Pesantren Sebagai Pusat Dakwah Islam Indonesia

Pesantren adalah lembaga pendidikan untuk mengetahui dan memahami ajaran-ajaran dalam Islam. Pesantren sendiri telah berperan penting dalam proses pembangunan moral dan akhlak masyarakat, dan berperan dalam proses perubahan sosial pada masyarakat. Di dalam pesantren juga diajarkan dasar-dasar ilmu untuk berdakwah, karena pada dasarnya berdakwah adalah kewajiban yang harus dilakukan ketika para santri sudah terjun ke masyarakat.

Di samping sebagai lembaga pendidikan khususnya agama Islam, pesantren juga berfungsi sebagai salah satu pusat penting bagi pembangunan masyarakat. Terbukti hingga saat ini bahwa pesantren telah berperan sebagai pelayan sosial kepada umat, atau yang sering kita kenal dengan sebutan Khodimul Ummah, antara lain pemberdayaan ekonomi, penguatan kerukunan nasional, peningkatan peran perempuan, serta pelayanan sosial lainnya.

Bacaan Lainnya

Dengan adanya pelayanan sosial maka dari itu orang-orang yang memahami ilmu agama diharuskan mendakwahkan ilmunya dengan lewat lisan, tulisan maupun media sosial. Dan yang paling menonjol pada jaman sekarang ialah melalui media sosial. Dengan begitu siapa saja sekarang lebih mudah untuk melakukan kegiatan berdakwah. Dengan berkembangnya internet dan berbagai aplikasi media sosial membuat pendakwah lebih terbuka dalam berdakwah dan lebih menghemat waktu, dan menghemat biaya. Tetapi dengan memanfaatkan itu juga ada hal negatifnya seperti kurangnya simpati dan perhatian masyarakat, serta kurangnya penjelas akan menimbulkan kesalahpahaman ajaran yang hanya mana masyarakat hanya melihat secara tekstual tanpa ada pemahaman lebih lanjut.

 

Menyingkap Dakwah

Agenda umat Islam yang paling banyak dilakukan adalah dakwah, pendidikan, dan ekonomi. Agenda tersebut merambah ke berbagai bidang kehidupan yang lainnya, seperti pengobatan (baik yang konvesional maupun alernatif). Dakwah berusaha membimbing umat Islam agar kesadaran keagamaannya tumbuh dalam melaksanakan ajaran agama dengan cara yang bijak sehingga memberikan dampak yang positif bagi kehidupan masyarakat luas. Pendidikan kamu muslim dikelola secara profesional dengan memberikan nuansa keagamaan untuk membentuk pribadi yang cerdas, berkarakter positif dan berakhlak mulia. (Bambang S. Ma’arif, Komunikasi Dakwah Paradigma Untuk Aksi, 2010, hal. 1)

Dakwah Islam identik dengan risalah Islamiah yang diemban oleh para rasul. Dalam pengertiannya bahwa ajaran Islam diterima oleh para rasul untuk disebarluaskan kepada pengikutnya, dengan itu kegiatan berdakwah sudah ada sejak jaman Nabi Nuh, Nabi Adam dan Nabi Idris. Dakwah menawarkan pemahaman yang fleksibel artinya, dalam memahami pesan-pesan yang dikemukakan pendakwah, para audiens bebas menafsirkan akan ajaran Islam, mereka memiliki kapasitas yang tidak bisa diabaikan oleh pendakwah (da’i).

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengajak amal sholeh dan berkata: ‘sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerahkan diri’ dan tidaklah sama kebaikan dengan kejahatan. Tolaklah kejahatan itu dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba jika antaramu  dan dia ada permusuhan anggaplah seolah-olh teman yang setia.” (QS. Fussilat: 33-34).

Maksud dari ayat tersebut bahwa dakwah merupakan tugas yang mulia. Siapa yang melakukannya, memperoleh suatu penghargaan langsung dari Allah SWT. Barangsiapa yang gugur di medan dakwah, ia termasuk mati syahid, yang balasannya adalah surga. Dakwah Islam meliputi ajakan, keteladanan dan tindakan konkret untuk melakukan tindakan yang baik bagi keselamatan dunia akhirat. Oleh karena itu, dakwah sangat dianjurkan bagi setiap insan, tetapi harus berlandaskan al-Quran dan menjaga setiap pesan agar tidak menyinggung atau memaksa masyarakat.

