PP Ulul Albab Yogyakarta

PP Ulul Albab Yogyakarta, Mencetak Generasi Qur’ani Berwawasan Global

Posted on

Pondok Pesantren Ulul Albab adalah salah satu pondok yang terletak di Kota Yogyakarta. Alamat jelasnya yakni di Jl. Balirejo UH II/531 A, Mujamuju, Umbulharjo, Yogyakarta. Pondok Pesantren ini terkenal dengan pondok Mahasiswa. Hal ini karena santrinya yang mayoritas adalah mahasiswa.

Cikal bakal Pondok Pesantren Ulul Albab bermula pada keresahan pendirinya yakni KH. Ahmad Yubaidi, SH., SPd.CN., MH., dikarenakan tempat tinggalnya yang disewakan menjadi kos – kosan. Banyak hal yang tidak baik sejak tahun 1998 – 2013. Yakni sering ada tawuran, minum minuman keras, bahkan sampai laki-laki dan perempuan berhubungan di kamar kos. Karena beliau merasa tidak nyaman, alangkah lebih baik jika mendirikan pondok pesantren saja. Sejak itulah Pondok Pesantren Ulul Albab didirikan secara resmi pada tanggal 3 Maret 2013.

Sebuah lembaga pasti mempunyai visi dan misi. Begitu juga dengan pondok Ulul Albab. Visinya adalah mencetak generasi santri yang tafaqquh fiddin, berpengetahuan luas, cakap, berakhlaqul karimah serta berahlussunnah wal jama’ah. Sedangkan misinya yakni, 1) menyelenggarakan pendidikan Tahfidzul Qur’an dan program Kitab. 2) mengajarkan kitab-kitab Salaf serta pengetahuan umum secara seimbang, sehingga terbentuk santri yang mampu beradaptasi pada segala zaman. 3) membekali santri dengan wawasan keilmuan dan kemasyarakatan berbasis teknologi informasi. 4) menyelenggarakan pembinaan ruhani dan pembangunan karakter. 5) mewujudkan warga Negara yang berkepribadian Indonesia yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT.

Awal berdiri hanya mempunyai 6 santri, kemudian bertambah sampai sekarang santri mukim ada 184 yang terdiri dari 44 santri putra dan 140 santri putri. Yang diajarkan di Ponpes ini banyak, yakni mulai dari ilmu agama sampai umum. Secara garis besar dibagi menjadi 2 yaitu program Tahfidzul Qur’an (menghafal Al Qur’an) dan program kitab. Kedua program tersebut mendapat tambahan lainnya untuk menunjang ketrampilan santri. Adapun metode yang dilakukan untuk mewujudkan itu semua atau mendukung program pondok adalah dibagi perkelas untuk memudahkan dan efektif dalam belajar.

Untuk kegiatan rutin santri adalah mengaji seperti biasa di dua waktu yakni sehabis sholat subuh dan magrib. Serta untuk kegiatan yang bersifat umum yang melibatkan semua santri dan warga ada di hari selasa dan kamis yakni pembacaan sholawat Nabi.

Baca Juga >  Kiai Asyhari Marzuqi : Ngaji Nyambi Sekolah atau Sekolah Nyambi Ngaji?

Meski baru berjalan 6 tahun, Pon. Pes. Ulul Albab sudah pernah meraih prestasi melalui delegasi-delegasinya. Seperti juara 1 putri dan juara 2 putra baca Kitab di Kemenag pada tahun 2014, juara 3 Festifal Barzanji PBNU IX tingkat DIY, juara 2 Festival baca Kitab tingkat Nasional tahun 2017, juara 1 lomba baca Kitab di UGM tahun 2017, dan di tahun 2018 mendapat 3 juara dari 3 delegasi yang dikirimkan di Festival Barzanji PBNU X 2018.

Hambatan dan tantangan pasti ada dalam sebuah lembaga atau organisasi yang dirintis. Mulai dari sistem yang masih dinamis, sehingga beberapa santri ada yang menganggap itu tidak sama lagi dengan ponpesnya yang dulu dan kadang hal ini yang membuat alasan untuk pindah. Dari warga sekitar karena hidup berdekatan dengan kota, sehingga keterampilan rebana di ponpes sulit berkembang karena warga merasa terganggu dengan suara bising, oleh karena itu, ketika bersholawat santri tidak menggunakan alat rebana. Hal-hal inilah yang menyebabkan elemen-elemen Ponpes cepat maju dan berproses dalam melengkapi administrasi, sehingga akta notaris, NPWP, piagam Kemenag, dan lain-lain yang bersifat resmi bisa diwujudkan untuk dimiliki.

Yang membedakan Ponpes ini dengan Ponpes lainnya adalah dari sejarah pendirian Ponpes yang dulunya kos-kosan menjadi Pondok Pesantren. Sehingga pengalaman pendiri memang belum begitu banyak, jadi senantiasa mengalami perubahan ke arah yang baik yang didapatkan dari saran dan studi banding ke Ponpes lainnya. Sampai sekarang, sistem Pondok masih dinamis untuk menuju ke arah yang ideal dan pas untuk seluruh keluarga Ponpes.

Karena santrinya mayoritas adalah mahasiswa,jadi pembelajaran dan proses ngaji di pondok lebih ke arah diskusi bersama dan lebih bersinergi antara santri putra dan santri putri untuk membentuk nuansa kekeluargaan yang utuh. Serta hal- hal yang bersifat umum pondok memfasilitasi untuk kebutuhan santri agar semakin maju dan berpengalaman serta siap dalam menjalani kehidupan di masyarakat. (Naila/An)