Sejarah Tembok Yakjuj Makjuj, Catatan Ekspedisi Syaikh Sallam Tarjuman.
Ketika Khalifah Harun II al-Watsiq Billah bin Muhammad Mu’tasim Billah bin Harun ar-Rasyid (W.232 H.) bermimpi tembok yang menghalangi Yakjuj Makjuj jebol. Ia menghadirkan punggawanya, yakni Syaikh Sallam Tarjuman untuk menyelidikinya. Dan berangkatlah Syaikh Sallam Tarjuman bersama 50 orang prajurit pilihan.
Ini adalah catatan ekspedisi Syaikh Sallam Tarjuman yang dilaporkan pada Khalifah Harun II al-Watsiq, lalu di abadikan oleh Syaikh al-Idrisiy dalam kitab Nazhatul Musytaq Ilahtiraaqil-Afaq, dan di tulis ulang oleh Syaikh Sihabuddin an-Nuwairy dalam Nihayatul Arabnya:
“Dari Samarran, berbekal surat Khalifah Watsiq, kami menjumpai pejabat Armenia, Ishaq bin Ismail agar memandu kami dari daerahnya. Lalu dia menuliskan surat rekomendasi ke pejabat daerah Sarir. Ketika sampai disana. Pejabat Sarir mengarahkan kami ke pejabat daerah Allan. Waktu kami sampai di Allan. Pejabatnya mengarahkan kami menuju penguasa Failan Syah. Dan darinya kami mengarah ke penguasa Khazrun. Kemudian ia memberikan kami tambahan 50 orang untuk menjadi penunjuk jalan.
Dari Khazrun, kami (101 orang) selama dua puluh tujuh hari melewati pesisir negara Basjarat hingga sampai pada daerah yang gelap gulita dengan bau menyengat tidak sedap. Itu, kami tempuh sepuluh hari dengan memakai peralatan yang bisa menghilangkan bau tidak sedap. Setelah keluar daerah tersebut. Kami melanjutkan perjalanan selama satu bulan, lalu menemukan reruntuhan dengan semua bangunan lebur. Disana tidak ada apa-apa. Yang tersisa hanya bekas tanda pernah ada pemukiman disitu. Kami bertanya pada para penunjuk jalan, dan kata mereka: ‘Itu adalah bekas kota-kota yang berperang dan dihancurkan oleh Yakjuj Makjuj’.
Kemudian, selama enam hari, Kami melanjutkan ekpedisi dan menemukan semacam benteng dekat dengan gunung yang berada di celah yang tertutup.
Di benteng itu, kami menemukan masyarakat yang bisa berbahasa arab dan persia, dan ada kota yang dipimpin raja bernama Khaqan bin Adkasy. Mereka muslim dengan beberapa masjid dan perpustakaan.
Mereka bertanya pada kami: ‘Darimana anda sekalian?’. Dan kami katakan: ‘Bahwa kami adalah utusan Amirul Mukminin Watsiq Billah’. Mereka takjub dengan sebutan Amirul Mukminin; pemimpin para mukmin, lalu bertanya tentangnya, ‘Dia sudah tua atau muda?’. Kami jawab: ‘Muda’. Bertambahlah ketakjubannya. Kemudian mereka bertanya lagi, ‘Kediaman dia dimana?’. Kami jawab: ‘Di Iraq, kota yang membahagiakan pengunjungnya’. Mereka semakin terkagum-kagum dan berkata: ‘Kami belum pernah mengetahui hal ini sama sekali’.
Lalu, ganti kami yang bertanya bagaimana islam mereka; darimana datang dan siapa yang mengajarkannya. Mereka menjawab: ‘Bertahun-tahun lalu, ada lelaki menunggang hewan yang panjang leher dan kaki-kakinya, serta dipunggung ada punuk (Tahulah kami yang dimaksud mereka adalah onta). Lalu dia menempat disini, satu dua kata berinteraksi dengan kami, hingga kami faham apa yang dikatakannya. Setelah itu, dia mengajarkan kami syariat-syariat Islam dan kami menerimanya. Mengajarkan juga al-Qur’an dan maknanya, hingga kami mampu belajar dan menghafalnya.
Setelah itu. Kami keluar ke arah celah tertutup untuk melihatnya.
Dari kota, kami berjalan dua farsakh (1 farsakh menurut ulama jumhur dalam kitab Fathul Qaadir: 7499,9925 M. x 2 = 14999,9985 M.) hingga sampai ke celah tertutup.
Disana kami menemukan gunung yang terputus jurang dengan lebar 150 dzira’ (1 dzira’ menurut aktsarunnaas; kebanyakan manusia 54 Cm. Jadi 54 x 150 = 8100 Cm.).