Dalam perspektif ilmu sosial, dakwah berperan secara optimal bila masyarakat yang disentuh oleh dakwah berubah dari situasi yang kurang baik menjadi baik, yang sudah baik menjadi lebih baik, yang pasif menjadi aktif, dan yang sudah aktif menjadi lebih aktif. Kondisi tersebut dapat terlaksana apabila dakwah dapat memberdayakan masyarakat, tidak bergantung kepada pihak lain, seperti pemerintah atau lembaga-lembaga formal diluar masyarakat sendiri.

Akan tetapi, tidak harus berarti ia menutup diri memutuskan jalinan kerja sama dengan pihak-pihak luar. Sebaliknya, masyarakat yang sudah aktif itu menyebarluaskan keaktifannya kepada masyarakat yang masih tertinggal sehingga dapat diberdayakan dan tidak melahirkan goncangan-goncangan yang meurunkan martabat kaum muslim yang sudah dicapai oleh alam pembangunan.

Seseorang yang mempunyai ilmu harus berdakwah dan berjuang untuk Islam,terutama para santriatau masyarakat jebolan pesantren, apalagi pemuda yang semangatnya masih tinggi, jangan cuma segelintir masyarakat yang memahami tentang ajaran Islam. Tapi berusahalah membuat semua orang memahami Islam. Ungkapan tersebut tercermin di benak penulis dari ungkapan salah satu tokoh berpengaruh dari kalangan santri yakni KH. Zaini Mun’im (1906-1976) pendiri pondok pesantren Nurul Jadid di Probolinggo Jawa Timur yang menyatakan “Siapa yang hidup di Indonesia, kemudian dia tidak melakukan perjuangan, dia telah berbuat maksiat. Orang yang hanya memikirkan ekonominya saja dan pendidikannya sendiri, maka orang itu telah berbuat maksiat. Kita semua harus memikirkan rakyat banyak.” (Majalah Bangkit, Edisi 11, 2015).

Kyai Zaini Mun’im mengajak semua warga bangsa Indonesia untuk selalu terlibat dalam memikirkan rakyat banyak, bukan malah terjebak dalam kesendiriannya. Karena dalam sepanjang sejarahnya, pesantren selalu bergerak untuk terlibat dalam berbagai persoalan masyarakat. Bukan saja terkait dengan pendidikan agama, namun pesantren juga terlibat dalam pembangunan ekonomi, gerakan seni dan budaya, begitu pula kesehatan masyarakat. Ungkapan inilah yang kiranya sangat penting bagi penulis khususnya para penerus bangsa untuk bersama-sama berjuang dan mewakafkan dirinya demi bangsa dan negara agar supaya menjadi baldatun tayyibatun wa rabbun ghafur dalam artian menjadi negeri yang baik dan mendapat pengampunan dari Tuhan semesta alam (Q.S. Saba’ ayat 15).

Namun dalam berdakwah, pendakwah atau da’i harus mempunyai sifat spirit yang kuat menyebarluaskan agama Islam, meskipun aral menghadang tetap memiliki stamina yang tinggi, selalu mengagungkan nama Allah Swt dalam berbagai kegiatan dakwahnya, menjauhkan diri dari perbuatan dosa, da’i perlu introspeksi diri dalam kehidupan sehari-hari, apa yang belum baik ia perbaiki jadi tidak hanya ngomong tetapi juga dengan bukti tingkah laku.

Dan lagi, da’i harus mempunyai sifat tanpa pamrih, maksut disini pendakwah dalam menyebarluaskan ilmu agama harus dengan ikhlas, tidak memikirkan duniawi. Serta yang paling penting ialah sifat sabar, karena di dalam dunia dakwah ada suka dan dukanya, yang terkadang audiens juga tidak simpatik atau tidak respon atas apa yang kita sampaikan. Da’i harus tetap sabar karena dapat melahirkan sikap optimis, masyarakat muslim selalu menunggu kehadiran da’i yang memenuhi kriteria tersebut.

Dari sini, tujuan dakwah ialah menciptakan suatu tatanan kehidupan individu dan masyarakat yang aman, damai, dan sejahtera yang dinaungi oleh kebahagiaan, baik jasmani maupun rohani.

(Penulis: Aldino Maulana Rifki, Mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Sekolah Tinggi Agama Islam Sunan Pandanaran, Yogyakarta).

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *