kiai afif

Ngaji Ushul Fiqh Bersama KH Afifuddin Muhajir Sukorejo Situbondo (1)

Posted on

Tiga stratifikasi ijtihad. Ilmu ushul Fiqh adalah ilmu tentang kaidah-kaidah memahami Islam.

Dalam ilmu ushul fiqh, ijtihad adalah kajian yang tidak terlewatkan. Meskipun belum mencapai derajat ijtihad, mengkaji ijtihad Tidak masalah, sebagaimana santri mengkaji zakat Dan haji tapi belum wajib berzakat Dan berhaji.

Ijtihad adalah mencurahkan segala kemampuan untuk menetapkan hukum syara’ berdasarkan istinbath (اخراج الأحكام من النصوص : mengeluarkan hukum Dari nash-dalil-sumbernya). Ijtihad ini dikhususkan bagi orang yang mampu memenuhi syarat ijtihad, bukan kepada sembarang orang.

Tiga Stratifikasi Ijtihad

Pertama, ijtihad bayani (اجتهاد بياني).
Ijtihad bayani adalah mengeluarkan hukum Dari Nash (استنباط الأحكام من النصوص).
Ijtihad bayani ini Ada beberapa cara:

1. Memahami kaidah-kaidah bahasa, seperti amar, nahyi, muthlaq, muqayyad, mujmal, mubayyan, mafhum, manthuq, majaz, haqiqah, kinayah, Dan lain-lain.

2. Mengetahui sebab turunnya Al Qur’an (سبب النزول) Dan sebab turunnya hadis (سبب الورود).

3. Mengaitkan sebagian Nash dengan sebagian yang lain (ركن النصوص بعضها ببعض).

Contoh:

احل لكم بهيمة الانعام إلا ما يتلي عليكم

Dihalalkan bagimu hewan ternak kecuali hewan yang dibacakan padamu

Ayat ini dikaitkan dengan Ayat :

حرمت عليكم الميتة والدم ولحم الخنزير وما اهل به لغير الله

Diharamkan padamu bangkai, darah, daging babi, Dan hewan yang disembelih untuk selain Allah

Jadi: yang dimaksud Ayat إلا ما يتلي عليكم adalah bangkai, darah, Dan seterusnya.

Hadis Nabi:

كل بدعة ضلالة وكل ضلالة في النار

Setiap bid’ah (Hal baru dalam semua Hal) adalah sesat Dan setiap kesesatan di neraka

Hadis ini dikaitkan dengan hadis:

Baca Juga >  Ngaji Kitab al-Adab (07): Izin Orang Tua, Baru Boleh al-Jihâd fî Sabîlillâh

من احدث في امرنا هذا ما ليس منه فهو رد

Siapa yang membuat hal baru dalam masalah kami ini yang tidak termasuk di dalamnya, maka Ia ditolak

Jadi: yang dimaksud bid’ah dalam hadis pertama adalah bid’ah dalam masalah Agama (بدعة دينية), bukan bid’ah Ekonomi, teknologi, politik, dan lain-lain.

4. Menghubungkan Nash dengan maqashidus syariah (tujuan syariat Islam): ربط النصوص بالمقاصد
Contoh:
Hadis Nabi:

لا يبولن احدكم في الماءالراكد

Sungguh janganlah salah satu kamu semua kencing di air yang diam (Tidak mengalir).

Jika dipahami secara tekstual, maka yang dilarang adalah kencing di air yang tidak mengalir. Sedangkan buang air besar tidak dilarang.

Namun, jika dihubungkan dengan maqashidus syariah, maka bisa dipahami maksud hadis adalah larangan pencemaran air, maka segala hal yang mencemari air seperti buang air besar adalah larangan.

5. Ta’wil : memahami nash dengan makna marjuh (tidak unggul) karena Ada dalil. Dalam teori, tafsir didahulukan dari ta’wil (التفسير مقدم علي التاءويل).

Contoh:

يد الله فوق أيديهم

Kata يد الله Tidak dimaknai dengan organ tubuh (tangan) karena Allah berbeda dengan makhluk (مخالفة للحوادث). Sehingga kata يد الله dimaknai dengan kekuasaan atau kekuatan Allah (القوة، القدرة).

Kendal, PP Apik Kaliwungu,
Sabtu, 14 Desember 2018

(Penulis: Jamal Ma’mur Asmani, Pati)