Bangkitmedia.com, YOGYA – Berbakti kepada orangtua, bukan hanya kepada ibu bapak saja, tetapi juga kepada mertua dan para guru yang telah memberinya ilmu. Wujud berbakti dengan senantiasa berbuat baik dan meninggalkan kemaksiatan dan kejahatan. Berbakti kepada mereka baik saat masih hidup maupun sudah meninggal dunia.
“Meski orangtua kita sudah meninggal dunia, ketika anaknya berbuat baik, misal bersedekah, tidak diniatkan pahalanya untuk orangtua saja secara otomatis orangtua akan mendapatkan pahala. Sebaliknya kalau anaknya berbuat maksiat, maka orangtuanya di alam kubur atau alam barzah akan mendapat punjungan api,” kata KH Adib, dosen Universitas Sains dan Ilmu Al-Qur’an (Unsiq) Wonosobo saat memberi mau’idhoh hasanah pada pengajian rutinan malam Sabtu Legi Alumni Krapyak di Asrama Tamansantri Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta, Jumat (07/02/2025) malam.

KH Dr Hilmy Muhammad, selaku tuan rumah yang juga anggota DPD RI menjelaskan, rutinan ini diselenggarakan untuk terus menjalin silaturahmi para alumni Krapyak lintas generasi dan lintas kompleks. Agendannya membaca Al-Qur’an bersama-sama (Muqodaman), tahlil, pembacaan Asma’ul Husna yang diijazahkan alm KH Ali Maksum, dan mauidhoh hasanah. Selama ini alumni yang hadir kebanyakan alumni yang tinggal di sekitar Yogyakarta. Namun diharapkan alumni yang tinggal di daerah lain juga hadir.
Lebih jauh KH Adib yang mondok di Krapyak tahun 1968 sampai 1977 menjelaskan, tidak ada mantan orangtua atau mantan anak. Jadi hubungan antara orangtua dan anak selamanya. Juga dengan mertua, meski seandainya sudah cerai dengan anaknya, mereka masih termasuk orangtua. Buktinya ketika bersenggolan kulit berbeda jenis kelamin, tidak membatalkan wudhu. Begitu juga dengan para kiai atau guru yang telah memberikan ilmunya. “Dari Wonosobo sebelum sampai sini tadi saya menyempatkan ziarah ke makam Dongkelan. Ini sebagai wujud bakti saya kepada para guru. Di sana dalam satu kompleks ada makam Alm Mbah Moenawwir, Alm Mbah Ali, dan lain-lain,” jelasnya.

Mengenai perbedaan antara orangtua dan guru, Kyai Adib menjelaskan, kalau orangtua yang menurunkan kita dari langit ke dunia. Sebagaimana diketahui, manusia sebelumnya berupa ruh yang ada di langit, kemudian dimasukkan ke jabang bayi di kandungan ibu. Setelah sekitar sembilan bulan dilahirkan ke dunia. Sedang guru adalah yang mengantarkan seorang anak untuk mencapai langit lagi dengan pemberian berbagai ilmu sebagai bekal. Karena itu orang harus senantiasa berbakti kepada orangtua maupun guru harus.
“Orangtua juga pasti selalu memberi nasihat baik kepada anaknya, misalnya ketika anaknya akan merantau ke Jakarta berpesan jangan lupa selalu laksanakan salat. Meski orangtua tersebut seorang penjahat, tidak akan memberi nasihat kiat sukses dan profesional berbuat jahat. Untuk itu nasihat orangtua harus senantiasa dilaksanakan,” tambahnya. (Lutfi)








