Save Our Children From Extremism!!!

ibu dan anak

Masih ingat kasus bom Surabaya? Ayah ibu bom bunuh diri dengan mengajak 4 anak mereka yang masih remaja dan anak-anak. Ngeri ya?

Banyak kabar juga waktu masih ramai ISIS, keluarga dari Indonesia yang mngajak anak-anak mereka ke Iraq dan Suriah. Seperti Hatif Syaiful Rasul, anak kecil 11 tahun yang tahun 2017 akhirnya tewas di Suriah.

Yes, ekstremisme juga menyasar anak-anak dan ini berbahaya sekali.

Anak-anak masih lugu dan polos. Masih inget di pesantren dulu “belajar di waktu kecil ibarat menulis di atas batu, belajar sudah dewasa ibarat menulis di atas air”. Jadi hal apapun, baik atau buruk, kalau diajarkan pada anak-anak akan sangat mudah, termasuk ekstremisme.

Anak-anak tidak bisa memilah ekstremisme baik atau buruk, bahaya dan membahayakan atau tidak. Masih inget anak pengebom surabaya diiming-iming orang tuanya “masuk surga bareng papa-mama” sehingga mau jadi pengebom bunuh diri. Atau anak-anak yang ikut orang tua mereka ke Iraq dan Suriah gabung ISIS tahunya mau jihad dan hidup secara lebih “Islami” dan kaffah.

Anak-anak itu tidak tahu apa-apa. Orang tua merekalah yang menjerumuskannya.

Iya menjerumuskan, karena anak-anak juga belum menjadi pribadi yang punya pilihan bebas dan mandiri atas hidup mereka. Tentu saja secara umum mereka belum bisa membantah dan menolak keinginan orang tua, orang dewasa dll. Mereka masih tergantung dengan orang tua di rumah atau para guru di sekolah.

Bagaimana mencegah dan mengatasinya? Ketahanan keluarga dan sekolah yang steril dari ekstremisme harus diupayakan sedini mungkin. Para orang tua harus mendapat pencerahan bahaya ekstrimisme. Sekolah juga harus zero tolerance terhadap apapun modus penyemaian benih ekstremisme. Pendidikan adalah penanaman pengetahuan dan nilai-nilai secara intensif. Kalau sampai diselipi ekstremisme, bisa mengakar dalam hati dan pikiran para peserta didik. Kalau terus dipupuk ini bisa bahaya sekali.

Selamatkan anak-anak kita dari bahaya ekstremisme. Children are our future.

Penulis: Dr Suratno, Dosen Universitas Paramadina Jakarta.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *