Profil Syekh Zainuddin Al-Malibari India, Pengarang Kitab Fathul Muin

Profil Syekh Zainuddin Al-Malibari India, Pengarang Kitab Fathul Muin

Posted on

Profil Syekh Zainuddin Al-Malibari India, Pengarang Kitab Fathul Muin.

Saya rasa masyarakat Indonesia sudah tidak asing lagi dengan kitab Fathul Muin, Syarah Qurratul Ain karangan Imam Malibari, yang menjadi kurikulum kitab fikih menengah (mutawassith) di kalangan pondok pesantren di Indonesia, bahkan maksimum (muntahi). Hal pertama disebabkan karena kecocokan kultur masyarakat Indonesia dan Timur Asia pada umumnya lebih mengikut kepada Imam Ibnu Hajar al-Haitami al-Azhari dalam mazhab Syafii, sedangkan masyarakat Timur Tengah, kepada Imam ar-Ramli al-Azhari, begitulah kesimpulan yang saya dapatkan dari para masyayikh.

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

Semua tahu, bahwa Fathul Muin merupakan rangkuman semua yang dipelajari Imam Malibari dari lisan dan kitab gurunya, Ibnu Hajar. sehingga bahasanya lebih praktis, padat, ringkas, dan mudah untuk dipelajari santri Indonesia. Tapi yang disayangkan adalah kenyataan bahwa kitab yang tersebar di banyak maktabah di seluruh negeri Islam, salah dalam nisbat sang Imam, bahkan kitab dengan metode tahkik yang dirilis para muhakkik kontemporer.

Kita bisa melihat hal tersebut disampul kitab Fathul Muin cetakan apapun, bertuliskan Zainuddin bin Abdul Aziz, Zainuddin bin Abdul Aziz bin Zainuddin, Ahmad Zainuddin bin Abdul Aziz, ataupun seumpamanya. Ketika melihat isi dalamnya, jarang ditemukan muhakkik (para pentashih) yang benar-benar ihtimam dengan sang pengarang, contohnya bisa kita lihat ketika mereka menguraikan biografi pegarang kitab ini, sedikit sekali kita dapati biografi beliau yang sempurna, lebih banyak ketidaktahuannya dibandingkan tahu, bahkan ada yang bilang kira-kira begini: “tidak satupun saya temukan di kitab-kitab tarikh biografi tentang beliau kecuali isyarat yang didapatkan dalam kitab ini (fathul muin).” Tapi alhmadulillah sudah ada beberapa pentahkik yang mulai ‘ngeh’.

KELUARGA

Beliau berasal dari keluarga ‘al-Makhdum’, yang diketuai oleh syekh al-Qadhi Zainuddin Ibrahin bin Ahmad (saudara buyutnya), dan mempunyai saudara bernama Ali (buyut). Lalu Ali dikarunia anak yang diberi nama Zainuddin (kakek). Perlu diketahui bahwa Zainuddin (kakek) adalah wafidin pertama dari Malibar yang belajar di al-Azhar, Kairo, Mesir.

Beliau (kakek) belajar dengan syekh Abdullah al-Makudi al-Azhari, Syamsuddin as-Sakhawi al-Azhari, Jalaluddin as-Suyuthi al-Azhari, dan lainya. Sepulangnya dari sana, sang kakek meniru metode pembelajarannya di al-Azhar dengan membangun masjid jami’ di Ponnani, Kerala, India untuk dijadikan tempat belajar.

Zainuddin, dianugrahi 5 orang anak; 3 laki-laki dan 2 perempuan. Adapun yang 3 laki-laki bernama Yahya, anak paling tua, tetapi meninggal ketika masih kecil. Kedua Muhammad al-Ghazali, bapak muallif, dan yang paling kecil dari anak laki-laki, Abdul Aziz, pamannya yang banyak disalahsangka kalau beliau adalah bapak muallif.

