Perlukah Kita Melabelkan Islam dalam Pendidikan?

Dalam lembaga pendidikan, di sana ada proses pembelajaran, mengajarkan kita mencintai suatu ilmu, mengetahui tentang apa-apa hingga kita dapat menjadi dewasa.

Tidak hanya itu, lembaga pendidikan juga mengajarkan bagaimana seseorang harus bertindak dan berperilaku sebagaimana mestinya sesuai dengan ajaran agama (Islam) serta memberikan kedamaian dan kebaikan. Iya, pendidikan memang  kunci untuk memajukan sebuah bangsa.

Untuk itu, sekarang ini banyak lembaga-lembaga pendidikan khususnya di jenjang sekolah tinggi, institut bahkan universitas yang berlomba-lomba memodifikasi program studi (prodi) atau jurusan yang mengkaitkan dengan Islam, di antaranya seperti Ekonomi Islam, Ekonomi Syariah, Perbankkan Islam, Pendidikan Psikologi Islam, Sains Islam, dan masih banyak lagi yang berkaitan dengan Islam.

Di samping itu, pendidikan harus tetap menguatkan misinya dalam  memberikan rasa kedamaian dan kebaikan. Di sini,  apakah identitas Islam di belakang prodi tersebut bisa berjalan sesuai dengan mestinya?

Atau tanpa ada identitas Islam di belakang prodi seseorang tersebut tidak dikatakan ber Islam? Kenapa identitas itu harus dibedakan? Lantas apa arti Islam yang state of mind itu sendiri?

Pada dasarnya, prodi pendidikan baik yang beridentitas (Islam) atau tidakmemiliki tirakat yang sama, yaitu mengajarkan ilmu yang sama dan yang pasti dari keduanya juga mengajarkan tentang kebaikan dan memberikan kedamaian yang sama pula.

Akan tetapi saya juga tidak tahu dengan mengkotak-kotakkan identitas Islam dan yang tidak Islam memiliki maksud dan tujuan seperti apa, tapi jika semisal tujuannya adalah untuk menciptakan kualitas akhlakul karimah yang lebih unggul antara yang beridentitas Islam dan yang tidak beridentitas Islam ini supaya nantinya dalam terjun langsung di masyarakat atau dalam dunia pekerjaan antara yang beridentitas Islam lebih diprioritaskan dari pada yang tidak beridentitas Islam ini.

Padahal, pada dasarnya kita tidak bisa mengukur seberapa besarnya kualitas ke-Islaman dari seseorang tersebut jika hanya dilihat dari lulusan prodi yang beridentitas Islam. Karena keimanan seseorang itu tidak dilihat dari identitas ke Islamannya.

Jadi, dari pemaparan tersebut walaupun sistemnya masih ada yang mengkotak-kotakkan antara yang beridentitas Islam dan yang tidak beridentitas Islam semoga tidak ada kesenjangan. Semua mengajarkan kebaikan dan memberikan rasa kedamaian terhadap para pelajar. Sebagai orang yang berpendidikan, kita tidak bisa langsung menjustifikasi bahwa yang beridentitas Islam adalah yang lebih baik dan lebih  berkualitas.

Sudah saya tekankan bahwa pada dasarnya tirakatnya sama, yaitu ingin memberikan pengajaran yang baik.

Penulis: Rif’atul Laely, mahasiswa Prodi PGMI STAI Sunan Pandanaran Yogyakarta.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *