Prof Moh Ali Aziz

Renungan Minggu Ini: Kisah Seorang Pemuda Berpamit untuk Murtad

Posted on

Oleh: Prof. Moh. Ali Aziz, Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya.

Pagi itu (18 Agustus 2019), dua Ustazah dan Boy (nama samaran) bertamu di rumah saya. Anak muda (24 tahun) itu berpamit untuk murtad, berpindah agama ke Kristen.

Info Peluang Usaha Depot Air Minum Isi Ulang by INVIRO

Dua Ustazah yang mengajari si Boy sampai amat lancar mengaji Alquran itu membujuknya untuk berdiskusi dengan saya tentang keimanan sebelum benar-benar memutuskan untuk berpindah agama. “Saya amat senang dan berterima kasih, mas Boy masih bersedia silaturrahim ke rumah saya, dan terus berkomunikasi dengan ustazah,” kata saya sambil menyuguhkan segelas air putih kepadanya.

Semula, saya menduga pindah agama ini disebabkan kasus asmara dengan lain jenis, seperti yang sering saya jumpai selama ini. Ternyata bukan. “Mas Boy, sekali lagi saya sangat senang dengan kedatangan Ananda. Jika berkenan, saya mohon mas Boy bercerita selengkap-lengkapnya tentang rencana murtad Ananda,” kata saya kepada pemuda berpakaian necis itu. Saya melihat wajah dua ustazah yang duduk di sebelah mantan santrinya itu sedih dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

“Baiklah pak. Ceritanya amat panjang dan mungkin bapak sendiri lelah mendengarkannya,” jawabnya dengan ekspresi yang mantap. Ia kemudian melanjutkan, “Bapak saya super kejam. Sejak kecil yang saya rasakan adalah derita dan derita, pukul dan pukul. Demikian juga terhadap ibu saya. Kata-katanya yang keji membuat saya tak akan bisa melupakannya sampai nyawa terakhir. Jika bapak tidak percaya, silakan bertanya dua ustazah di samping saya ini.”  “Benar pak, dia sering berlari ke rumah saya ketika “neraka” di rumahnya telah menyala,” kata salah satu ustazah.

“Saya lanjutkan pak ya,” kata si Boy dengan suara yang tetap tegar.

“Ketika saya merindukan kasih dari orang tua dan lingkungan, saya justru bertemu dengan ustad yang kejam.”

“Kejam apa maksudnya?” sela saya.

“Ya pak, ustad itu selalu berbicara neraka yang menakutkan. Amat mengerikan. Telat shalat sekali saja, neraka hukumannya. Membantah orang tua, neraka. Pokoknya serba neraka. Aku butuh Tuhan yang Pengasih,” jelasnya.

“Pada saat itulah, saya bertemu dengan teman-teman Kristen yang sangat peduli dan amat mengasihi saya. Beberapa kali saya diajak ke gereja untuk santai-santai, dan di sanalah saya bertemu dengan pendeta yang selalu berbicara tentang kasih,” tambahnya.

“Oh, begitu ya,” jawab saya sambil mengangguk-angguk. Saya sengaja menjadi pendengar terbaik. Ia amat membutuhka orang yang mau mendengar.

“Dulu ibu saya juga peduli dengan saya, tapi akhir-akhir ini juga pasip saja, tidak melakukan pembelaan apa pun untuk saya,” katanya setelah diam agak lama.

“Lho dik, ibumu bukan pasip. Ia amat baik. Hanya saja ia telah ‘flat’ dalam istilah psikologi. Sebab, ia telah kehabisan air mata dan enerji menyikapi ayahmu. Jangan salah paham,’ tambah ustazah lainnya.

“Baik. Boleh saya lanjutkan pak?.” “Silakan, dan saya senang mendengarnya,” jawab saya singkat.

“Saya amat kecewa dengan orang-orang muslim yang saya lihat taat beragama, tapi melakukan tindakan yang menyakitkan orang. Saya sendiri termasuk korbannya. Nyawa saya hampir melayang dengan berbagai cara mereka termasuk santet. Nah, saat itulah, setiap malam saya diajak berdoa dengan teman-teman Kristen untuk menenangkan hati dan menyelamatkan nyawa saya. Jujur pak, saat itu, saya merasakan Tuhan benar-benar hadir menolong saya, dan saya terselamatkan sampai hari ini.”

Baca Juga >  Bagaimana Jejaring ‘Keluarga Teroris’ Bisa Terbentuk?

“Oh begitu,” kata saya sambil mengambilkan segelas lagi air putih, karena gelas pertama telah kosong. “Lanjutkan mas!” “Baik pak. Sejak kuliah, sebenarnya saya berontak dalam beragama. Hanya saja tetap saya sembunyikan. Sekalipun saya telah agnostik (tak mengakui Tuhan) saat itu, saya tetap ikut shalat ke masjid dan ikut mengaji di masjid bersama ustazah. Sampai puluhan tahun, saya belum pernah merasakan kehadiran Tuhan dalam shalat saya. Hanya gerak dan tanpa tanpa bekas apa pun dalam jiwa.”

“Apakah mas Boy belum pernah ikut training shalat saya,” tanya saya. “Ya, dik, itu training shalat untuk menghadirkan Tuhan seperti adik cari itu,” sergah ustazah sebelum saya menjelaskannya.

“Ya, ustazah, terima kasih. Terima kasih juga untuk pak Prof yang sudi menerima kehadiran saya. Saya sudah dibaptis tiga hari yang lalu, dan saya benar-benar telah menemukan kedamaian,” tambahnya mengakhiri ceritanya. Hati saya menjerit mendengarnya, tapi tetap saya sembunyikan. Dua ustazah di depan saya juga tertegun menunduk. “Kasihan ibundanya pak, yang amat terpukul dengan berita kemurtadan ini,” jelas ustazah dengan suara yang samar-samar saya dengar.

“Baiklah Mas Boy. Hidup masih koma, belum titik,” kata saya mengutip judul buku saya yang baru saja terbit.

“Dalam Alquran disebutkan adanya orang kafir yang beriman, lalu kafir lagi dan beriman lagi, lalu kafir lagi. Saya yakin, mas Boy juga masih koma, belum titik. Sekarang dalam proses pencarian jati diri. Saya yakin suatu saat kembali kepada agama semula. Tolong mas, jangan melihat agama pada orangnya, tapi pada ajarannya. Di semua agama, terjadi kesenjangan antara ajaran dan pengamalan penganutnya. Silakan terus berkomunikasi dengan ustazah dan saya. Jangan putus hubungan sekalipun mas Boy telah berbeda agama.

Mas Boy, jika tidak bisa membahagiakan orang tua, khususnya ibunda, tak apalah, tapi jangan menyakiti hatinya. Kasihanilah ibunda. Sayangilah dan dekaplah dia. Ciumlah keningnya, ubahlah tangisan ibunda dengan senyuman ceria.”  Itulah sentuhan psikologis saya untuknya, sebab ia murtad atas dorongan rasa atau hati, bukan logika.

“Terima kasih pak. Saya akan terus berkomunikasi dengan ustazah dan bapak,” katanya mengakhiri pembicaraan sebelum berpamit pulang.

Sampai selesainya tulisan ini, saya masih teringat wajah si Boy. Ucapannya juga menjadi pelajaran berharga bagi saya untuk ekstra hati-hati dalam memilih kata ketika berbicara di atas mimbar. Saya juga teringat hadis nabi, bahwa tindakan orang tua ikut menentukan jenis agama yang dianut sang anak. Selamat merenung.

Surabaya, 18 Agustus 2019.