Rejeki Kyai Ali Maksum Krapyak

Posted on

Disamping ada yang sepenuhnya jajan atau indekos, sebagian santri Pondok Krapyak biasa menanak sendiri nasinya kemudian membeli lauk dari warung di sekitar pondok. Siang itu, ketika membawa pulang sayur tempe dari warung untuk kelompok masaknya, seorang santri bersirobok dengan Mbah Ali Ma’shum.

“Apa itu, Cung?” Mbah Ali menyapa.

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

“Sayur tempe, Mbah”.

“Coba lihat!”

Mbah Ali melongok kedalam panci kecil itu dan melihat beberapa potong tempe di dalam kuah gulai. Mbah Ali pun mengulurkan tangan, memungut tempe sepotong dan melahapnya.

“Rejekine Gusti Allah…” kata beliau sambil berlalu.

Rupanya, itu cara Mbah Ali mengakrabi santri. Tak hanya sekali-dua beliau melakukannya, tapi berulang kali. Sengaja mencegat santri untuk mencicipi lauknya: sepotong tempe, tahu atau seiris sayuran diemplok dengan nikmatnya,

“Rejekine Gusti Allah…”

Pada hari raya kurban, setelah hingar-bingar penyembelihan usai, ada laporan bahwa sebuah kepala kambing hilang. Usut punya usut, ketahuan sekelompok santri memasak dan memakannya beramai-ramai.

Dihadapkan kepada Mbah Ali, santri membela diri,

“Kepala kambing itu tergeletak begitu saja nggak ada yang ngurus. Kata teman-teman, itu rejeki…”

Entah jengkel entah menahan geli, Mbah Ali menggerutu,

“Rejeki yo rejeki, tapi nek endhas wedhus iku kegedhen, Cung!” (Rejeki sih rejeki, tapi kalau kepala kambing itu terlalu besar, Nak!).

Penulis: KH Yahya Cholil Staquf, Katib Aam PBNU.