nabi pun sering mengalami majdzub di depan istri beliau. Misalnya, di hadapan Aisyah, Nabi pernah bersabda: “Ana ahmad bi la mim”, saya Ahmad tanpa (huruf) mim. Jadi artinya berarti Ahad.
Sunan Kalijaga Sebagai Tokoh Sufi
Membaca keseluruhan tentang sosok Kanjeng Sultan secara personal, terasa sangat unik dan mengagumkan. Dalam “cerita-cerita jenaka”, misalnya dikisahkan, Syaikh Siti Jenar—wali yang paling terkenal setelah Sunan Kalijaga—demikian keramat dan sakti, sehingga delapan wali yang lain kecuali Sunan Kalijaga dapat diatasai dan dikalahkannya. Disebutkan bahwa Syaikh Siti Jenar itu bisa masuk bumi waktu dikejar-kejar oleh Sunan Kalijaga untuk menangkapnya. Di bawah tanah yang gelap gulita serta sempit-sesak itu lantaran keramatnya Syaikh Siti Jenar menciptakannya menjadi terang benderang dan luas-lapang seluas alam semesta lengkap dengan langitnya yang cerah. Untuk menandingi ini, maka Sunan Kalijaga menciptakan mendung, hujan dan topan badai yang amat dahsyat, sehingga alam di bawah bumi laksana bongkah, kembali gelap gulita dan sesak sempit seperti sediakala, bahkan lebih sempit dari yang semestinya. Itu terjadi lantaran kesaktian Sunan Kalijaga (Saksono, 1996: 46).
Meski Syaikh Siti Jenar dan Sultan Kalijaga sama-sama mengajarkan makrifat, namun caranya berbeda. Menurut Achmad Chodjim (2004: 14), Syaikh Siti Jenar lebih menitikberatkan pada olah batin untuk pencapaian “Diri Sejati”, sedangkan Sunan Kalijaga lebih memfokukan pengalaman praktis kehidupan sehari-hari orang Jawa dalam memahami sangkan paran (asal dan kembalinya manusia). Tetapi baik Syaikh Siti Jenar maupun Sunan Kalijaga, keduanya sama-sama mengajarkan paham manunggaling kawula gusti.
Sunan Kalijaga tampak memodifikasi ajaran dan amalan-amalan tasawufnya dengan budaya lokal, yang dalam hal ini adalah budaya Jawa. Hal ini bisa dilihat, misalnya, ungkapan syatahat-nya tidak lagi menggunakan istilah aslinya (bahasa Arab) seperti yang dicontohkan oleh al-Hallaj, “ana al-Haqq”, tetapi ia telah menggantinya dengan bahasa Jawa yang khas, manunggaling kawula gusti.