Setelah pemaparan diatas kita bisa tahu, bahwa Zainuddin (kakek) mempunyai anak bernama Muhammad Ghazali, dinamakan demikian karena tayammunan (mengharap baik) dengan Hujjatul Islam, Imam al-Ghazali. Cerita yang sama juga saya dapatkan dari para masyayikh Azhar kenapa syekh Muhammad al-Ghazali as-Saqa al-Azhari juga dinamakan demikian.

Bapaknya, Muhammad al-Ghazali seorang yang alim dan termasuk pembesar ulama di Malibar pada masanya, menjabat sebagai Mufti dan Qadhi di sana. Beliaulah yang membangun masjid Jami’ di Chombal, Kerala, India.

Di sana (Chombal), beliau beristri dengan wanita yang baik agama dan budi pekertinya, dari keluarga Waliyakat karakutti, keluarga yang masyhur akan taat dalam beragama. Dari ibu bapak yang sholih inilah lahir shohib fathul muin, Ahmad Zainuddin bin Muhammad al-Ghazali bin Zainuddin bin Ali bin Ahmad al-Makhdumi al-Ma’bari al-Malibari al-Asy’ari as-Syafii al-Qadiri.

Dalil yang menguatkan bahwa beliau anak dari Muhammad al-Ghazali ialah perkataan beliau sendiri yang tertulis di muqaddimah kitabnya al-Ajwabah al-Ajibah anil As’ilah al-Gharibah, bunyinya gini:

فيقول أضعف العباد، وأفقرهم إلى رحمة الجواد، أحمد زين الدين بن محمد الغزالي المعبري الشافعي

Adapun nisbat para muallif kitab thabaqat dan sejarah yang menisbatkan beliau kepada syekh Abdul Aziz adalah kesalahan, dan tidak ada asal-usulnya. Syekh Abdul Aziz adalah pamannya, bukan ayahnya. Jadi jangan ada kesalahpahaman lagi diantara penuntut ilmu, ya.

KELAHIRAN

Beliau lahir pada tahun 938 H/1532 M di Chombal menurut pendapat yang lebih kuat. Adapun yang mengatakan beliau lahir di Ponnan adalah pendapat yang lemah. Karena bapak-ibunya bermukim di Chombal, bukan di Ponnan.

Baca Juga >  Kisah 2 Jam Bersama Gus Baha' di Masjid Syaikhona Kholil Bangkalan

MENUNTUT ILMU

Seperti layaknya didikan para ulama terdahulu kepada anaknya, orang tua adalah madrasah pertama bagi sang anak dalam menimba ilmu agama. Setelah ppndasi ilmu agama selesai diajarkan sang ayah, sang anak kemudian diserahkan kepada saudaranya syekh Abdul Aziz yang mengajar di masjid yang dibangun kakeknya di Ponnani (karena dulu masjid adalah madrasah tempat santri belajar dan mengaji). Di masa ini beliau menghafal Alquran dan belajar ilmu-ilmu agama. Hal ini juga merupakan metode yang diberikan para kyai kepada anaknya (para GUS) agar tidak belajar ditempat sendiri, tapi ditempat lain.

Setelah belajar di tanah airnya, mendapatkan ilmu di sana, beliau safar ke tanah suci untuk beribadah haji sekaligus menuntut ilmu di sana. Ini juga marhalah yang diajarkan para ulama terdahulu untuk merantau dalam mencari ilmu di negeri orang setelah menyelwsaikan pendidikan di negeri sendiri.

Di Mekah, beliau belajar dengan Ibnu Hajar al-Haitami, sahabat kakeknya ketika Ibnu Hajar safar ke India dan bermukim di masjid kakeknya di Ponnani. Di sana, sebagaimana yang dinukil dari syekh Abdunnashir al-Malibari mengatakan bahwa para masyayikh di Kerala bilang: “Ibnu Hajar pernah ziarah ke masjid ini, untuk mengajar.” Di sana beliau juga mengarang beberapa fatwanya. Tapi -mohon maaf- kisah kedatangan beliau ke Malibari tidak dikisahkan oleh para ulama tarikh Islam.

