Wisuda Perdana Ma’had Aly Krapyak, Punya Ciri Khas

Bangkitmedia.com, YOGYA – Wisuda perdana Ma’had Aly Krapyak Yogyakarta berlangsung sukses, Sabtu, 20 Desember 2025. Prosesi wisuda juga dengan ciri khas, yaitu pengalungan selempang sebuah surban putih sebagai simbol kader ulama serta keberlanjutan tanggung jawab keilmuan pesantren. Berbeda dengan wisuda perguruan tinggi pada umumnya yang ditandai pemindahan tali atau kucir toga.

“Saya mewakili bapak dosen dan bapak kiai, nanti wisudawan dan wisudawati akan diselempangkan atau dikasihkan sorban sebagai simbol sebagai kader kiai-nyai. Artinya, ciri khas keberlanjutan dari program pengkaderan yang berlangsung  secara organik, selama puluhan dan ratusan tahun yang ada di pesantren, tidak mengalami banyak penggerusan, tapi justru dikembangkan dan diinovasikan,” jelas Mudir Ma’had Aly Krapyak, KH Afif Muhammad dalam sambutannya.

KH Afif Muhammad menegaskan, yang dimaksud berlangsung di sini yaitu proses pembelajaran di Ma’had Aly seperti pembelajaran yang berlangsung di pondok setiap harinya. Dikukuhkan dengan kualitas ngaji yang lebih tinggi dan dikenalkan kepada para dosen atau pengampu yang merupakan profesor maupun doktor, serta mata kuliah atau mata pengajian yang di pendidikan pesantren, yang tidak didapatkan saat  di tingkat menengah.

“Dengan demikian, para lulusan Ma’had Aly ini telah mengalami proses pendidikan tinggi di pesantren. Output atau keluarannya pun sudah mendapatkan pengakuan dari negara dan pemerintah berupa ijazah dan sertifikat lulusan Ma’had Aly bisa digunakan untuk melanjutkan studi magister (S2) Ma’had Aly, magister di berbagai perguruan tinggi umum, dan harapannya dapat memiliki akses S2 di Timur Tengah, sehingga Ma’had Aly dapat semakin diakui sebagai produk nusantara untuk pendidikan kader kiai” tandas Beliau.

Acara ini diselenggarakan di Gedung Ma’had Aly Krapyak (Aula Komplek H) Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta. Terdapat 16 mahasantri yang diwisuda. Mereka berasal dari berbagai daerah yang dikukuhkan sebagai lulusan pertama sekaligus kader ulama yang siap berkhidmah di masyarakat.

Upacara wisuda dihadiri Pengasuh Pondok Pesantren Krapyak KH Jirjis Ali, Nyai Hj. Luthfiyah Baidlowi, Nyai Hj. Fauziah Salamah, Kasubdit Pendidikan Ma’had Aly Dr. H. Mahrus el-Mawa. Juga hadir  beberapa muhadir/ dosen Ma’had Aly Krapyak KH Zuhdi Muhdlor yang juga Ketua Tanfidziyah PWNU DIY, KH Jadul Maula (Ketua Lesbumi PBNU), Dr. KH Aguk Irawan MN, Dr. KH Zainuddin, Dr. KH Muntaha, KH Ahmad Fauzi, KH Yusman Hadzik, Ust. H. Hamid Hodir, MA.

Ma’had Aly merupakan Lembaga Pendidikan Tinggi di lingkungan Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta, dengan studi Takhassus Fiqh wa Ushuluh dengan konsentrasi Maqashid Syari’ah. Ijazah lulusannya setara dengan Pendidikan Tinggi lainnya di Indonesia.

Memperkuat pernyataan KH. Afif Muhammad soal pengakuan negara, Kepala Subdirektorat Ma’had Aly Kementerian Agama RI, KH. Mahrus el-Mawa, menegaskan akan berkomitmen dalam memberikan pengakuan penuh terhadap lulusan Ma’had Aly sebagai bagian dari sistem pendidikan tinggi nasional, berdasarkan UU Pesantren & PMA 32 tahun 2020.

Usai menyampaikan salam dari Direktur  Direktorat Pesantren, Dr. H. Basnang Said, Dr. Mahrus el-Mawa dalam sambutannya menyatakan kehadiran lulusan Ma’had Aly ini merupakan recognisi dari negara yang memperkuat legitimasi akademik lulusan pesantren. Dengan demikian, sarjana lulusan Ma’had Aly akan setara dan mendapat hak yang sama dengan perguruan tinggi lainnya.

“Hanya saja yang perlu semakin diperkuat adalah aspek Tri Darma Perguruan Tinggi Ma’had Aly, yakni: tarbiyah, khidmah dan bahts, terlebih setelah nanti ada DITJEN Pesantren, Ma’had Aly dituntut harus lebih solid dan profesional mengelola ketiga aspek tersebut dengan tetap memperhatikan ciri khas dan keunikan tradisi tafaqquh fiddin di masing-masing Ma’had Aly”, ungkap Dr. KH. Mahrus el-Mawa.

Dengan demikian, pengakuan negara terhadap lulusan Ma’had Aly Krapyak Yogyakarta maupun Ma’had Aly lainnya tidak hanya bersifat formal, melainkan juga dapat menguatkan posisi pesantren sebagai wadah kaderisasi ulama yang relevan dengan dinamika perkembangan zaman, tanpa harus menggerus akar tradisi keilmuan pesantren.  (Clara Satrianti Sukma)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *