sunan kalijaga

Makna Tasawuf dalam Tembang “Sluku-sluku Bathok”

Posted on

Sluku-sluku bathok,
Bathoke ela-elo,
Si Rama menyang Solo,
Oleh-olehe payung motho,
Mak jenthit lolo lo bah,
Wong mati ora obah,
Yen obah medeni bocah,
Yen urip goleko duwit.

“Sluku-sluku bathok”, berasal dari bahasa arab Ghuslu-ghuslu batnaka, artinya mandikanlah/bersihkanlah batinmu. Membersihkan batin dahulu sebelum membersihkan badan atau raga. Seperti dalam lagu Indonesia Raya: Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya, sebab lebih mudah membersihkan badan dibandingkan membersihkan batin atau jiwa.

Jadi makna dari larik itu adalah berupa perintah agar mencegah hawa nafsu terutama yang berkaitan dengan isi perut karena perut merupakan gambaran dari mikrokosmos. Di dalam perut dapat ditemukan jagad cilik yang menggambarkan alam semesta. Hal ini dapat disejajarkan dengan lakon wayang “Dewa Ruci”.

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

Pada lakon tersebut, Bima digambarkan masuk ke dalam perut Dewa Ruci. Di sana Bima dapat melihat alam semesta yang utuh. Di samping itu, membersihkan perut juga dapat berarti mengheningkan cipta atau menyucikan hati dengan menyebut lafal:

“Bathoke ela-elo”, berasal dari bahasa Arab: batnaka La Ilaha Illallah, maksudnya; hatinya senantiasa berdzikir kepada Allah, diwaktu senang maupun susah, dikala menerima nikmat maupun musibah, sebab setiap peristiwa yang di alami manusia, pasti menggandung hikmah. Larik itu pada hakikatnya merupakan kalimat tauhid yang dalam sufisme Jawa ketika berdzikir seyogyanya dengan mengucap Lailaha ilallah.

Hal ini berarti kita membersihkan batin (mengheningkan cipta) disertai dengan falsafah eling/sadar. Sehingga manusia akan selalu menyadari sampai di lubuk hatinya bahwa tidak ada Pangeran, “Tuhan”, kecuali Allah ta’ala. Kalimat tauhid tersebut dalam agama Islam sering disebut Kalimat Syahadat.

“Si rama menyang sala”, siruma yasluka yang dapat berarti dari kata salaka “berjalanlah” di jalan yang dijalani oleh Nabi SAW. Dalam mengimani sebuah keyakinan tidak cukup hanya disertai dengan sikap eling “sadar” saja. Karena masih perlu digenapi dengan larik:

“Oleh-olehe payung motha”, la ilaha ilallah hayyum wal mauta. Artinya, selalu lafalkanlah “La ilaha ilallah” sejak dini sampai maut menjemput agar mendapatkan kematian yang khusnul khotimah. Manusia hidup di dunia tidak hanya sekedar memburu kepentingan duniawi saja tetapi hendaknya juga kepentingan di akhirat. Sampai pada tataran tersebut, manusia belum dapat mencapai kesempurnaan kalau belum dapat melakukan seperti pada larik:

“Mak jenthit lo lo lo bah”, mandzolik muqorobah. Kata mandzolik berasal dari kata mandzalika yang berarti berhati-hatilah dengan kesalahanmu. Frasa mak jenthit berasal dari perubahan kata mukhasib yang berarti “berhitunglah dari segala kesalahanmu”.

Kata muqorobah dapat diartikan “intropeksi, mawas diri”, atau “meneliti segala kesalahan yang pernah diperbuat”. dengan demikian dapat dikatakan bahwa manusia hidup harus selalu dapat mengoreksi diri dari kesalahan yang diperbuatnya. Atau dengan kata lain adalah bertaubat.

Orang yang mau mengakui kesalahannya dapat disebut sebagai satriya pinandhita “satria yang berwatak pendeta atau orang yang mempunyai kelebihan”.

Baca Juga >  Kalimosodo, Jimate Wong Jowo

Orang yang sudah mencapai tataran seperti itu dapat disebut sebagai manusia yang selalu dapat menjaga perdamaian dunia dan selalu dapat menjaga perdamaian batin, baik terhadap dirinya sendiri maupun terhadap alam semesta sehingga ia telah mampu memayu hayuning bawana “menciptakan ketentraman dunia.”

Orang yang berwatak satriya pinandhita selalu mendasari dirinya dengan sikap religius. Hal ini diungkapkan dalam larik:

“Wong mati ora obah” “hayun wal mauta innalillah”. Artinya, mati dan hidup adalah milik Allah. Dalam falsafah orang Jawa, manusia harus sudah mengetahui sangkan paraning dumadi asal dan tujuan orang hidup. Hal ini tergambar dalam larik “wong mati ora obah” “mahabbatan mahrojuhu taubah” yang berarti hendaknya berbakti kepada Yang Membuat Hidup agar dicintai. Agar dikasihi Allah, manusia harus “mahrojuhu” atau mencari jalan terang melalui jalan pertobatan.

Dengan bertobat, manusia diharapkan dapat mendekat pada pangeran, “Tuhan”.

Disamping itu, ia harus mengetahui tujuan hidup manusia melalui manunggaling kawula Gusti bersatunya manusia dengan Tuhan. Untuk mencapai tataran itu, manusia harus selalu pasrah sumarah, pasrah dengan segenap hati terhadap kodratnya. Agar dapat pasrah dengan segenap hati, manusia harus memahami arti kehidupan seperti yang tergambar dalam larik:

“Yen obah medeni bocah”, Mahabbatan mahrajuhu taubah. Maka, bercintalah dengan kecintaan menuju taubat. Selagi masih diberi kesempatan oleh Allah untuk hidup di dunia ini. Jangan pernah putus asa dalam menggapai rahmat dan maghfirah-Nya. Saat kematian datang, semua sudah terlambat. Kesempatan beramal hilang. Banyak ingin minta dihidupkan tapi Allah tidak mengijinkan. Jika mayat hidup lagi maka bentuknya menakutkan dan mudharat-nya akan lebih besar.

“Yen urip goleka dhuwit”, Yasrifu innal khalaqna insana min dhafiq, kata “yasrifu” bermakna bahwa hidup manusia dapat mencapai kemuliaan dengan cara selalu mengingat perintah Allah. Oleh karena itu, manusia tidak diperkenankan sombong. Ingatlah sungguh manusia diciptakan dari air yang memancar. Maksudnya, manusia diciptakan dari ketiadaan dan kehinaan. Oleh karena itu untuk memperoleh kemulyaan harus dengan berjalan di jalan Allah. Kesempatan terbaik untuk berkarya dan beramal adalah saat ini. Saat masih hidup.

Pengin kaya, pengin membantu orang lain, pengin membahagiakan orang tua: sekaranglah saatnya. Sebelum terlambat, sebelum segala pintu kesempatan tertutup. Didalam tembang dolanan tersebut di atas mengandung filsafat luhur orang Jawa. Orang jawa menyadari sikap pasrah dengan bentuk pasrah sumarah dan pertobatan (mau menyadari kesalahannya).

Dengan sikap seperti itu, orang Jawa diminta dapat memayu hayuning bawana “menjaga ketentraman dunia” sehingga kelak dapat bersatu dengan Tuhan atau manunggaling kawula lawan Gusti. Dengan demikian, ia dapat disebut manusia mulia atau manusia sejati.

(Penulis: Aji Kusuma)