Obat Kikir Paling Utama Hanyalah dengan Berbagi

Obat Kikir Paling Utama Hanyalah dengan Berbagi

Obat Kikir Paling Utama Hanyalah dengan Berbagi

Satu-satunya Obat Kikir Hanyalah dengan Berbagi (Memberi)

Obat Kikir Paling Utama. Nabi Saw bersabda: “Wahai manusia! siapa yang memberi buka puasa diantara kalian kepada orang mukmin yang berpuasa di bulan ini maka ia mendapat pahala sisi Allah seperti memerdekakan budak dan mendapatkan ampunan-Nya terhadap dosa-dosanya yang telah lalu.”

Lalu para sahabat berkata: “Ya Rasulullah tidak semua dari kami mampu melakukan itu?”

Lalu Rasulullah saw menjawab: “Takutlah kalian kepada Allah swt walau hanya sebiji Kurma. Takutlah kepada Allah swt walau hanya seteguk air. Karena sesungguhnya Allah memberi pahala yang sama bagi orang yang melakukan amal kebaikan yang kecil, bila belum mampu melakukan amal yang lebih besar.”

Hadis ini terkait dengan pembahasan tentang orang-orang yang memberi buka puasa kepada orang mukmin yang berpuasa, nilai pahalanya begitu besar namun ternyata sebagian sahabat belum mampu melakukannya.

Pertanyaan sahabat kepada Rasulullah saw pada hakikatnya ingin mencari solusi bagi mereka yang tidak mampu namun ingin mendapatkan pahala yang sama. Dan Rasulullah saw, bila ditanyakan hal-hal demikian selalu memberi solusi.

Riwayat ini juga ini menegaskan bahwa amal kebaikan bukan dilihat dari bentuknya, apakah harganya mahal atau murah tetapi motivasi yang mendorong seseorang untuk melakukan itu. Apakah didasarkan pada riya’ atau karena mengejar Ridha Allah. Dalam hadis انما الأعمال باالبيات disebutkan segala amal tergantung pada niatnya.

Ketika Imam Ja’far ash-Shadiq ditanya buat apa Allah swt mewajibkan hamba-Nya puasa di bulan Ramadhan?

Beliau menjawab: “Agar orang-orang kaya merasa penderitaan orang-orang yang lapar-miskin. Allah ingin menyamakan kedudukan orang kaya dengan orang miskin dengan berpuasa.”

Ketika Nabi Yusuf as menjadi menteri Logistik, yang berhasil menyelamatkan ekonomi Negara dari deficit besar, ia berpuasa hampir setiap hari. Ketika orang bertanya kepadanya mengapa selalu berpuasa? Ia menjawab pendek, “Aku takut kenyang dan melupakan orang yang lapar (haus).”

Jadi puasa pada hakikat adalah bulan pengkhidmatan (berbagi) kepada sesama manusia.

Allah menghendaki orang kaya membagi-bagikan hartanya di bulan ini, Allah bermaksud agar pejabat tidak lagi selalu dilayani tetapi memberi pelayanan langsung terhadap orang lain, Allah berkeinginan agar manusia saling berbagi di bulan ini.

Dalam al-Qur’an khidmat itu sering digunakan dengan kata jihad, jihad dilakukan dengan dua hal: bi amwaliku wa anfusikum (dengan harta dan diri kalian).

Al-Qur’an mendahulukan kata amwalikum daripada anfusikum sebab manusia biasanya lebih mencintai harta daripada keselamatan dirinya, segalanya ia bisa korbankan kecuali hartanya. Bila manusia diberi pilihan memberi bantuan dengan harta atau tenaga. Pada umumnya akan memilih memberi bantuan tenaga.

Oleh karena itu, kata amwalikum didahulukan daripada anfusikum. Tujuannya agar manusia tidak terikat pada hartanya, sebab terikat pada materi adalah sumber/pangkal kesalahan.

Al-Qur’an surah al-Taubah ayat 103, Allah swt berfirman:

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Artinya: “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu menjadi ketentraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha mengetahui.”

Kata ulama, bahwa pada saat kita mengeluarkan zakat, infak, sedekah pada saat itu keluarlah sifat-sifat negatif dalam diri kita, utamanya sifat bakhil. Jadi kedermawanan dengan kesucian hati sangat berhubungan. Maka orang yang dermawan maka hatinya akan disucikan dari sifat bakhil.

Bukankah yang membuat kita kikir karena sifat negatif yang ada dalam hati kita? Maka bila mengeluarkan harta kita, bersamaan dengan itu Allah keluarkan pula penyakit hati kita.

Kebakhilan hanya bisa diobati dengan kedermawanan.

Maka hilangkanlah sifat-sifat negatif dalam diri kita dengan cara berbagi kepada sesama manusia.

Jadi Nabi saw bersabda, “takutlah kalian kepada Allah walau hanya sebiji kurma dan seteguk air.”

Bila hal-hal sederhana manusia begitu kikir maka terlebih lagi pada hal-hal yang lebih besar. Bila tidak mampu melakukan yang lebih besar maka mulailah dari hal yang kecil dan itupun pahalanya sama di sisi Allah swt, tergantung niatnya.

Demikian ulasan khusus terkait Obat Kikir Paling Utama Hanyalah dengan Berbagi. Semoga bermanfaat.

Penulis: Muhammad Tahir Alibe.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *