النساء عماد البلاد اذا صلحت صلح البلاد واذا فسدت فسد البلاد
Perempuan tiang Negara. Jika berkualitas perempuan, jayalah bangsa. Jika amburadul perempuan, hancurlah bangsa.
Sejak Nabi Muhammad diutus sebagai Rasul terakhir, perjuangan menegakkan martabat perempuan terus digelorakan tanpa henti.
Haram membunuh anak perempuan, wajibnya perempuan menuntut ilmu, Tidak boleh mengasingkan perempuan saat haidl, wajibnya mahar saat akad nikah, wajibnya ijin wali saat menikah, mendapatkan warisan, Dan kewajiban menggauli istri dengan baik adalah kewajiban doktrin Islam untuk mengangkat derajat perempuan.
Peran Publik
Jika dulu perempuan identik dengan peran domestik, maka sejak Nabi perempuan diberi peran Publik sesuai dengan kompetensinya. Mereka aktif dalam forum pengajian Nabi, bertanya masalah-masalah hukum Dan sosial kepada Nabi.
Dalam medan perang sekalipun, mereka aktif membantu para mujahid Islam dalam penyediaan logistik, medis, dan lain-lain. Asma’ binti Abu Bakar adalah Salah satu perempuan yang aktif dalam peran ini.
Dalam konteks keilmuan, Aisyah binti Abu Bakar, tampil sebagai perempuan yang banyak meriwayatkan hadis Nabi, mengajarkan ilmu kepada para sahabat, laki Dan perempuan, Dan aktif dalam peran sosial politik.
NU Dan Pesantren Putri
NU sebagai Organisasi para Ulama memperhatikan betul aspek pemberdayaan perempuan. Berdirinya Muslimat NU adalah bukti konkret keberpihakan NU kepada emansipasi kaum perempuan.
Salah satu tokoh utama NU, KH Bisyri Syansuri, merintis Pesantren Putri di Denanyar Jombang untuk memperjuangkan hak pendidikan perempuan. Pesantren ini dikenal Pesantren Putri pertama di Indonesia yang mengajarkan pengetahuan yang dibutuhkan perempuan dalam kehidupan dunia Dan akhirat.
Putri KH Bisri Syansuri, Hj Sholihah, istri KH Abdul Wahid Hasyim Dan Ibunda KH Abdurrahman Wahid, tampil sebagai tokoh perempuan NU yang aktif sebagai pejuang emansipasi perempuan dengan kemampuannya memimpin Muslimat NU Dan segudang Organisasi yang lain.
Cucu KH Bisri Syansuri, Hj Nafisah Sahal Mahfudh, aktif di Muslimat Dan pernah menjadi anggota DPD RI.
Hj Khofifah Indar Parawansa, Ketum Muslimat sekarang, tampil sebagai Gubernur Jatim terpilih.
Semua ini menunjukkan Muslimat NU tampil sebagai Organisasi yang aktif memberdayakan perempuan Dan berpartisipasi dalam pembangunan bangsa.
Sekali lagi, Selamat Harlah Muslimat NU ke-73, semoga Makin berkah dan membawa kemaslahatan bangsa, Amin.
(Jalam Ma’mur Asmani, Pati)