Begitu juga beliau belajar dengan syekh Zainuddin bin Abdul Aziz az-Zamzami di Mekah, syekh Wajihuddin Abdurrahman bin Ziyad, syekh Abdurrahman as-Shofawi, dan meminta fatwa dalam beberapa permasalahan kepada Syamsuddin ar-Ramli al-Azhari, al-Khotib as-Syirbini al-Azhari, syekh Abdullah Bamakhramah, dan syekh Abdurrauf bin Yahya al-Makki.

Dalam masalah tasawwuf, beliau berbaiat kepada Sayyid Muhammad bin Abul Hasan al-Bakri as-Shiddiqi, mengambil thariqah Qadiriyah darinya, sebelum sholat Shubuh hari Jumat, 10 Ramadhan 966 H/1587 M, ketika Sayyid bermukim di Mekah.

Setelah pulang dari negeri Hijaz, beliau mengikut kepada para ulama pendahulu untuk mengabdikan diri kepada tanah air tercinta, beliau mengajar fikih, tafsir, hadis, ilmu kalam dan lainnya di Ponnani selama 33-36 tahun. Tidak terhitung berapa banyak para ulama yang keluar dari madrasahnya.

Di antara murid-muridnya ialah: syekh Abdurrahman bin Usman al-Ponani, syekh Jamaluddin bin syekh Abdul Aziz (keponakannya), syekh Qadhi Usman Labba al-Qahiri (nisbat kepada Qahir Fatan, salah satu wilayah India), syekh Qadhi Sulaiman al-Qahiri, dll.

KARANGAN

Beliau meninggalkan beberapa karangan, seperti:

– Qurratul ‘Ain bi Muhimmātiddin;
– Fathul Mu’īn syarah Qurratul ‘Ain;
– Tuhfatul Mujāhidīn fi Ba’dhi Akhbār al-Burtughāliyīn;
– Irsyādul Ibād ilā Sabīl ar-Rasyād;
– Al-Ajwabah al-Ajibah anil As’ilah al-Gharibah;
– Al-Fatāwā al-Hindiyah, dan lain-lain.

AKHIR HAYAT

Beliau wafat pada tahun 1028 H menurut qaul yang rajih sebagaimana yang dituturkan dalam kitab Tuhfatul Akhyar fi Tarikh Ulama Malibar. Adapun yang mengatakan bahwa beliau wafat pada tahun 987 H tidak ada asal-usulnya, karena dalam kitab Tuhfatul Mujahidin beliau sendiri masih menceritakan hingga sampai tahun 991 H. Ada juga yang berpendapat bahwa beliau wafat di tahun 991 H, tahun dimana muallif berhenti menuliskan kisah.

Beliau dimakamkan di samping Masjid Jami’ yang dibangunnya di Kungipalli, Chombal, India, beserta sang istri – jazahullahu khairal jaza -.

Masih banyak kisah historis beliau yang bisa ditulis. Tapi saya mencukupkan sampai di sini saja. Yang mau maklumat tambahan, silahkan rujuk kepada kitab-kitab dan sumber yang tertera di bawah.

Ini posisi tepat dimana beliau dimakamkan via google map:

Demikian profil Syekh Zainuddin Al-Malibari India, Pengarang Kitab Fathul Muin.

Hay Asyir, 25 Januari 2020

Penulis: Amirul Mukminin, Universitas Al-Azhar Kairo Mesir.

Sumber Pustaka:
– Fathul Muin, Muallif;
– Al-Ajwabah al-Ajibah, Muallif;
– Tuhfatul Mujahidin, Muallif;
– Tarikh al-Muslimin fil Hind, Abdul Mun’im Namr;
– Al-A’lam, Az-Zirikli;
– Ad-Dakwah al-Islamiyah wa Tathawwuratiha fi Syubhil Qarah al-Hindiyah, Muhyiddin al-Aliwa’i al-Malibari;
– Nuzhatul Khawathir, Abdul Hay al-Laknawi;
– Tarajim Ulama as-Syafiiyah fiddiyar al-Hindiyah, Abdunnashir Ahmad al-Malibari.