Di pelatarannya, kami menemukan pintu besi dengan panjang 50 dzira’ yang dikelilingi dua gawang pintu tempat engsel.
Setiap gawang setebal 25 dzira’. Dari arah bawah, terlihat gawang itu menonjol selebar 10 dzira’. Semuanya terbuat dari besi yang di lapisi tembaga. Tinggi gawang 50 dzira’.
Diatas kedua gawang, yakni gawang atas, ada semacam tembok yang bersambung dengan pintu sepanjang 120 dzira’ dengan lebar 10 dzira’. Diatasnya, sampai puncak gunung, tertata rapi batu bata dari besi yang berlapis tembaga, tingginya sejauh mata memandang.
Dan diatas pintu, ada semacam penghias dengan dua tanduk yang saling menyambung.
Pintu itu berdaun dua dan terkunci. Lebar setiap daun pintu, 50 dzira’ dibagi dua (25 dzira’), dengan dua tiang pengapit setinggi semacam tembok yang ada dikanan kirinya.
Gemboknya sepanjang 7 dzira’ berbentuk tebal bulat, jaraknya dari bumi 25 dzira’. Diatas gembok, jarak 5 dzira’, ada pengapit yang panjangnya melebihi gembok.
Ditengah gembok ada lobang kunci yang panjangnya 1 ½ dzira’ dengan 12 gigi kunci. Setiap gigi kunci ada semacam pemukul kecil, yang masing-masing terhubung dengan rantai sebesar lobang alat pelempar batu.
Lebar gawang bawah, selain dua gawang samping kanan-kiri 10 dzira’ dengan panjang 100 dzira’, dan ada 5 dzira’ yang menonjol.
Semua itu, diukur dengan dzira’ Sawadiy (Salah satu daerah di Syam).
Setiap jum’at, bersama sepuluh penunggang kuda yang masing-masing membawa martil, pemimpin masyarakat daerah itu mengunjungi pintu besi. Selain itu, setiap hari, ada yang ditugaskan disana untuk memukul pintu besi tiga kali, agar makhluk di balik pintu mendengar, menandakan disitu ada penjaganya, serta agar mereka tahu Yakjuj Makjuj tidak melakukan hal-hal baru yang menghawatirkan.
Ketika pembawa martil memukulkan godam ke pintu, ia langsung menempelkan telinganya di daun pintu agar bisa mendengar apa yang ada di baliknya. Biasanya, dari balik pintu, ia akan mendengar suara dengungan lirih gema yang menunjukkan arah sana ada manusianya.
Di dekat tempat ini, ada semacam benteng yang memanjang 10 farsakh disambung 10 farsakh lagi, dengan batu-bata rata-rata sepanjang 1 ½ driza’ lebih sejengkal. Pintu yang menyambung dua benteng ini 200 dzira’. Dan diantara dua benteng ada mata air tawar segar. Disalah satu dua benteng tersebut ada bekas alat bangunan untuk membangun tembok; kendi-kendi besar dan gayung terbuat dari besi. Kendi-kendi itu diletakkan diatas tungku besar. Setiap tungku ada empat kendi seperti bejana-bejana penampung sabun. Serta, disana masih ada sisa-sisa cor-coran besi yang mulai korosi untuk membangun penghalang Yakjuj Makjuj itu.
Kami juga menanyai penduduk setempat, ‘Apakah pernah ada yang melihat Yakjuj Makjuj?’. Mereka ada yang memberi khabar, ‘Pernah satu kali terlihat beberapa diantara mereka di puncak tembok, lalu ada angin kencang menghempaskan. Ada tiga yang tewas terlempar ke arah kita. Ukuran kaki mereka dua jengkal setengah!’
Semua sifat ini hamba tulis sedetail mungkin.
Lalu, kami bersama penunjuk jalan pamit meninggalkan pemukiman. Kami mengambil jalan arah Khurasan, sampai ke kota Bakhtan, Ghurban, Barsakhan, Inthirar, hingga Samarkand. Kami bertemu dengan Abdullah bin Thahir, lalu sampai Ray. Kemudian kami kembali ke kota yang pengunjung bahagia melihatnya, Iraq. Total tempuh perjalanan kami, dua puluh delapan bulan.”
Wallahu A’lam bis-Shawaab.
Sumber: Nihayatul Arab Syaikh Shihabuddin an-Nuwairy Bab Dzikru Khabari Saddi Yakjuj Makjuj.
Nafa’anallAhu Bi ‘Ulumihim Wa Barkatihim. Amin.
Penulis: Gus Robert Azmi, Nganjuk.
*Demikian Sejarah Tembok Yakjuj Makjuj, Catatan Ekspedisi Syaikh Sallam Tarjuman, semoga manfaat.






